PT Rifan Financindo – JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana untuk melepas batasan harga saham terendah di pasar reguler. Saat ini sendiri batasan harga saham terendah ada di level Rp50 per saham.

Direktur Pengawasan Transaksi dan Perdagangan BEI, Hamdi Hassyarbaini? berharap kebijakan pelepasan harga saham terendah ke pasar dilakukan untuk membuat saham-saham yang saat ini tidak bergerak atau saham tidur agar aktif kembali seperti saat awal melakukan pencatatan saham perdana.

?Dari 534 emiten, saham tidur tidak mencapai 50 persennya, hampir mendekati 50 persen,? ujarnya di Jakarta, Senin (13/9).

Selain itu, rencana bursa untuk melepas batasan harga saham terendah diharap bisa menjadi cambukan kepada emiten yang harga sahamnya ada di batas terendah untuk melakukan aksi korporasi.

?Kami menyakini menghapus batasan bawah Rp50 per saham akan mendorong emiten berpikir untuk memperbaiki kinerjanya dan melakukan aksi korporasi. Kalau tidak begitu, pelaku pasar bisa saja menilai sahamnya hanya Rp30 per saham,” ucapnya.

Menurutnya, jika emiten memiliki kinerja yang baik dan rencana bisnis ekspansinya jelas maka investor akan membeli saham tersebut dan menilainya dengan harga tinggi.

Terkait akan dicabutnya aturan batasan saham terendah di level Rp50 per saham, Hamdi belum dapat mengatakan secara detail karena masih dalam pengkajian pihak-pihak terkait.

“?Ini masih dalam kajian, mudah-mudahan bisa pada tahun ini juga sebelum Desember 2016,” terangnya.

Hamdi juga mengungkapkan bahwa di dunia pasar modal setiap perubahan harga saham sebenarnya dilepas kepada makanisme pasar.

Sebagai informasi, telah banyak upaya yang dilakukan BEI untuk menghilangkan saham tidur di pasar modal dan salah satunya mewajibkan emiten memenuhi free float saham yang sudah ditentukan dan memanggil perusahaan yang sahamnya masuk kategori saham tidur.

Direktur Utama BEI, Tito Sulistio pernah bilang, pihaknya akan memanggil perusahaan-perusahaan atau emiten yang sahamnya cenderung tidak bergerak alias saham tidur. Saat ini, masih banyak jumlah saham tidur di bursa.?Bursa akan mengundang mereka semua,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, saham tidur tersebut biasanya terjadi karena beberapa hal, bisa karena tidak ada yang mau menjual atau bisa juga karena saham tersebut tidak diminati sehingga tidak ada transaksi jual-beli.”Tapi ada dua hal juga, ada yang tidak aktif, karena orang nggak mau jual. Ada juga yang memang tidak aktif karena tidak ada permintaan,” kata Tito.

Sudah menjadi rahasia umum, persoalan saham tidur masih menjadi pekerjaan rumah industri pasar modal. Maraknya saham tidur salah satunya karena minimnya jumlah saham yang beredar di publik, sehingga menyebabkan likuiditas rendah.

Pada 20 Januari 2014, BEI pun menerbitkan keputusan direksi untuk meningkatkan kualitas perusahaan tercatat dan likuiditas saham melaluisurat No:Kep-00001/BEI/01-2014 tentang Perubahan Peraturan Nomor I-A. Salah satu pokok perubahan dalam peraturan yang mulai berlaku pada 30 Januari 2014 itu adalah terkait jumlah saham yang beredar di publik (free float).

(dni)

Sumber : Okezone