PT Rifanfinancindo – JAKARTA – Pemerintah memperkirakan aturan tentang penyederhanaan perizinan perumahan akan diterbitkan pada Agustus 2016 ini. Seiring dengan sedang dilakukannya finalisasi di Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Maurin Sitorus menuturkan, nantinya produk hukum dari penyederhanaan perizinan tersebut rencananya adalah Peraturan Pemerintah (PP).

“Finalisasinya ada di Menko Perekonomian, katanya bulan ini mau diumumkan, produk hukumnya Peraturan Pemerintah,” ungkap Maurin, di konferensi pers Percepatan Program Sejuta Rumah, Jumat (19/8/2016).

Dengan begitu, dia menjelaskan, jika ada Peraturan Daerah dan Peraturan Menteri yang tidak sejalan maka otomatis peraturan tersebut tidak berlaku digantikan dengan PP.

“Jadi kalau ini diterbitkan Pemda harus menyesuaikan dalam berikan perizinan pembangunan, sehingga bisa diharapkan lebih cepat dan efisien,” katanya.

Seperti diketahui, banyaknya perizinan ini menjadi masalah utama dari pelaksanaan Program Sejuta Rumah untuk mengatasi backlog perumahan yang berjumlah 11,4 juta rumah.

(rzk,Rifanfinancindo)

Sumber : Okezone

Kenaikan Harga Rokok Rp50 Ribu, Pengusaha: Ini Permainan Kotor

PT Rifan Financindo – JAKARTA – Gabungan Pengusaha Rokok Indonesia (Gapri) menganggap isu kenaikan harga rokok menjadi Rp50 ribu hanya permainan kotor. Seperti diketahui awal mula muncul isu perhitungan harga rokok Rp50 ribu dari hasil kajian Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) yang menyatakan ketergantungan akan rokok bisa berkurang bila harganya dinaikkan dua kali lipat.

“Ini suatu permainan yang kotor yang kemudian dia (Fakultas Kesehatan Masyarakat UI) kembangkan. boleh saja mencoba public opini, toh ini tidak akan berpengaruh,” ujar Ketua Gapri Ismanu Soemiran kepada Okezone.

Menurutnya, ketika industri rokok lokal tengah menguasai pasar baik domestik ataupun dalam luar negeri, maka tingkat persaingan akan semakin ketat. Begitu juga dalam isu kenaikan harga rokok menjadi Rp50 ribu, di dalamnya syarat dengan isu persaingan untuk menjatuhkan industri rokok lokal.

Ismanu menambahkan, industri rokok keretek mempunyai pangsa pasar 94 persen di dalam negeri dan rokok putih mengusai pangsa internasional. Pada dasarnya rokok Indonesia sudah go internasional dan sudah banyak masuk ke negara-negara seperti Amerika Serikat hingga ke negara Eropa.

“Jadi setiap negara (pengusaha rokok) bisa saja jadi nomor satu di Indonesia, tapi tidak untuk rokok kita. Rokok kretek bermetamorfosa menjadi industri berbasis pada kearifan lokal yang semakin tumbuh menjadi industri multinasional. Oleh karena itu kita dianggap pesaing berat untuk ditaklukkan, kita pun ingin dijatuhkan melalui regulasi yang namanya kesehatan, jadi ini memang politik dagang,” ujarnya.

(rzy)

Sumber : Okezone