Rifan Financindo – Palembang – Kepala Ekonom Bank Danamon Anton Hendranata menilai ekonomi Indonesia tidak akan terpengaruh kondisi politik tahun 2018 dan tahun 2019 karena keduanya akan berjalan sendiri-sendiri.

“Hipotesa saya, ekonomi jalan sendiri, politik jalan sendiri. Artinya dikapling. Orang partai pasti juga tidak mau hancur-hancuran kan ekonominya,” ujar Anton saat diskusi dengan awak media di Jakarta, Rabu.

Menurut Anton, pemerintah justru harus fokus menjaga momentum perbaikan ekonomi yang mulai meningkat pada triwulan III-2017 dan dapat berlanjut pada 2018.

“Mudah-mudahan momentum ini tetap terjaga. Triwulan IV saya prediksi kurang lebih sama dengan triwulan II, pada 2018 naik lagi meskipun tensi politik naik,” kata Anton.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri sejak 2014 berkutat di kisaran lima persen. Pada 2014 ekonomi tumbuh 5,01 persen, lalu turun pada 2015 menjadi 4,88 persen dan meningkat kembali menjadi 5,02 persen pada 2016.

Sementara itu, pada triwulan I dan II 2017 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,01 persen, lalu sedikit meningkat pada triwulan III menjadi 5,06 persen. Anton memprediksi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2017 akan mencapai 5,04 persen.

Sedangkan pada 2018 Anton memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mencapai 5,27 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan target dalam APBN 2018 5,4 persen.

“Pilkada 2018, Pileg dan Pilpres 2019, Asian Games, dan Meeting IMF-World Bank akan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi lebih baik dibanding tahun lalu,” ujar Anton.

Untuk nilai tukar, Anton memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan mencapai Rp13.575 per dolar AS, lebih lemah dibandingkan asumsi dalam APBN 2018 Rp13.400 per dolar AS.

Sementara untuk inflasi, ia juga memprediksi inflasi mencapai 3,64 persen lebih tinggi dibandingkan asumsi APBN 3,5 persen.

“Inflasi tetap akan terkendali, dengan catatan ‘administered prices’ tidak naik,” kata Anton.

Selain itu, suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7-day Reverse Repo Rate akan tetap di posisi 4,25 persen hingga akhir tahun. Namun, pemerintah juga perlu mewaspadai apabila suku bunga acuan Bank Sentral AS The Fed atau Fed Fund Rate naik dan The Fed mengurangi asetnya secara agresif.

(rzy)

Sumber : Okezone

Rifan Financindo