PT Rifan Financindo – KUDUS – Isu kenaikan harga rokok hingga Rp50.000 per bungkus telah menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat maupun di media sosial.

Meski baru sebatas hasil studi Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), tapi kalangan buruh di Kabupaten Kudus mulai resah dengan isu itu. Apalagi saat ini telah beredar secara viral skema produk rokok apa saja beserta harganya.

Koordinator Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) Kudus Slamet Machmudi mengatakan, beragam masalah membayangi usulan menaikkan harga rokok hingga Rp50.000 per bungkus. Industri rokok terlebih kelas gurem yang produknya menyasar kalangan bawah terancam bangkrut. ?Kalangan buruh termasuk petani tembakau yang paling merasakan dampak kesulitan ekonomi. Maka kami menolak wacana itu,? kata Machmudi, kemarin.

Pemerintah, kata Machmudi, cenderung menyederhanakan masalah. Jika aspek kesehatan menjadi target utama, maka idealnya kebijakan memahalkan harga rokok bukan solusi yang diambil. Menurutnya, masih banyak cara elegan menjauhkan rokok dari masyarakat mulai dari pengetatan lokasi merokok dan sanksi bagi yang melanggar. ?Jadi bukan dengan mematikan IHT (industri hasil tembakau) dan merumahkan buruh. Ini jelas salah kaprah,? ujarnya.

Pemerintah juga dinilainya kurang berhitung cermat terkait kebijakan kenaikan fantastis harga rokok. Bahkan sangat mungkin peredaran rokok ilegal yang selama ini diperangi pemerintah justru kian marak dan sulit diberantas. ?Fenomena konsumsi rokok buatan sendiri atau lebih dikenal dengan tingwe (linting dewe atau melinting sendiri) pasti tambah banyak. Ingat rokok telah menjadi budaya masyarakat tertentu,? katanya.

KSBSI Kudus mendesak pemerintah mengkaji ulang kebijakan pembatasan konsumsi tembakau dengan mengorbankan ribuan buruh IHT. Terlebih hingga kini formulasi penyelamatan buruh IHT yang telah di PHK akibat kebijakan penurunan produksi sudah berjalan beberapa tahun terakhir juga masih tak jelas.

Terpisah, Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartato saat berkunjung ke Pura Group Kudus Jumat (19/8) mengaku belum mengetahui persoalan tersebut. Saat ditanya soal wacana kenaikan fantastis harga rokok, dia justru menggelengkan kepala.

?Waduh, itu saya kok belum dengar itu,? ujar Airlangga. Airlangga juga enggan memberi pernyataan soal kebijakan pemerintah yang dinilai banyak kalangan tak berpihak pada IHT. ?Kita belum bahas,? katanya. (kmj)

(rhs)

Sumber : Okezone