Omicron Diramal “Kuasai” Dunia dalam 3 Bulan, Emas Terbang?

Gold bars are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder - Rifan Financindo
Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

Rifan Financindo – Virus corona varian Omicron masih terus menyebar, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengatakan setidaknya 23 negara sudah “disusupi”. Meski demikian, penyebaran Omicron tersebut belum mampu mendongkrak kinerja emas dunia.

Emas yang dianggap sebagai aset safe have memang sempat melesat di pekan ini, tetapi tidak lama langsung berbalik merosot. Pada perdagangan Kamis kemarin, emas berakhir di US$ 1.768,63/troy ons, merosot 0,8% di pasar spot melansir data Refinitiv.

Virus Omicron yang dikatakan lebih gampang menyebar ketimbang varian delta serta ada kemungkinan kebal terhadap vaksin dikatakan bisa “menguasai” dunia dalam 3 sampai 6 bulan ke depan.

Hal itu dikatakan oleh dokter spesialis penyakit menular, Leong Hoe Nam, dari rumah sakit Mount Elizabeth Novena.

“Sejujurnya, Omicron akan mendominasi dan membanjiri seluruh dunia dalam 3 sampai 6 bulan ke depan,” kata Leong dalam acara Street Signs Asia, CNBC International Rabu (1/12).

Saat ini corona varian Delta yang menguasai dunia. Menurut laporan Reuters penyakit akibat virus corona (Covid-19) saat ini 99% merupakan varian Delta, yang pertama kali ditemukan di India pada bulan Maret 2021, dan mendominasi di dunia di bulan Juli.

Artinya dalam tempo 4 bulan Delta “menguasai” dunia, dengan Omicron yang dikatakan lebih menular tentunya bisa lebih cepat lagi jika tidak menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Penyebaran tersebut dikhawatirkan akan membuat perekonomian dunia melambat lagi. Dalam kondisi tersebut emas sebenarnya menjadi aset pilihan investasi. Tetapi di pekan ini emas tidak menunjukkan tanda-tanda tersebut, justru ikut merosot bersama bursa saham global.

xau

Merosotnya emas tidak lepas dari kemungkinan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed) akan mempercepat normalisasi kebijakan moneternya.

The Fed resmi mengumumkan akan melakukan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) sebesar US$ 15 miliar setiap bulannya mulai November lalu. Dengan nilai QE sebesar US$ 120 miliar, butuh waktu 8 bulan untuk menyelesaikannya. Artinya, tapering akan berakhir pada bulan Juni tahun depan.

Namun dalam beberapa pekan terakhir banyak pejabat elit The Fed yang mendorong tapering dilakukan lebih cepat guna meredam tingginya inflasi. Dan, ketua The Fed Jerome Powell di pekan ini mengatakan bisa mempercepat laju tapering.

“Saat ini perekonomian sangat kuat dan inflasi juga sangat tinggi, oleh karena itu menurut pandangan saya akan tepat jika mempertimbangkan menyelesaikan tapering lebih cepat, mungkin beberapa bulan lebih awal,” kata Powell di hadapan Senat AS, sebagaimana diwartakan CNBC International, Selasa (30/11).

Ketika tapering dipercepat, suku bunga juga kemungkinan akan naik lebih awal. Hal tersebut memberikan pukulan telak bagi emas.

Powell juga mengatakan akan membahas mengenai percepatan tapering di bulan ini.

“Saya mengharapkan The Fed akan mendiskusikan percepatan tapering pada rapat bulan Desember,” tambah Powell.

The Fed akan mengadakan rapat kebijakan moneter pada 14 dan 15 Desember waktu setempat. Sebelum pengumuman tersebut, emas tampaknya masih sulit untuk menguat tajam.

TIM RISET CNBC INDONESIA (pap/pap)

Sumber : CNBC Indonesia

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

‘Mimpi Buruk’ Harga Emas Sudah Berakhir…?

Suasana pasar pusat perhiasan Cikini, Jakarta Pusat - Rifan Financindo
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Rifan Financindo – Harga emas dunia bergerak naik pada perdagangan pagi hari ini. Ke depan, bagaimanakah nasib harga sang logam mulia?

Pada Jumat (26/11/2021) pukul 08:07 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.792,24/troy ons. Naik 0,21% dari hari sebelumnya.

