PT Rifan Financindo – PALEMBANG – Kurs dolar AS melemah untuk sesi ketiga berturut-turut terhadap sebagian besar mata uang utama pada Kamis (Jumat pagi WIB), di tengah meningkatnya ketidakpastian tentang pemilihan presiden AS pekan depan.

Greenback telah bertahan di tertinggi delapan bulan, karena spekulasi pasar untuk kenaikan suku bunga pada Desember setelah calon Demokrat Hillary Clinton memenangkan pemilu.

Namun, investor yang lama mempertahankan spekulasi kemenangan Clinton telah terguncang sejak Biro Investigasi Federal (FBI) pada Jumat lalu 28 Oktober 2016, mengumumkan rencana untuk menyelidiki surat elektronik yang baru ditemukan terkait dengan Clinton.

Keunggulan Clinton atas rivalnya dari Republik, Donald Trump, telah menyempit secara signifikan sejak berita itu pecah pada Jumat lalu, menurut data dari RealClearPolitics.

Para analis mengatakan greenback di bawah tekanan karena pasar mulai mempertimbangkan calon presiden Trump.

Di sisi ekonomi, dalam pekan yang berakhir 29 Oktober, angka pendahuluan untuk klaim pengangguran awal yang disesuaikan secara musiman mencapai 265.000, meningkat 7.000 dari tingkat belum direvisi pekan sebelumnya sebesar 258.000, Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan Kamis.

Indeks non-manufaktur, yang mengukur aktivitas di sektor jasa AS, tercatat 54,8% pada Oktober, 2,3 persentase poin lebih rendah dari angka September dan jauh di bawah konsensus pasar, Institute for Supply Management (ISM) mengatakan dalam survei bulanannya.

Indeks dolar, yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,24% menjadi 97,168 pada akhir perdagangan.

Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,1104 dari USD1,1096, dan pound Inggris naik menjadi USD1,2460 dari USD1,2294. Dolar Australia naik menjadi USD0,7680 dari USD0,7661.

Dolar dibeli 103,00 yen Jepang, lebih rendah dari 103,28 yen di sesi sebelumnya. Dolar AS naik tipis menjadi 0,9744 franc Swiss dari 0,9728 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3400 dolar Kanada dari 1,3388 dolar Kanada.

(rai)

Sumber : Okezone