PT Rifan Financindo – JAYAPURA – Direktur Utama BRI Asmawi Syam mengungkapkan hingga Kamis pihaknya telah menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) sebesar Rp40 triliun.

“Penyaluran KUR BRI dari target Rp67 triliun, sudah disalurkan 60 persen dari jumlah itu,” ujarnya di Jayapura.

Ia menjelaskan bahwa BRI berusaha mendorong penyaluran KUR untuk membantu masyarakat dalam meningkatkan perekonomiannya.

“Kinerja bagus dan penyebarannya juga bagus, kemudian jumlah penerimanya juga tersebar. Hal ini tentu tujuannya untuk meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat sekaligus mengurangi pengangguran yang informal,” katanya.

Dengan makin banyak warga mengakses KUR, menurut Asmawi, peluang kerja akan terus bertambah.

“Kami memberikan KUR itu untuk memperkerjakan orang di sektor informal, jadi berjalan, bahkan melampaui target dari yang kami harapkan karena sudah tersalur Rp40 triliun,” ujarnya lagi.

Ia menyebutkan jumlah penyaluran KUR di Provinsi Papua juga tergolong besar karena angkanya sudah melebih Rp300 miliar, dan masih akan terus bertambah hingga akhir tahun.

“Penyaluran KUR di Papua sebesar Rp369 miliar. Jadi, KUR ini penyebarannya memang seluruh Indonesia. Dari sisi kualitas kreditnya cukup bagus, NPL juga rendah sebesar 0,78 persen,” kata Asmawi.

(dni, PT Rifan Financindo)

Sumber : Okezone

TERPOPULER: Peringatan IMF untuk Utang China

JAKARTA – China perlu mengatasi masalah utang korporasi sebelum spiral ini berada di luar kendali. Hal ini diungkapkan oleh Dana Moneter Indonesia (IMF) yang memberi peringatan kepada China mengenai tingkat utang negara tersebut.

“Prospek jangka menengah China tidak terlihat karena utang perusahaan yang tinggi dan meningkat,” kata Kepala Misi IMF di China, James Daniel melansir CNN.

Dia mengatakan ekonomi terbesar kedua di dunia ini harus segera mengatasi masalah utangnya yang melonjak.

Menurut data dari Bank for International Settlements, Utang USD25 triliun China ini setara dengan 254 persen dari GDP. Meskipun angkanya tinggi, namun sebenarnya hampir serupa dengan utang beberapa negara lain di dunia.

Amerika Serikat (AS), misalnya, memiliki tingkat yang sama dengan utang China. Tetapi, yang mengkhawatirkan tentang penumpukan utang China adalah kecepatan yang sudah berkembang dalam beberapa tahun terakhir sebesar empat kali lipat antara 2007 dan 2014, menurut sebuah laporan oleh McKinsey.

“Investor banyak yang khawatir, berurusan secara langsung atau tidak terhadap penumpukan utang ini tetap jadi salah satu tantangan jangka panjang terbesar yang dihadapi para pembuat kebijakan,” kata Ekonom Capital Economics China, Julian Evans-Pritchard.

(rai)

Sumber : Okezone