Namun kenaikan ini belum cukup untuk membalik tren harga emas yang sedang menukik. Dalam seminggu terakhir, harga komoditas ini masih turun 2,76% secara point-to-point.

Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, menilai ruang kebangkitan harga emas cukup terbuka. Untuk perdagangan hari ini, Wang memperkirakan target harga emas berada di rentang US$ 1.803-1.817/troy ons.

Akan tetapi, risiko koreksi lanjutan tentu masih ada. Wang menilai level support harga emas hari ini berada di kisaran US$ 1.758-1.786/troy ons.

“Harga emas berpeluang rebound ke kisaran US$ 1.803-1.817/troy ons. Ini karena harga mulai stabil di atas titik support US$ 1.786/troy ons,” tulis Wang dalam risetnya.

emasSumber: Reuters

Namun apabila harga malah turun ke bawah US$ 1.780, lanjut Wang, maka ada risiko downtrend yang kemungkinan berakhir di US$ 1.758/troy ons. Jika terus berlanjut, maka harga emas bisa jatuh lebih dalam ke US$ 1.684/troy ons.

“Pola doji yang terbentuk pada Rabu lalu mengindikasikan koreksi dalam sudah selesai. Selama beberapa hari ke depan, ada harapan harga emas akan rebound meski perlahan,” demikian Wang.

emasSumber: Reuters

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Mau Main Emas Hari Ini? Sabar, Baca ‘Contekan’ Ini Dulu…

Pegawai merapikan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Kamis (22/4/2021). Harga emas batangan yang dijual Pegadaian mengalami penurunan nyaris di semua jenis dan ukuran /satuan.  (CNBC Indonesia/Tri Susilo) - Rifan Financindo
Ilustrasi Emas Perhiasan (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Rifan Financindo – Harga emas dunia bergerak mendatar pada perdagangan pagi ini. Ke depan, apakah prospek harga emas masih ‘bersinar’?

Pada Senin (22/11/2021) pukul 08:28 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.844,22/troy ons. Turun tipis hampir flat di 0,02% dibandingkan posisi akhir pekan lalu.

 

Hari ini, investor sepertinya kudu hati-hati. Sebab, ada risiko harga sang logam mulia bisa turun lagi.

Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan target harga emas hari ini ada di kisaran US$ 1.817-1.831/troy ons. Sementara titik resistance diperkirakan di kisaran US$ 1.849-1.869/troy ons.

Namun untuk jangka yang agak panjang, Wang menilai harga emas masih punya ruang untuk naik lagi. Dia memperkirakan harga komoditas ini akan mencoba menguji US$ 1.958/troy ons.

“Harga emas dua kali gagal menembus titik US$ 1.926/troy os. Kini pola double-bottom di titik itu sudah terbentuk sehingga mengindikasikan target harga di US$ 1.958/troy ons,” sebut Wang dalam risetnya.

Saat harga menyentuh US$ 1.958/troy ons, demikian Wang, ada ruang untuk naik lagi hingga ke US$ 1.973/troy ons. Selepas itu, harga emas akan memasuki fase konsolidasi dengan perkiraan menuju US$ 1.856/troy ons.

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Sumber : CNBC Indonesia

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

 

Harga Emas Diramal Melambung! Kamu Telat Masuk Ya…?

Pegawai merapikan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Kamis (22/4/2021). Harga emas batangan yang dijual Pegadaian mengalami penurunan nyaris di semua jenis dan ukuran /satuan.  (CNBC Indonesia/Tri Susilo) - Rifan Financindo
Ilustrasi Emas Batangan (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Rifan Financindo – Harga emas dunia turun tipis pada perdagangan pagi ini. Ke depan, bagaimana ‘ramalan’ harga sang logam mulia?

Pada Jumat (19/11/2021) pukul 06:43 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.858,06/troy ons. Turun tipis 0,02% dari posisi hari sebelumnya.

Koreksi ini tidak menghapus fakta bahwa harga emas sedang dalam tren meningkat. Dalam sebulan terakhir, harga komoditas ini melesat lebih dari 5% secara point-to-point.

Ke depan, rasanya tren kenaikan harga emas masih akan berlanjut. Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan harga emas berpotensi naik hingga US$ 1.878/troy ons dan setelah itu masih bisa menanjak lagi.

