Separah Apa Harga Emas Bakal Anjlok? Cek di Sini…

Pegawai merapikan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Kamis (22/4/2021). Harga emas batangan yang dijual Pegadaian mengalami penurunan nyaris di semua jenis dan ukuran /satuan.  (CNBC Indonesia/Tri Susilo) - PT Rifan Financindo
Ilustrasi Emas Batangan (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

PT Rifan Financindo – Harga emas dunia bergerak turun pada perdagangan pagi ini. Ke depan, separah apa nasib harga sang logam mulia?

Pada Jumat (15/10/2021) pukul 06:56 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.794,67/troy ons. Turun tipis 0,05% dari hari sebelumnya.

Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan harga emas masih bisa turun lagi. Menurutnya, harga komoditas ini akan menguji titik support US$ 1.783/troy ons. Jika tertembus, maka harga akan ‘longsor’ ke kisaran US$ 1.770-1.776/troy ons.

“Rabu lalu, harga emas naik cukup tajam. Setelah itu, harga bergerak zig-zag yang mengindikasikan akan ada penurunan yang cukup dalam,” sebut Wang dalam risetnya.

emas
Sumber: Reuters

Sementara titik resistance harga emas, lanjut Wang, ada di US$ 1.9795/troy ons. Apabila tertembus, maka harga bisa naik ke rentang US$ 1.807-1.814/troy ons.

Namun melihat grafik perdagangan harian, tambah Wang, sepertinya tren bearish masih membayangi harga emas. Kemungkinan harga bakal mengarah ke US$ 1,839-1.773/troy ons.

Meski begitu, demikian Wang, jika ternyata harga bisa naik ke atas US$ 1.800/troy ons, maka pola ini menjadi tidak valid. Ketika ini terjadi, investor boleh memasang target bullish di US$ 1.828-1.862/troy ons.

emas
Sumber: Reuters

TIM RISET CNBC INDONESIA
(aji/aji)

Dolar AS Tetap Perkasa, Emas Tambah Sengsara…

Ilustrasi Emas Pegadaian. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) - PT Rifan Financindo
Foto: Ilustrasi Emas Pegadaian (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

PT Rifan Financindo – Harga emas dunia turun tipis pada perdagangan pagi ini. Ke depan, harga emas akan ditentukan oleh dinamika nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS).

Pada Senin (11/10/2021) pukul 07:03 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.753,76/troy ons. Turun 0,17% dibandingkan posisi akhir pekan lalu.

Nasib harga emas sangat ditentukan oleh nilai tukar dolar AS. Dua aset ini memiliki hubungan yang berbanding terbalik, ketika dolar AS lesu maka harga emas akan menanjak.Ini karena emas adalah aset yang dibanderol dalam dolar AS. Ketika dolar AS melemah, maka emas menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain. Permintaan emas naik, harga pun terungkit.

Demikian pula jika dolar AS menguat. Harga emas jadi lebih mahal bagi investor yang memiliki mata uang lain sehingga permintaan terhadap sang logam mulia akan turun dan harga pun mengikuti.

 

Data Tenaga Kerja AS Mengecewakan

Akhir pekan lalu ada kabar yang kurang mengenakkan dari Negeri Paman Sam. US Bureau of Labor Statistics melaporkan perekonomian AS menciptakan 194.000 lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll) pada September 2021. Jauh di bawah konsensus pasar yang dihimpun Reuters dengan perkiraan 500.000 dan menjadi yang terendah sejak Desember 2020.

Brad McMillan, Chief Investment Officer di Commonwealth Financial Network, menilai warga Negeri Adidaya masih khawatir untuk beraktivitas di luar rumah. Bagaimanapun pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) belum selesai, risiko tertular masih ada.”Masalah terbesarnya bukan pertumbuhan penciptaan lapangan kerja yang melambat. Melainkan orang-orang masih takut untuk kembali bekerja,” tegas McMillan kepada Reuters.

Namun ada kabar gembira. Pada Agustus 2021, awalnya angka non-farm payroll ada di 235.000. Namun kemudian ada revisi ke atas menjadi 366.000.

Selain itu, angka pengangguran juga terus turun. Tingkat pengangguran Negeri Stars and Stripes pada September 2021 adalah 4,8%, terendah sejak Maret 2020 atau sudah kembali ke level pra-pandemi.

 

The Fed Rasanya Tetap Umumkan Tapering Bulan Depan

Apa hubungan pasar tenaga kerja dengan dolar AS? Besar sekali.

Data ketenagakerjaan adalah salah satu pertimbangan utama bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) untuk menentukan kebijakan moneter. Pasar menilai meski terjadi perlambatan dalam pembukaan lapangan kerja, tetapi Ketua Jerome ‘Jay’ Powell dan sejawat diperkirakan tetap akan segera melakukan pengetatan dengan mengurangi pembelian aset (tapering off). Berdasarkan jajak pendapat yang digelar Reuters, pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mengumumkan tapering dalam pertemuan 2-3 November 2021.

