Rifan Financindo – Palembang – Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini akan merilis pertumbuhan ekonomi kuartal III-2017. Di mana sebelumnya pertumbuhan kuartal II tercatat sebesar 5,01% (year on year /yoy), angka ini lebih rendah dibandingkan laju ekonomi pada periode yang sama tahun 2016 sebesar 5,18%.

Pengamat Ekonomi Bhima Yudhistira mengutarakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III tahun ini diprediksi akan berada akan mencapai 5,1% lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi periode yang sama tahun 2016 sebesar 5,02% (yoy).

Pertumbuhan ini ditopang oleh belanja negara yang bergeser dari kuartal-II ke kuartal-III dengan prediksi mencapai 4% serta daya konsumsi masyarakat yang diprediksi mencapai 5%.

“Dengan realisasi belanja pegawai khususnya realisasi tunjangan pegawai gaji ke 13 serta pencairan proyek-proyek pemerintah diharapkan bisa mendorong pertumbuhan belanja pemerintah lebih dari 4%. Konsumsi masyarakat juga diharapkan tumbuh stabil di 5% namun indikasi perbaikan daya beli belum terlihat,” ungkapnya kepada Okezone, Senin (6/11/2017).

Faktor penggerak pertumbuhan ekonomi lainnya, lanjut Bhima, berasal dari komponen ekspor yang terdorong harga batu bara, minyak kelapa sawit dan minyak mentah yang hingga akhir tahun diprediksi positif. Sementara untuk investasi masih tergolong lambat.

“Investasi masih belum menunjukkan taji karena realisasi masih tergolong lambat khususnya investasi PMA (penanaman modal asing). Januari hingga September 2017 pertumbuhan realisasi PMA hanya 7,9% (yoy) berdasarkan data BKPM,” jelas Bhima.

Bhima memproyeksikan target pertumbuhan ekonomi sampai akhir tahun 2017 akan berada di angka 5,1%. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di sisa waktu ini dapat dilakukan dengan mendorong belanja pemerintah serta pemulihan daya beli masyarakat.

“Yang harus dilakukan di sisa waktu adalah menggenjot efektivitas belanja pemerintah yang kontribusinya mencapai 9,4% terhadap PDB. Selain itu pemulihan daya beli khususnya di kelompok 40% terbawah harus terus didorong melalui penyaluran bansos. Masyarakat pendapatan 20% teratas juga menentukan konsumsi,” ujarnya.

Lanjutnya, kepastian kebijakan pajak juga harus kondusif hingga akhir tahun. Hal ini untuk mendorong daya beli masyarakat.

“Kepastian kebijakan khususnya perpajakan harus kondusif sampai akhir tahun. Orang kaya harus didorong untuk mulai belanja lagi. Mereka punya uang tapi masih disimpan di perbankan. Ini salah satu faktornya karena pajak makin agresif,” jelasnya.

Cara lainnya untuk dongkrak perekonomian adalah dengan memberikan stimulus bagi sektor padat karya. Dikatakannya prosedur diskon tarif listrik 30% harus lebih dipermudah serta harga gas juga perlu segera diturunkan sesuai janji paket kebijakan.

Rifan Financindo

“Untuk infrastruktur, segera dirombak prosesnya. Kontraktor skala besar bisa melibatkan banyak kontraktor kecil di daerah. Kemudian segera buat batasan nominal proyek yang wajib diserahkan ke kontraktor swasta” jelasnya.

(rzk)

Sumber : Okezone