PT Rifan Financindo, NEW YORK – Kurs dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama di New York pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena investor mencerna komentar-komentar Ketua Federal Reserve Janet Yellen selama kesaksian semi-tahunannya di hadapan Senat.

Dalam kesaksiannya di depan Komite Perbankan Senat AS pada Selasa, Yellen menegaskan kembali pendekatan hati-hati untuk menaikkan suku bunga yang bank sentral isyaratkan pekan lalu setelah pertemuan kebijakannya.

Dia mengatakan bahwa bank sentral memperkirakan suku bunga “tetap rendah” untuk beberapa waktu, dalam pandangan ekonomi global yang lemah dan pertumbuhan produktivitas lamban.

Sementara itu, referendum Inggris yang dipantau cermat akan diselenggarakan pada Kamis untuk memutuskan apakah Inggris harus meninggalkan atau tetap di Uni Eropa.

Jajak pendapat baru yang dirilis akhir pekan lalu menunjukkan mereka yang ingin tinggal di Uni Eropa memegang mayoritas tipis atas kubu “meninggalkan”. Jajak pendapat menunjukkan ayunan kembali ke “tetap” setelah pembunuhan politisi Inggris pro Uni Eropa, Jo Cox.

Pada akhir perdagangan New York, euro jatuh ke 1,1259 dolar dari 1,1313 dolar pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,4677 dolar dari 1,4674 dolar. Dolar Australia naik menjadi 0,7470 dolar dari 0,7458 dolar.

Dolar dibeli 104,76 yen Jepang, lebih tinggi dari 103,93 yen pada sesi sebelumnya. Dolar merosot menjadi 0,9613 franc Swiss dari 0,9627 franc Swiss, dan sedikit menurun menjadi 1,2794 dolar Kanada dari 1,2809 dolar Kanada.

(rzy)

Sumber : Okezone

 

Harga Minyak Dunia Hambat Penerapan Biosolar B20

JAKARTA – Pemerintah pada Januari lalu telah meresmikan program B20. Dalam program ini, bahan bakar minyak jenis solar akan dicampur dengan minyak kelapa sawit sebesar 20 persen. Sehingga persentase solar dalam penggunaan konsumsi hanya mencapai 80 persen.

Namun, berdasarkan rapat koordinasi dengan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution beberapa waktu lalu, Direktur Utama BPDP Sawit Bayu Krisnamurthi, saat ini program B20 telah dilaksanakan dengan penggunaan biosolar baru mencapai sebesar 18,6 persen.

Menanggapi hal ini, Menteri ESDM Sudirman Said mengungkapkan bahwa penerapan program ini terkendala harga minyak dunia yang rendah. Akibatnya, masyarakat lebih memilih menggunakan solar biasa ketimbang menerapkan program B20 yang membutuhkan biaya lebih tinggi.

[Baca juga: Program B20 Baru Mencapai 18,6%]

“Sekarang kan tantangannya harga minyak sedang rendah. Ini yang menjadi kendala,” kata Sudirman dalam acara media gathering di Kantor Pusat Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/6/2016).

Namun, lanjutnya, pemerintah tetap melakukan pengawasan terhadap program ini. Ditargetkan, program ini nantinya tetap berkembang hingga nantinya akan ditingkatkan menjadi B25 pada tahun 2020 mendatang.

“Kita punya data yang akan digunakan untuk melihat laporan itu. Yang paling penting kita terima laporan dari Pertamina. Memang kita akan kontrol di lapangan,” tegasnya.

(rai)

Sumber : Okezone