Rifanfinancindo – YOGYAKARTA ? Badan Pusat Statistik (BPS) belum memiliki data pasti berapa penduduk yang bergelut dalam usaha ekonomi kreatif. Begitu juga jumlah tenaga kerja yang bekerja dalam ekonomi kreatif tersebut.

“Kalau data terbaru belum ada, tapi jika dilihat dengan kasat mata, jumlahnya banyak dan terus berkembang sesuai kemajuan teknologi digital saat ini,” kata Kepala BPS Suryamin di Hotel Sheraton Yogyakarta, Kamis (21/7/2016).

Pihaknya memiliki data pelaku ekonomi kreatif pada 2012. Jumlah pelaku ekonomi kreatif kala itu sebesar 6,91 persen dari produk domestik bruto. Dari jumlah itu terdapat 5,4 juta tenaga kerja yang bergerak pada sektor ekonomi kreatif.

“Saat itu belum ada Go-Jek, Traveloka, Bukalapak, dan lainnya yang terhubung langsung dengan internet. Sekarang ekonomi kreatif di masyarakat luar biasa cepat,” urainya.

Suryamin menyampaikan survei Sensus Ekonomi 2016 tidak secara spesifik mendata jumlah pelaku ekonomi kreatif. Namun, lebih pada data penduduk secara makro dengan beragam usaha dan tempat tinggalnya.

Pihaknya kini bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk melakukan survei khusus ekonomi kreatif di 57 kabupaten/kota pada 34 provinsi di Indonesia. Hal itu dilakukan untuk memperoleh data berapa jumlah pelaku ekonomi kreatif di Indonesia.

“Kerjasama yang kami lakukan untuk memperoleh data ekonomi kreatif. Tanpa data, kita tidak bisa melihat indikator yang jelas untuk menentukan arah kebijakan yang tepat,” jelas Kepala Bekraf, Triawan Munaf, dalam kesempatan yang sama.

Pihaknya menargetkan pertumbuhan 12 persen PDB ekonomi kreatif, 13 juta tenaga kerja sektor ekonomi kreatif, serta kontribusi 10 persen ekspor ekonomi kreatif terhadap ekspor nasional hingga 2019. Tak heran, guna memperoleh data itu, Bekraf mengajak BPS bekerja sama.

Secara umum, kata dia, survei ini bertujuan memperoleh database yang bisa dikelola secara sistematis dan mudah diakses sebagai dasar pengembangan sektor ekonomi kreatif.

“Secara khusus supaya memperoleh data, memetakan potensi, serta identifikasi kebutuhan berdasar klasifikasi baku lapangan usaha 16 subsektor ekonomi kreatif,” terangnya.

Ke-16 subsektor tersebut mulai dari aplikasi dan pengembangan permainan (game), arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fesyen, film, animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, dan seni rupa, serta televisi dan radio. (dng)

(rhs)

Sumber : Okezone