RIFAN FINANCINDO BERJANGKA -?Berbicara tentang Pasar Modal tidak selalu tentang fokus untuk mendapat keuntungan yang besar semata, bukan juga berkutat tentang harga beli rendah dan harga jual yang sengaja dinaikkan setinggi langit. Sama halnya dengan bank konvensional yang juga punya bank syariah, pasar modal juga punya cabang yang berbentuk syariah dalam menjalankannya. Bedanya antara konvensional dan syariah sudah jelas pasti mengenai cara menjalankannya, hukum yang dianut dan juga para pelaku yang terlibat dalam kegiatan di dalam pasar.

Secara umum memang pasar syariah ini punya peraturan yang sebagian besar sama dan dia tidak berdiri sendiri namun masih berada pada satu wadah yaitu Pasar Modal. Untuk mengenal apa itu pasar dengan kaidah syariah, tidak ada salahnya mari melihat padaawal mula terbentuknya pasar syariah dan lembaga apa saja yang menaunginya.

 

Sejarah Pasar Modal Syariah

Sekarang coba lihat bagaimana pasar syariah ini dulu terbentuk:

– Pasar yang berjenis syariah ini dulunya terbentuk berasal dari terbitnya Reksa Dana Syariah

– Kemudian Reksa Dana Syariah bekerja sama dengan Bursa Efek Jakarta.

– Dilanjutkan dengan adanya keputusan dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia yang berkaitan dengan Pedoman Pelaksanan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah.

– Seiring dengan bertambahnya nilai saham syariah maka dilanjutkan dengan adanya Obligasi Syariah PT. Indosat Tbk pada awal September 2002.

Dengan demikian, jenis pasar ini mulai beroperasi dengan adanya peraturan dan ketentuan pemerintah yang mengatur mengenai apa saja produk-produk yang ada di bidang syariah dan bagaimana peraturan dalam system jual belinya. Salah satu produk pasar modal syariah adalah tentang saham syariahnya. Semua saham tentunya mempunyai pengertian dan fungsi yang sama dimana saham merupakan jenis surat berharga yang digunakan oleh para pemilik perusahaan atau emiten untuk kemudian dijual kepada para investor.

Berdanya terletak pada proses terjadinya jual beli atau tawar menawar. Dalam syariah tidak boleh ada pihak yang merasa dirugikan dan tidak boleh ada pihak yang meraup keuntungan terlalu besar dari saham yang dijualnya. Untuk menghindari akibat yang tadi sudah disebutkan, maka harus ada sistem yang disebut dengan musyawarah atau kesepakatan antara dua pihak. Tentunya ini akan bisa tercapai jika kedua pihak mau secara terbuka tentang semua informasi terkait saham dan keadaannya dalam bursa efek.

Dengan demikian sudah jelas bahwa ada perbadaan antara pasar yang bersifat konvensional dengan pasar modal syariah. Produk-produk syariah juga tidak bisa sembarangan dikeluarkan oleh sembarang pihak. Emiten yang mengeluarkan produk harus benar-benar yang menerapkan prinsip-prinsip syariah dan tidak melanggarnya. Antara lain tidak menjudikan uang saham, tidak melakukan penawaran yang bersifat menipu, tidak melakukan jual beli tanpa adanya barang atau jasa yang jelas, atau melakukan kegiatan yang berkaitan dengan barang yang haram atau dilarang agama, seperti minuman keras.

Syariah sendiri artinya menjaga bahwa segala jenis usaha akan berjalan tanpa melanggar larangan agama dan juga mencegah para pelau bisnis berlaku curang. Maka sangat dibutuhkan pengetahuan yang cukup jika seseorang ingin menjalankan bisnis dengan acuan kaidah syariah. Orang yang sudah paham dengan aturan syariah pastinya akan merasa lebih aman dan nyaman melakukan proses transaksi menggunakan peraturan syariah karena sudah terjamin asal saham dan berapa banyak keuntungan yang akan diperoleh dari transaksi yang dilakukan di pasar modal.