PT Rifan Financindo – JAKARTA ? Perekonomian Rusia kini tengah mengkhawatirkan. Pasalnya, negara tersebut mempunyai masalah mengenai uang tunai yang kian menipis.

Setelah hampir dua tahun berada dalam resesi, dana darurat atau cadangan negara itu telah menyusut menjadi hanya USD32,2 miliar pada bulan ini, menurut Kementerian Keuangan Rusia. Angka tersebut lebih rendah dibanding bulan yang sama dua tahun lalu USD91,7 miliar, tepat sebelum harga minyak mulai runtuh.

Analis memperkirakan dana tersebut akan menyusut menjadi hanya USD15 miliar pada akhir tahun ini dan semakin kering sepenuhnya segera setelah itu.

“Pada tingkat saat ini, dana tersebut akan habis pada pertengahan 2017, mungkin beberapa bulan kemudian,” kata Kepala Ekonom di Institut Keuangan Internasional Ondrej Schneider melansir CNN.

Padahal, dana cadangan pemerintah dirancang untuk menutupi kekurangan dalam anggaran nasional pada saat pendapatan minyak dan gas rendah. Anggaran Rusia 2016 didasarkan pada asumsi negara yang dapat menjual minyaknya sebesar USD50 per barel.

Akan tetapi, harga minyak rata-rata dalam delapan bulan pertama tahun ini adalah kurang dari USD43 per barel. Kontribusi minyak kini mencapai hanya 37 persen dari seluruh pendapatan pemerintah, dibandingkan dua tahun lalu yang mencapai 50 persen.

Sementara itu, pemerintah Rusia akan mengungkapkan anggaran tahun depan setelah pemilihan parlemen akhir pekan ini.

Kemerosotan ini berarti pemerintah harus memanfaatkan dana darurat lagi dan lagi. Pemerintah menunjukkan bahwa setelah cadangan habis, mungkin harus beralih ke dana kesejahteraannya.

Kremlin mengatakan, dana kesejahteraan ada lebih dari USD70 miliar. Dana tersebut tidak dimaksudkan untuk menutupi kekurangan anggaran, melainkan untuk membiayai pensiun masa depan dan proyek-proyek investasi skala besar.

Sementara itu, Bank sentral Rusia memangkas suku bunga pada hari Jumat, menjadi 10 persen dari 10,50 persen. Hal ini menjadi upaya lebih lanjut untuk memulai memulihkan perekonomian.

(rai)

Sumber : Okezone