“Hal ini terkonfirmasi dengan kenaikan yang tinggi pada Rabu lalu. Dalam waktu dekat, target harga emas berada di kisaran US$ 1.887-1.908/troy ons,” sebut Wang dalam risetnya.

emasSumber: Reuters

Sementara titik support harga emas, lanjut Wang, sepertinya ada di US$ 1.859/troy ons. Penembusan di bawah titik ini akan membawa harga terkoreksi, tetapi tidak terlalu jauh, ke US$ 1.849/troy ons.

Kemudian titik resistance diperkirakan berada di US$ 1.885/troy ons. Jika tertembus, maka harga emas akan melesat ke US$ 1.916/troy ons.

emasSumber: Reuters

TIM RISET CNBC INDONESIA
(aji/aji)

Sumber : CNBC Indonesia

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Bursa Mayoritas Hijau, Bisa Jadi Semangat Baru

Men look at stock quotation boards outside a brokerage in Tokyo, Japan, December 5, 2018.  REUTERS/Issei Kato - Rifan Financindo
Foto: Pria melihat papan kutipan saham di luar broker di Tokyo, Jepang, 5 Desember 2018. REUTERS / Issei Kato

Rifan Financindo – Bursa Asia dibuka menguat pada perdagangan Senin (15/11/2021), jelang rilis sejumlah data ekonomi China pada periode Oktober 2021 hari ini.

Indeks Nikkei Jepang dibuka melesat 0,6%, Hang Seng Hong Kong menguat 0,34%, Shanghai Composite China tumbuh 0,11%, Straits Times Singapura naik tipis 0,05%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,66%.

Dari Jepang, data perkiraan awal pertumbuhan ekonomi Negeri Sakura pada kuartal III-2021 disetahunkan dilaporkan kontraksi menjadi -3%, lebih buruk daripada perkiraan pasar dalam survei Reuters yang memperkirakan berkontraksi menjadi 0,8%.

Hal ini karena ekonomi Jepang yang terus berjuang karena ekspor turun dan belanja konsumen masih melambat di tengah pandemi virus corona (Covid-19) yang masih melanda Negeri Sakura tersebut.

Hasilnya, lebih buruk dibandingkan dengan perkiraan rata-rata penurunan tahunan di angka 0,56%, dalam survei terhadap 37 ekonom oleh Pusat Penelitian Ekonomi Jepang.

Sementara konsumsi swasta turun 1,1% dari kuartal sebelumnya. Jasa layanan seperti makanan turun 0,1%, barang semi-tahan lama seperti pakaian turun 5,0%, dan barang tahan lama seperti peralatan turun 13,1%. Investasi swasta tidak termasuk aset residensial turun 3,8%.

Pada kuartal III-2021, Jepang memberlakukan keadaan darurat di Tokyo, Osaka dan daerah lainnya.

Meskipun Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo diadakan dari Juli hingga awal September, tetapi beberapa fasilitas umum tetap beroperasi terbatas, seperti jam operasional restoran yang lebih pendek, penutupan fasilitas komersial besar, dan tindakan pencegahan lainnya menghentikan perjalanan dan makan malam.

Sementara itu, China akan merilis sejumlah data ekonominya periode Oktober hari ini, termasuk data produksi industrial dan penjualan ritel, pada pukul 10:00 pagi waktu setempat atau pukul 09:00 WIB.

Pergerakan bursa Asia pada hari ini cenderung mengikuti pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street pada perdagangan Jumat (12/11/2021) akhir pekan lalu, meski data menunjukkan sentimen konsumen di AS turun ke level terendah dalam satu dekade terakhir.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup menguat 0,5% ke level 36.100,31, S&P 500 melesat 0,72% ke posisi 4.682,84, dan Nasdaq memimpin dengan melonjak 1% menjadi 15.860,96.

University of Michigan (UoM) melaporkan sentimen konsumen di bulan November jeblok ke 66,8, dari bulan sebelumnya 71,7. Selain menjadi yang terendah sejak November 2011, indeks sentimen konsumen di bulan November juga jauh di bawah estimasi Dow Jones yang justru memprediksi kenaikan menjadi 72,5.

Tingginya inflasi di AS dikatakan menjadi pemicu jebloknya sentimen konsumen.

