PT Rifan Financindo – JAKARTA – Pendapatan negara melalui komponen perpajakan pada semester I-2016 sebesar Rp522 triliun atau baru 34 persen dari target yang telah ditetapkan. Angka ini tergolong kecil bila dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp535,1 triliun.

Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengatakan, masih rendahnya pendapatan negara disebabkan oleh Pajak Penghasilan (PPh) minyak dan gas (migas). Sebab, tahun ini harga minyak lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

“Jadi, kalau kita lihat, tahun lalu PPh migas periode yang sama Rp27,3 triliun, tahun ini kita baru dapat Rp16,3 triliun. Di sana juga karena harga yang berbeda antara tahun lalu dengan tahun ini. Tahun ini lebih rendah,” ucapnya di Gedung Banggar DPR, Jakarta, Semalam, Rabu (20/7/2016).

Sementara itu, untuk pajak nonmigas justru sebaliknya. Bambang mengungkapkan, totalnya Rp444,4 triliun atau lebih tinggi Rp14 triliun bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp430,3 triliun.

“Jadi, pajaknya sudah lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun lalu yang nonmigas. Tapi memang PPh migasnya lebih rendah,” ujar dia.

[Baca Juga: Semester I, Defisit Anggaran Sentuh 1,8%]

Untuk PPh nonmigas total pendapatannya Rp270,5 triliun atau lebih tinggi sekitar Rp18 triliun bila dibandingkan periode sama tahun lalu. Sedangkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), sedikit lebih rendah sekitar Rp5 triliun dibanding periode sama tahun lalu.

“Ini mungkin terkait dengan konsumsi rumah tangga tahun ini yang mungkin sedikit melemah. Itu satu. Kedua, restitusi PPN memang pada tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Untuk PBB, praktis sama. Untuk pajak lainnya juga tidak banyak berubah,” katanya.

Sekadar informasi, pendapatan negara sepanjang semester I-2016 sebesar Rp634,7 triliun atau 35,6 persen dari Anggaran Pendapatan Belanja Pemerintah Perubahan (APBN-P) 2016. Bila dibandingkan periode sama tahun lalu yang Rp666,7 triliun, maka angka tersebut lebih kecil.

(rhs)

Sumber : Okezone