PT Rifan Financindo – PALEMBANG – Memperingati hari buruh, banyak aspek yang harus diperhatikan oleh pemerintah. Tak hanya kesejahteraan buruh pada sektor formal, buruh pada sektor informal pun juga harus menjadi fokus perhatian dari pemerintah.

Salah satunya adalah buruh informal pada sektor pertanian. Pasalnya, buruh tani hingga saat ini masih belum sejahtera seiring dengan masih tingginya inflasi di pedesaan.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, buruh tani hingga saat ini belum merasakan adanya peningkatan kesejahteraan. Padahal, harga pangan telah mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir.

“Jadi para buruh tani tidak rasakan dampak kenaikan harga pangan,” tuturnya kepada Okezone.

Untuk itu, pemerintah juga perlu memperhatikan kesejahteraan buruh tani pada berbagai daerah di Indonesia. Pasalnya, hal ini akan turut berdampak pada penurunan tingkat kesenjangan di Indonesia.

“Kenaikan harga pangan ini hanya dirasakan oleh para pedagang. Jadi ke depannya harus dipikirkan bagaimana kenaikan ini juga berdampak pada buruh tani,” ungkapnya.

Kebijakan pemerintah pun sangat dinantikan. Pasalnya, apabila hal ini dibiarkan, maka dikhawatirkan jumlah petani di Indonesia akan semakin berkurang.

Sekadar informasi, kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) selama sepuluh tahun terakhir terus mengalami penurunan. Kondisi ini cukup memprihatinkan mengingat Indonesia adalah negara agraris yang menjadikan pertanian sebagai sektor andalan pembangunan perekonomian.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengatakan, pangsa pasar pertanian turun terhadap PDB dari 22,09% di tahun 1990 menjadi 13,45% tahun 2016.

“Serapan tenaga kerja juga menurun dari tahun 1990 sebanyak 55,1% menjadi 31,9% saja berdasarkan struktur tenaga kerja sektoral,” ujarnya.

(rzy)

Sumber : Okezone

PT Rifan Financindo