“Sentimen konsumen menurun di awal November ke level terendah dalam satu dekade akibat kenaikan inflasi, dan banyak konsumen melihat tidak ada kebijakan yang efektif dibuat saat ini untuk mengurangi kerusakan akibat melonjaknya inflasi,” kata Richard Curtin, kepala ekonom survei dari UoM, sebagaimana dilansir CNBC International.

“Saat ini dilaporkan kenaikan harga rumah, kendaraan, dan barang tahan lama lebih banyak terjadi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dalam lebih dari setengah abad yang lalu,” tambahnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA (chd/chd)

Sumber : CNBC Indonesia

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Pelan-pelan, Harga Emas Sudah Hampir Mentok!

Karyawan gerai emas  memperbaiki perhiasan warna emas (chrome) berupa cincin di Cikini Gold Center, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/20). harga emas Antam juga berhasil naik Rp 25.000 menjadi Rp 964.120/gram untuk emas kepingan 100 gram yang lumrah dijadikan acuan. Sedangkan untuk kepingan 1 gram berada di Rp 1.022.000/gram berhasil menembus level 1 juta per gram. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) - Rifan Financindo
Foto: Pengrajin Perhiasan Emas (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Rifan Financindo – Harga emas dunia turun tipis pada perdagangan pagi ini. Koreksi itu sepertinya disebabkan hasrat investor untuk mencairkan cuan.

Pada Rabu (10/11/2021) pukul 07:21 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.830,29/troy ons. Turun 0,06% dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Kemarin, harga emas ditutup di US$ 1.831,48/troy ons, naik 0,4%. Kenaikan ini menggenapi tren penguatan harga sang logam mulia menjadi empat hari beruntun. Selama empat hari tersebut, harga naik 3,5%.

 Oleh karena itu, sangat wajar kalau investor ingin merealisasikan keuntungan yang sudah didapat. Soalnya, jarang-jarang emas bisa begini pada 2021. Sejak akhir 2020 (year-to-date), harga emas masih membukukan koreksi 3,57% secara point-to-point.

\

Data Inflasi AS Tentukan Nasib Emas

Dalam waktu dekat, sentimen yang akan mempengaruhi harga emas adalah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) malam ini waktu Indonesia. Konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan laju inflasi Negeri Paman Sam pada Oktober 2021 adalah 5,8% year-on-year (yoy). Ini akan menjadi inflasi di atas 5% selama lima bulan beruntun.

Percepatan laju inflasi akan membuat bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) makin yakin untuk menaikkan suku bunga acuan tahun depan. Kenaikan suku bunga acuan akan menjadi ‘obat kuat’ bagi dolar AS dan mimpi buruk buat emas.

Harga emas dan dolar AS punya hubungan berbanding terbalik. Saat dolar AS perkasa, maka emas justru merana.

Ini karena emas adalah aset yang dibanderol dalam dolar AS. Begitu mata uang Negeri Adidaya menguat, maka emas menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Permintaan emas turun, harga pun mengikuti.

“Saat harga mendekati kisaran US$ 1.830-1.835/troy ons, sepertinya investor bakal mulai khawatir. Soalnya, harga emas tidak berhasil menembus di atas itu pada Juli dan Agustus lalu,” kata Phillip Streible, Chief Market Strategist di Blue Lines Futures yang berbasis di Chicago (AS), seperti dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Sumber : CNBC Indonesia

Wah…Wah! Bursa Asia Merah Membara, kecuali Kospi

A woman walks past an electronic board showing Hong Kong share index outside a local bank in Hong Kong, Monday, April 1, 2019. Shares have surged in Asia following a bullish Friday on Wall Street, where the benchmark S & P 500 logged its biggest quarterly gain in nearly a decade. (AP Photo/Vincent Yu) - Rifan Financindo
Foto: Bursa Hong Kong (AP Photo/Vincent Yu)

Rifan Financindo – Mayoritas bursa Asia dibuka melemah pada perdagangan Rabu (3/11/2021), di tengah sikap investor yang cenderung berhati-hati menanti hasil rapat dari bank sentral Amerika Serikat (AS) pada Kamis (4/11/2021) dini hari waktu Indonesia.

Hanya indeks KOSPI Korea Selatan yang dibuka di zona hijau pada pagi hari ini, yakni dibuka menguat 0,21%.

