PT Rifan Financindo – JAKARTA – Referendum jejak pendapat yang dilakukan di Inggris memutuskan mereka akan keluar dari zona Eropa yang dikenal dengan istilah Brexit. Jumlah masyarakat yang ingin keluar dari Eropa yakni 52 persen, sementara yang memutuskan untuk bertahan yakni 48 persen. Adapun jumlah selisih suara tersebut, yakni 1.269.501.

Banyak yang memperkirakan Brexit ini akan berdampak negatif pada perekonomian Inggris, hal ini ditunjukkan dengan pelemahan mata uang Inggris poundsterling, yang turun 9 sen menjadi USD1,3525 per poundsterling. Alhasil, poundsterling anjlok 15 persen, penurunan terbesar sejak 1985.

Oleh karena itu, Bank of England menyatakan akan memonitor ketat perkembangan ekonomi Inggris. BOE pun berjanji akan mengadakan pertemuan otoritas fiskal untuk terus menjaga ekonomi Inggris berada di jalurnya pasca-Brexit.

“Kami akan melakukan perencanaan kontingensi yang luas dan bekerja sama dengan Kementerian Keuangan, otoritas domestik lainnya dan bank sentral lainnya di luar negeri,” kata BoE dalam pernyataan tertulisnya.

“Bank of England akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memenuhi tanggung jawabnya dalam menjaga stabilitas moneter dan keuangan,” tambah mereka.

Sebelumnya, Ekonom BCA David Sumual mengatakan, keluarnya Inggris dinilai akan memberikan dampak yang tidak terduga bagi perekonomian global.

Menurutnya, kekhawatiran utama adalah terjadi tail risk. Tail risk adalah risiko yang tidak terduga sebelumnya, seperti kebangkrutan Lehman Brothers yang memicu krisis global tahun 2008.

(mrt)

Sumber : Okezone

Brexit, Investor Bakal Kabur dari Inggris

PT Rifan Financindo – JAKARTA – Inggris tampaknya akan segera keluar dari Uni Eropa. Hal ini berdasarkan perhitungan sementara Referendum Uni Eropa yang menunjukkan mayoritas rakyat Inggris memilih Brexit alias keluar dari Uni Eropa.

Inggris keluar dari Uni Eropa pun dampaknya langsung terasa bagi pasar keuangan global hingga Indonesia. Menurut ekonom Firmanzah, Brexit membuat ketidakpastian yang tinggi yang tidak disukai banyak investor. Pasalnya, Inggris maupun London merupakan pasar utama investasi dunia mencapai 40 persen.

“London atau Inggris ini pusat investasi di Uni Eropa, investor maupun perusahaan masuk ke Uni Eropa lewat Inggris. Brexit ini sangat tidak diinginkan investor,” kata mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu kepada Okezone, Jakarta, Jumat (24/6/2016).

Firmanzah menambahkan, ketika Inggris sudah keluar dari Uni Eropa, maka Inggris akan melakukan renegosiasi ulang dengan Uni Eropa.

“Kita lihat poundsterling anjlok ke level terendah sejak 1985, IHSG drop 2 persen,” jelasnya.

“Jadi dunia menghadapi ketidakpastian, mengganggu investor. Banyak investor menghindari dan keluar dari Inggris. JP Morgan sudah nyatakan sikap akan keluar dari Inggris,” tukasnya.

(dni)

Sumber : Okezone