PT Rifanfinancindo – JAKARTA – Guna mengoptimalkan peran pasar modal dan mendorong investor lokal berinvestasi di pasar saham, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) ditantang untuk segera mendesain instrumen investasi yang bisa memberikan imbal hasil (yield) minimal setara dengan keuntungan yang diperoleh investor dari bursa Singapura.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan, pasar modal Indonesia harus lebih unggul dari Singapura dan termasuk di dalamnya menawarkan imbal hasil yang setara dengan produk investasi di sana atau di negara lainnya.

?Kunci bagaimana agar saham bisa menarik dana repatriasi adalah instrumen investasi di pasar modal Indonesia harus memberi yield yang minimal sama dengan Singapura atau negara lain di luar,” ujarnya di Jakarta.

Dirinya menilai, hingga saat ini instrumen penempatan modal yang paling menarik di mata investor asing adalah saham, namun BEI juga diminta untuk mendorong pelaksanaan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).

“Selain saham, ada juga bonds atau instrumen lain yang ada di perbankan. Tapi, IPO harus banyak. Calon investor tidak akan tertarik kalau sahamnya itu-itu saja. Kalau banyak IPO, orang akan tertarik,” tuturnya.

Menurutnya, ketertarikan investor terhadap instrumen saham sangat terkait erat dengan peluang imbal hasil yang tidak terbatas.

“Kalau di bonds atau di instrumen perbankan masih terbatas. Jadi, amnesti pajak diharapkan bisa jadi terobosan agar bursa saham kita bisa kinclong,” kata Bambang.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Bidang Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Nurhaida pernah bilang, pihaknya mendorong perusahaan sekuritas dan manajer investasi bisa mengeluarkan produk investasi yang memiliki daya tarik dan mengundang minat investasi secara berkelanjutan.

Dijelaskan Nurhaida, hal ini dirasakan penting untuk mengoptimalkan penyerapan dana repatriasi tax amnesty yang deras masuk ke pasar modal.

Menurutnya, potensi masuknya dana repatriasi dari kebijakan amnesti pajak berpotensi memicu penggelembungan (bubble) harga saham jika tidak dibarengi upaya mengkreasi instrumen investasi di pasar modal.

?Dalam rangka market deepening, kebijakan tax amnesty ini sejalan dengan program pendalaman pasar keuangan. Tanpa supply dan demand yang seimbang, ini bisa terjadi bubble harga saham,” ungkapnya.

Nurhaida menambahkan, agar dapat mengakomodir kebutuhan calon investor yang akan menempatkan dananya disini, maka produk-produk investasi yang ada di pasar modal juga perlu ditambah.

“Kami berharap dana repatriasi bisa meningkatkan permintaan terhadap produk di pasar modal,” tuturnya.

OJK, lanjutnya, akan terus mendorong agar supply instrumen investasi selain saham dan obligasi agar dapat menampung demand yang masuk.”Maka kita perlu mendorong supply, agar tidak terjadi leg antara supply dan demand, apakah saham atau obligasi. Saat ini pasar modal yang sudah berevolusi menjadi tempat bagi dana repatriasi,” jelas Nurhaida.

(dni – Rifanfinancindo)

Sumber : Okezone