Sedangkan sisanya dibuka di zona merah. Indeks Hang Seng Hong Kong dibuka melemah 0,31%, Shanghai Composite China terkoreksi 0,2%, dan Straits Times Singapura turun 0,11%.

Sementara untuk indeks Nikkei Jepang pada hari ini tidak dibuka karena sedang libur nasional memperingati hari ‘Bunka no Hi’ (Hari Kebudayaan).

Dari Korea Selatan, Saham Kakao Pay yang baru pertama kali diperdagangkan di bursa saham Korea Selatan pada Rabu (2/11/2021) kemarin melonjak lebih dari dua kali lipat dari harga penerbitan sebesar 90.000 won, atau meroket hingga sekitar 108% dari harga penerbitannya.

Adapun saham Kakao lainnya, yakni Kakao Games juga melonjak 3,47%. Namun saham Kakao Corp merosot 0,39% dan Kakao Bank turun 4,99%.

Sementara itu dari China, data aktivitas jasa yang tergambarkan pada Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Manager’s Index/PMI) periode Oktober akan dirilis pada hari ini pukul 09:45 waktu setempat atau pukul 08:45 WIB.

Melemahnya sebagian besar bursa Asia pada awal perdagangan hari ini terjadi di tengah kembali menguatnya bursa saham AS, Wall Street pada penutupan perdagangan Rabu kemarin waktu setempat atau dini hari tadi waktu Indonesia.

Tiga indeks utama di Wall Street ditutup menghijau. Indeks Dow Jones ditutup menguat 0,39% ke level 36.052,63, S&P 500 bertambah 0,37% ke 4.630,71, dan Nasdaq Composite tumbuh 0,34% ke posisi 15.649,60.

Meskipun Wall Street kembali menguat bahkan kembali mencetak rekor tertinggi barunya, namun investor di Wall Street cenderung memasang sikap wait and see.

Hal ini karena mereka menanti hasil dari rapat Komite Pengambil Kebijakan (Federal Open Market Committee/FOMC) oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang dimulai pada hari ini hingga Kamis dini hari waktu Indonesia.

Pasar memperkirakan suku bunga acuan tetap bertahan di 0-0,25%. Mengutip CME FedWatch, peluang Federal Funds Rate tetap mencapai 100%.

Namun kali ini, pelaku pasar tidak berfokus pada suku bunga acuan, tetapi mereka berfokus pada pengurangan pembelian surat berharga alias tapering off.

Sejak tahun lalu, Ketua The Fed Jerome Powell dan koleganya memutuskan untuk memborong surat berharga di pasar senilai US$ 120 miliar setiap bulannya. Ini dilakukan untuk menopang perekonomian Negeri Paman Sam yang babak belur dihantam pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19).

Namun kini ekonomi AS sudah mulai pulih. Laju inflasi terakselerasi, pertanda konsumsi dan daya beli sudah kembali. Penciptaan lapangan kerja semakin masif, angka pengangguran pun menurun.

Oleh karena itu, mungkin sudah saatnya The Fed menginjak rem. Injeksi likuiditas mungkin sudah tidak perlu terlampau besar.

Pasar berekspektasi The Fed akan mengumumkan tapering esok hari. Sebagai awalan, pembelian surat berharga diperkirakan bakal berkurang US$ 15 miliar.

Nantinya pembelian surat berharga diperkirakan berkurang US$ 15 miliar setiap bulannya. Dengan kecepatan itu, maka tapering akan selesai dalam delapan bulan atau pertengahan tahun 2022. Baru setelah itu mungkin The Fed mulai memikirkan soal kenaikan suku bunga acuan.

“Sejauh ini The Fed melakukan komunikasi dengan baik kepada publik, sehingga rasanya besok tidak akan ada kejutan. Namun kami melihat pasar mulai melakukan penyesuaian, karena kemungkinan iklim suku bunga tinggi akan segera datang,” kata Rick Meckler, Partner di Cherry Lane Investments yang berbasis di New Jersey (AS), seperti dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA (chd/chd)

Sumber : CNBC Indonesia

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

‘Berkah’ buat Emas, 3 Momen Besar Ini Bakal Kerek Harganya!

