PT Rifan Financindo – JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi global tahun ini masih cenderung melemah. Beberapa pertumbuhan ekonomi negara maju masih melambat.

Begitu juga kondisi ekonomi negara berkembang yang masih rendah. Bahkan beberapa waktu lalu Presiden Brasil mengalami tekanan karena terjadinya perlambatan ekonomi.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara mengatakan, ekonomi dunia belum menunjukkan perbaikan. Apalagi, proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia terus di koreksi dari 3,8 persen hingga 3,1 persen.

“Apa artinya? Kita memiliki risiko,” kata dia di Gedung DPR, Selasa (13/9/2016).

Dalam rapat panja bersama Badan Anggaran DPR RI, Suahasil merincikan beberapa risiko yang tengah menghantui ekonomi Indonesia. Pertama, ketidakpastian ekonomi global dan negara maju dan berkembang.

Hal ini membuat Indonesia tidak bisa banyak berharap pada neraca ekspor impor untuk mendongkrak ekonomi 2017.

Risiko kedua adalah moderasi pertumbuhan ekonomi China. Suahasil menuturkan, meski masih tumbuh 6,2 persen, ekonomi China masih terjebak dalam tren yang melambat.

“Beberapa estimasi menyebut pertumbuhan ekonomi China masih akan turun,” ungkapnya.

Kemudian, masih lemahnya harga komoditas. Komisaris Pertamina ini menjabarkan, harga komoditas diproyeksi masih rendah hingga 5 tahun ke depan.

“Ini membuah ekspor Indonesia hampir pasti enggak akan meningkat banyak karena China dan Jepang tidak tumbuh baik,” imbuh dia.

Dia menyatakan, lemahnya harga komoditas masih sulit untuk mendorong Ekspor Indonesia. Di sisi lain, rendahnya ekonomi negara maju membuat sektor investasi asing tidak bisa menjadi penopang pertumbuhan ekonomi tahun depan.

“Kalau lihat dunia yang begini, pertumbuhan Indonesia akan tergantung pada konsumsi rumah tangga dan investasi pemerintah,” tukas dia.

(rzy)

Sumber : Okezone