PT Rifan Financindo – YOGYAKATA – Pemda DIY mengklaim industri kreatif sebagai salah satu penopang roda perekonomian. Namun anggaran untuk mengembangkan industri kreatif tergolong minim.

Dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Rancangan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Ta hun Anggaran 2017, alokasi yang di sediakan hanya Rp2,06 miliar. Anggaran tersebut dipegang oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY.

Kepala Bidang Industri Sandang Logam dan Aneka Disperindag DIY Endang Sri Suryani mengakui, anggaran untuk pengembangan industri kreatif di DIY masih kurang. Anggaran tersebut untuk mencakup banyak kegiatan, mulai dari pelatihan, standardisasi, sampai pemasaran.

?Sebenarnya minim. Tapi kami akan memaksimalkannya,? katanya.

Menurut Endang, di Disperindag DIY ada 15 subsektor industri kreatif. Beberapa di antaranya adalah multimedia, fashion, kuliner, kerajinan, desain, dan lainnya. Pada 2017 nanti Disperindag DIY akan memfokuskan pada subsektor multimedia berupa pembuatan film kartun.

?Bidang animasi, game, dan komik baru kami dorong,? katanya.

Endang mengungkapkan, hampir semua kegiatan usaha di DIY sudah bergerak dalam industri kreatif. Namun untuk saat ini yang sudah cukup kuat di DIY adalah sektor kuliner dan fashion.

Dikatakannya, Yogyakarta yang sudah ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia, ikut mendongkrak perkembangan industri kreatif fashion . Setidaknya ada empat persoalan yang paling kerap dijumpai dalam industri kreatif. Persoalan tersebut adalah pemasaran, standardisasi mutu, peralatan, dan pendaftaran hak cipta.

?Tes pasar adalah anggaran yang paling mahal,? katanya.

Anggota Komisi B DPRD DIY Nur Sasmito menyayangkan, KUA PPAS APBD 2017 untuk anggaran industri kreatif yang dikelola oleh Disperindag DIY tergolong kecil. ?Untuk industri kreatif yang ada 15 sub sektor, jumlah segitu (Rp2,06 miliar) tergolong kecil,? ucap Nur Sasmito.

(dni)

Sumber : Okezone