Pegawai merapikan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Kamis (22/4/2021). Harga emas batangan yang dijual Pegadaian mengalami penurunan nyaris di semua jenis dan ukuran /satuan.  (CNBC Indonesia/Tri Susilo) - Rifan Financindo
Foto: Pegawai merapikan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Kamis (22/4/2021). Harga emas batangan yang dijual Pegadaian mengalami penurunan nyaris di semua jenis dan ukuran /satuan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Rifan Financindo – Harga emas dunia diprediksi bakal terus bertahan di level US$ 1.800/troy ons seiring dengan tiga sentimen yang akan menjadi pendorong kenaikan harganya.

Pada Kamis kemarin (28/10/2021) pukul 07:52 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.794,57/troy ons, turun 0,12% dibandingkan dengan posisi di sehari sebelumnya.

Namun pada perdagangan Kamis malam, pukul 22.34 WIB, Kitco mencatat harga emas naik 7% menjadi US$ 1.804/troy ons.

Analis sekaligus Pimpinan Cabang PT Rifan Financindo Berjangka, Lisa Usfie mengatakan ada tiga sentimen yang bakal menjadi katalis positif harga emas dunia.

“Deepavali, Tappering Off dan Window Dressing adalah tiga momen yang paling ditunggu para investor locogold [loco london, perdagangan berjangka emas] di penghujung tahun ini. Pasalnya, harga emas diprediksi bakal melonjak tajam pada tiga momen tersebut,” katanya dalam keterangannya kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (29/10).

Dia menjelaskan, Deepavali, atau dalam agama Hindu berarti “Festival Cahaya”, jatuh pada 4 November mendatang dan diramalkan akan mengerek harga emas menuju ke level US$ 1.800/toz.

Hal ini mengingat permintaan emas yang tetap tinggi menjelang Hari Raya Cahaya meski dalam situasi pandemi.

Kemudian isu tappering off atau pengurangan stimulus bank sentral AS (the Fed) yang sebelumnya digadang-gadang terjadi pada September lalu namun diundur dengan melihat progress maksimum lapangan kerja dan data inflasi Amerika sampai pertengahan tahun depan, memang sempat membuat emas ambrol sampai ke level US$ 1.721/toz.

Tapi tekanan turun kembali terjadi menjelang rapat dewan gubernur The Fed, yakni FOMC meeting, pada 2-3 November mendatang.

Pada 25 Oktober, harga emas sebelumnya diprediksi US$ 1.813/troy ons tetapi tidak ditembus dan diprediksikan terkoreksi sampai ke level support (batas tahanan bawah) di kisaran US$ 1.700-1.740/troy ons untuk melesat kembali rebound sampai akhir November 2021 ke level US$ 1.830-1.860/troy ons.

“Aroma kenaikan harga emas telah dimulai sejak minggu kedua Oktober tahun ini. Dari level harga US$ 1.700/troy ons, kini emas terus menyundul ke level US$ 1.800/troy ons,” katanya.

Dia menjelaskan, pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang terkoreksi terhadap enam mata uang lain hingga 0,3% lebih dalam beberapa minggu terakhir menjadi salah satu penyebab pula.

Hingga akhir tahun, harga emas diperkirakan akan menutup di atas level US$ 1.810/troy ons.

Namun yang jelas, katanya, di setiap menjelang akhir tahun emas berjangka hampir dipastikan memiliki peluang keuntungan yang tinggi.

Tahapannya dimulai dari menjelang perayaan Diwali, para investor bisa mengambil posisi buy karena harga emas biasanya akan menguat.

Kemudian setelah Diwali, menuju window dressing emas akan terdorong turun dengan menghijaunya harga saham di pasar keuangan, maka para investor disarankan untuk tetap mengambil posisi buy dan menahan posisi hingga pergantian akhir tahun, emas akan kembali mengudara seiring adanya January Effect di awal tahun dan perayaan Imlek.

Secara umum, window dressing adalah strategi yang digunakan oleh manajer investasi untuk mempercantik portofolio sebelum dipresentasikan kepada klien atau pemegang saham.

Di sisi lain, secara teknikal Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan level support harga emas ada di kisaran US$ 1.783-1.764/troy ons. Sementara level resistance (tahanan atas) ada di US$ 1.802-1.814/troy ons.

Akan tetapi, Wang menilai harga emas akan bergerak netral di rentang US$ 1.783-1.795/troy ons. Ketika berhasil lepas dari fase konsolidasi ini baru bisa terlihat ke mana harga akan bergerak.

