RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Krisis utang Yunani terbaru dan penurunan di pasar saham Tiongkok selalu menjadi berita utama dan membuat Wall Street cemas, tetapi untuk beberapa warga Amerika hal tersebut tidak terlalu berdampak pada kehidupan mereka sendiri.

Perekonomian Amerika, dimana merupakan yang terbesar di dunia, telah kembali pulih setelah pembekuan musim dingin. Perusahaan menambahkan lebih dari 200.000 pekerjaan per bulan, kepercayaan konsumen berada pada pasca-resesi tinggi dan warga Amerika melakukan pembelanjaan sedikit lebih banyak. AS siap untuk tumbuh hampir 3% pada kuartal kedua setelah mengalami kontraksi 0,2% dalam tiga bulan pertama tahun ini.

Putaran terakhir laporan minggu ini harus dapat meningkatkan pandangan ekonomi bahwa perekonomian terus berkembang, cukup sebagai bukti sehingga Federal Reserve dapat bersiap-siap untuk menaikkan suku bunga.

Penjualan ritel AS cenderung naik pada bulan Juni, meskipun tidak secepat pada bulan Mei. Pembangunan rumah baru mungkin naik bulan lalu, dan produsen masih tumbuh meskipun dolar yang kuat telah membatasi ekspor.

Ekonomi AS ?terpantau stabil dan cukup baik dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global,? kata Gregory Daco, kepala makroekonomi di Oxford Economics AS.

Sementara lowongan pekerjaan berada pada rekor tinggi, perusahaan tidak mengisinya secepat itu. Tingkat pengangguran tampak mengesankan di titik 5,3%, tapi itu bisa mencapai 10,5% jika termasuk semua orang yang menginginkan pekerjaan full time tetapi tidak dapat menemukannya.

Sebagian besar ekonom dan pejabat senior di Federal Reserve melihat hasil tersebut masih kecil dan jauh bahkan walau mereka terus memantau perkembangan terbaru. Dalam pidato Jumat lalu, Ketua Fed, Janet Yellen, menyiratkan bahwa ekonomi AS sudah cukup kuat untuk menjamin terjadinya kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.

SUMBER : http://financeroll.co.id/news/ekonomi-amerika-membaik-di-tengah-krisis-yunani-dan-tiongkok/