PT Rifan Financindo – SIAPA sangka ternyata Indonesia memiliki perusahaan negara yang memproduksi vaksin dan di pasarkan ke luar negeri. Bahkan, sedikitnya ada 57 negara, khususnya di Jazirah Arab dan sekitarnya, menggunakan vaksin produk Bio Farma dari Indonesia.

Ya, PT Bio Farma (Persero) adalah perusahaan BUMN yang memproduksi vaksin untuk mendukung program imunisasi di Indonesia maupun di negara-negara lainnya. Bio Farma adalah satu-satunya produsen vaksin terbesar di Asia Tenggara (ASEAN).

Perjalanan panjang Bio Farma hingga kini telah bertransformasi menjadi produsen vaksin dan antisera kelas dunia bermula ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda mendirikan ?Parc-vaccinog?ne? (Lembaga Pengembangan Vaksin Negara) pada 6 Agustus 1890. Sejak awal berdiri, Parc-vaccinog?ne fokus pada berbagai penelitian untuk memberantas penyakit menular hingga akhirnya Parc-vaccinog?ne menjalin kerja sama dengan Institut Pasteur untuk melakukan penelitian mengenai mikrobiologi, sehingga lembaga ini berubah nama menjadi Parc-vaccinog?ne en Instituut Pasteur.

Sejalan dengan perkembangan jaman, perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan nama dan badan hukum hingga pada tahun 1997 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 1997 perusahaan berubah menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) yang sahamnya sepenuhnya dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan nama PT Bio Farma (Persero).

Dinamika naik turunnya suatu perusahaan pernah mewarnai perjalanan Bio Farma. Pernah mengalami masa keemasan saat di bawah pimpinan Nijland di mana berbagai inovasi, peningkatan kualitas kinerja maupun kuantitas produk terjadi secara signifikan pada masa itu. Kemudian saat dipimpin oleh Otten, lembaga ini berhasil naik ke tingkat lebih tinggi lagi dengan berhasil diproduksinya vaksin cacar kering yang tidak terpengaruh oleh tempat, jarak dan temperatur tropis sehingga pada tahun 1934, Departemen Kesehatan RI mencatat vaksin Otten ini mampu menurunkan kematian hingga 20 persen dari angka semula.

Sayangnya, pada 1980-an, Bio Farma mengalami semacam ketidakjelasan masa depan. Sebagai BUMN, jelas tidak berorientasi profit, sedangkan sebagai lembaga penelitian juga tidak tergambar dari susunan staf dan tenaga ahlinya.

Hingga akhirnya Menteri Kesehatan menunjuk Darodjatun dan Djoharsyah Meuraxa sebagai Direktur Utama dan Direktur Pemasaran dan Keuangan pada Desember 1988. Pasangan ini melakukan berbagai perbaikan signifikan dari mulai kinerja produksi, pemasaran dan pendapatan.

Bio Farma kini telah masuk ke dalam daftar prakualifikasi Badan Kesehatan Dunia (WHO). Vaksin yang diproduksi Bio Farma terdiri dari vaksin virus (vaksin campak, vaksin polio oral, dan vaksin hepatitis B), dan vaksin bakteri (vaksin DTP, vaksin TT, vaksin DT, dan Vaksin BCG).

Sejak 1997 hingga saat ini, Bio Farma memasok vaksin ke banyak negara melalui UNICEF, PAHO dan pembeli lainnya. Saat ini kapasitas produksi mencapai sekira 1,1 miliar dosis.

Hingga kini, Bio Farma terus melakukan inovasi, kerja sama riset dan pengembangan produk baru dengan lembaga serta universitas nasional maupun global. Sejak tahun 2011 Bio Farma menjadi penggagas pembentukan Forum Riset Vaksin Nasional (FRVN) yang bertujuan untuk kemandirian vaksin menuju Dekade Vaksin 2011-2020.

Inisiatif ini diawali dengan terjalinnya kolaborasi antara industri, pemerintah dan perguruan tinggi untuk membangun komitmen bersama menuju kemandirian riset dan produksi vaksin nasional untuk mendorong percepatan penelitian agar hasilnya dapat dirasakan dan dimanfaatkan untuk masyarakat.

Bio Farma telah menyusun roadmap dalam rangka mendukung riset dan pengembangan vaksin masa depan. Roadmap ini pun diharapkan dapat mewujudkan vaksin terjangkau dalam mendukung program Dekade Vaksin 2011-2020 dengan melakukan beberapa riset dan pengembangan vaksin unggulan quick win, yaitu Vaksin Rotavirus, Vaksin SIPV (Sabin Inactivated Polio Vaccine) serta beberapa kandidat vaksin lain yang masih dalam tahap proof of concept.

Saham Bio Farma 100 persen dimiliki oleh negara. Dengan modal dasar Rp2 triliun terdiri dari 2 juta lembar saham dengan nominal sebesar Rp1 juta per lembar saham. Perseroan memiliki modal ditempatkan Rp750 miliar terdiri dari 750 ribu lembar saham dengan nilai nominal sebesar Rp1 juta per lembar saham.

(rai)

Sumber : Okezone