“Penembusan ke atas US$ 1.795/troy ons akan membawa harga emas naik ke kisaran US$ 1.802-1.813/troy ons,”sebut Wang dalam risetnya.(tas/tas)

Sumber : CNBC Indonesia

Kabar Gembira untuk Kita Semua! Harga Emas ‘Mengudara’…

Pegawai merapikan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Kamis (22/4/2021). Harga emas batangan yang dijual Pegadaian mengalami penurunan nyaris di semua jenis dan ukuran /satuan.  (CNBC Indonesia/Tri Susilo) - Rifan Financindo
Ilustrasi Emas Perhiasan (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Rifan Financindo – Harga emas dunia naik pada perdagangan pagi ini. Ke depan, bagaimana nasib harga sang logam mulia?

Pada Senin (25/10/2021) pukul 07:02 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di Rp 1.794,37/troy ons. Naik 0,11% dibandingkan posisi akhir pekan lalu.

Harga emas dunia tidak disangka-sangka tengah berada dalam tren bullish. Dalam sebulan terakhir, harga komoditas ini naik 2,53%.

Pekan lalu, harga emas berhasil mencatat kenaikan 1.43%. Lebih tinggi dibandingkan pekan sebelumnya yang naik 0,6%.

Kenaikan harga emas ‘dirangsang’ oleh pelemahan nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Dalam seminggu ini, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) terkoreksi 0,3%.

Harga emas dan dolar AS punya hubungan yang berbanding terbalik. Saat dolar AS melemah, harga emas justru bergairah.

Ini karena emas adalah aset yang dibanderol dalam dolar AS. Ketika dolar AS mengalami depresiasi, emas jadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain. Permintaan emas naik, harga pun terungkit.

Harga Emas Masih Bisa Naik Lagi

Ke depan, bagaimana nasib harga emas? Apakah masih bisa naik lagi?

Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan peluang kenaikan harga emas masih terbuka. Setelah menembus titik resistance US$ 1.788/troy ons, harga bisa lanjut naik ke kisaran US$ 1.795-1.798/troy ons.

emas
Sumber: Reuters

Apabila target itu sudah terlampaui, lanjut Wang, maka berikutnya harga emas akan menguji target baru di US$ 1.828. Namun untuk menuju ke sana, harga emas harus melalui ‘tembok’ tebal US$ 1.800.troy ons.

emas
Sumber: Reuters

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Sumber : CNBC Indonesia

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Ramalan Harga Emas Terbaru: Naik Tipis, Terus Di-Smack Down!

Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder - Rifan Financindo
Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

Rifan Financindo – Harga emas dunia naik tipis pada perdagangan pagi ini. Ke depan, bagaimana prospek harga sang logam mulia?

Pada Selasa (19/10/2021) pukul 07:55 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.766,16/troy ons. Naik tipis 0,09% dari posisi hari sebelumnya.

Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Sepertinya pepatah itu cocok diaplikasikan untuk harga emas.

Memang betul harga emas hanya bisa naik tipis-tipis. Namun dari situ harga emas bisa membukukan kenaikan 0,41% dalam sepekan terakhir.

Tren Koreksi Harga Emas Masih Akan Terjadi

Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan momentum kenaikan harga emas masih bisa berlanjut. Dia menilai harga emas akan menguji titik resistance di US$ 1.776/troy ons yang jika tertembus akan membuat harga naik ke US$ 1.783/troy ons.

emas
Sumber: Reuters

Apabila harga emas bisa stabil di atas US$ 1.764/troy ons, lanjut Wang, maka tren kenaikan bisa terjaga. Namun jika titik support itu tertembus, maka harga akan turun ke rentang US$ 1.752-1.757/troy ons.

Oleh karena itu, Wang memperkirakan momentum kenaikan harga emas tidak akan bertahan lama. Melihat grafik perdagangan harian, harga emas gagal menembus titik resistance US$ 1.800/troy ons dan malah menembus titik support US$ 1.773/troy ons.

“Pergerakan harga yang drastis pada 15 Oktober 2021 memberi sinyal tren penurunan masih akan terjadi. Harga emas mungkin akan jatuh hingga ke US$ 1.739/troy ons dan kemudian mengalami konsolidasi dekat dengan US$ 1.773/troy ons,” tulis Wang dalam risetnya.

emas
Sumber: Reuters

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Sumber : CNBC Indonesia

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan