JAKARTA ? Bunga deposito deposan badan usaha milik negara (BUMN) akan dibatasi maksimal 75-100 basis poin (bps) di atas suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate).

Dengan tingkat bunga acuan Bank Indonesia sebesar 7 persen saat ini, dana deposan BUMN di bank maksimum hanya memperoleh bunga 8 persen. Langkah itu diharapkan mendorong penurunan biaya dana dan berujung pada meningkatnya efisiensi perbankan. ?Untuk BUKU (bank umum kegiatan usaha) III sebesar 100 bps di atas BI Rate , dan BUKU IV 75 basis poin,? jelas Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nelson Tampubolon di Jakarta, kemarin.

Nelson mengatakan, keputusan itu akan segera ditetapkan oleh Kementerian BUMN. Setelah Kementerian BUMN secara resmi mengeluarkan keputusan tersebut, OJK akan melakukan pengawasan intensif agar perbankan menaati peraturan batas atas bunga deposito BUMN itu. Paling lambat ketetapan aturan itu Maret 2016. ?Kita nanti lebih ke supervisory approach saja,? imbuh dia.

Nelson menyampaikan, pihaknya melakukan pengawasan agar perbankan benarbenar mematuhi ketetapan itu. Dengan begitu, deposan BUMN tidak bisa meminta perbankan untuk memberikan bunga deposito spesial yang tinggi atau special rate, sehingga biaya dana (cost of fund ) yang harus dibayar perbankan pun segera turun. Dia pun berharap, kebijakan ini diikuti penurunan bunga pinjaman. ?Itu akan diawasi langsung (oleh OJK), dampaknya (terhadap bunga pinjaman) mungkin butuh waktu,? kata Nelson.

Sebelum ada wacana penetapan batas atas bunga deposito, deposan BUMN kerap diberikan bunga deposito dengan rumus 200-225 basis poin di atas BI Rate. Formula tersebut mengerek biaya dana perbankan, yang akhirnya turut menaikkan suku bunga kredit kepada nasabah. Berbarengan dengan ketetapan dari Kementerian BUMN, Nelson melanjutkan, OJK juga akan segera mengeluarkan Peraturan OJK (POJK) untuk insentif kepada perbankan agar meningkatkan efisiensinya.

Efisiensi ini untuk mendorong biaya pengeluaran (overhead cost ) dan risiko premium kredit bermasalah tidak menjadi pengatrol perhitungan bunga kredit. ?Maret kita keluarkan (insentif). Salah satu contohnya adalah insentif bagi bank untuk membuka kantor cabang,? ujarnya.

Nelson yakin pengaturan batas atas bunga deposito BUMN ini tidak akan menimbulkan pengetatan likuiditas di perbankan kategori BUKU III dan IV, karena kekhawatiran adanya perpindahan dana ke bank kategori lain. Dia menilai, bank kategori BUKU I dan II belum mampu untuk mengelola dana mahal dari deposan BUMN. ?Tidak sangguplah dari BUKU III lari ke BUKU I,? kata dia.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad pun menyatakan bahwa suku bunga kredit perbankan di Indonesia akan mencapai level satu digit pada akhir tahun. Pendorongnya adalah akan dikeluarkannya insentif bagi bank yang bisa melakukan efisiensi hingga menurunkan bunga kredit. ?Insentif keluar bulan depan. Dampaknya cukup sig-nifikan menurut saya, sehingga target single digit akhir tahun sangat mungkin,? ujarnya, kemarin.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, selain membatasi kementerian/ lembaga (K/L) dan BUMN untuk mencari keuntungan melalui tarif spesial dari suku bunga deposito, pemerintah juga mengupayakan penurunan tingkat bunga dengan menjaga laju inflasi tidak lebih dari 4 persen.

(rzy)

Sumber : http://economy.okezone.com/read/2016/03/01/320/1324619/bunga-deposito-dana-bumn-maksimum-8