“Batasan The Fed untuk melakukan tapering sangat rendah. Sepertinya kombinasi revisi data Agustus, penurunan tingkat pengangguran, dan sinyal keketatan pasar tenaga kerja sudah lebih dari cukup,” kata Andrew Hollenhorst, Ekonom Citigroup yang berbasis di New York, sebagaimana diwartakan Reuters.

“Meski data penciptaan lapangan kerja relatif lemah, tetapi jika Anda melihat sedikit lebih dalam ada bukti kuat bahwa ekonomi cukup solid. Rasanya tidak ada yang bisa menghalangi The Fed untuk mengumumkan tapering bulan depan,” tambah Shinichiro Kuroda, Senior FX Startegist di Barclays, juga dikutip dari Reuters.

Tapering, yang kemungkinan bakal diumumkan bulan depan, membuat investor berekspektasi pasokan dolar AS akan mulai berkurang. Seperti barang, pasokan yang tidak lagi melempah akan membuat ‘harga’ naik.

Benar saja. Pada pukul 07:26 WIB, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,1%. Penguatan ini yang kemudian menekan harga emas.

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Waspada, Ada ‘Racun’ yang Bakal Buat Harga Emas Pingsan!

Petugas menunjukkan koin emas Dirham di Gerai Butik Emas Antam, Jakarta, Kamis (4/2/2021). Bank Indonesia (BI) mengajak masyarakat dan berbagai pihak untuk menjaga kedaulatan Rupiah sebagai mata uang NKRI.    (CNBC Indonesia/ Tri Susislo) - PT Rifan Financindo
Foto: Koin Emas Dirham (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

PT Rifan Financindo – Harga emas dunia naik tajam pada perdagangan kemarin. Namun pagi ini, harga langsung turun lagi meski tipis saja.

Kemarin, harga emas dunia di pasar spot ditutup US$ 1.757,44/troy ons. Melonjak 1,82% dibandingkan hari sebelumnya.

Lalu pada Jumat (1/10/2021) pukul 05:22 WB, harga berada d US$ 1.755,36/troy ons. Turun tipis 0,12%.

Harga sang logam mulia naik tajam merespons data ketenagakerjaan terbaru di Amerika Serikat (AS). Pada pekan yang berakhir 25 September 2021, klaim tunjangan pengangguran bertambah 11.000 dari minggu sebelumnya menjadi 362.000. Tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, di mana konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan jumlahnya turun menjadi 335.000.

Data ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja sepertinya belum pulih betul dari dampak pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Sepanjang jalan menuju penciptaan lapangan kerja maksimal (maximum unemployment) belum terlihat, maka bank sentral AS The Federal Reserve/The Fed mungkin saja tetap mempertahankan kebijakan moneter akomodatif.

“Ada ketidakpastian soal kapan The Fed akan melakukan tapering (pengurangan pembelian surat berharga). Seperti diketahui, The Fed ingin pasar tenaga kerja yang kuat sebelum mengumumkan tapering,” kata Robin Bhar, seorang konsultan independen, seperti dikutip dari Reuters.

Selain itu, lanjut Bhar, emas juga kembali menjadi aset yang diburu pelaku pasar karena investor ingin melakukan lindung nilai (hedging) atas risiko percepatan laju inflasi di Negeri Paman Sam.

Ada ‘Racun’ Buat Harga Emas

Akan tetapi, kenaikan harga emas kemarin dinilai hanya riak kecil di tengah samudera koreksi harga emas. Ya, sepertinya masa depan harga emas masih suram, risiko penurunan sangat besar.

Sebab meski klaim tunjangan pengangguran naik, tetapi rasanya cuma fenomena musiman. Klaim meningkat karena Negara Bagian California mengalihkan penerima Pandemic Emergency Unemployment Compensation (PEUC) yang berakhir pada 4 September 2021 ke Federal State Extended Duration.

Tunjangan ini adalah tambahan dari yang diberikan pemerintah, penerima akan mendapatkan tambahan bernilai satu minggu bantuan. Alhasil, banyak yang mengklaim tunjangan tersebut sehingga terjadi distorsi.

 “Jadi rasanya peningkatan klaim tunjangan pengangguran secara nasional tidak terlalu mengkhawatirkan. Itu hanya disebabkan oleh kejadian di California, ujar Ryan Sweet, Ekonom Senior Moody’s Analytics, sebagaimana diwartakan Reuters.
Oleh karena itu, pasar tetap meyakini bahwa The Fed akan memulai tapering pada November 2021 alias bulan depan. Tidak lama lagi, pasokan dolar AS akan berkurang, tidak akan semelimpah sekarang, karena The Fed mengurangi ‘dosis’ pembelian aset. Hasilnya, nilai tukar dolar AS sepertinya bakal menguat.

“Keperkasaan dolar AS yang diiringi oleh kenaikan yield (imbal hasil) oblgasi adalah racun bagi emas. Dalam waktu dekat, ada risiko harga akan turun mungkin sampai ke US$ 1.700/troy ons,” sebut riset Commerzbank.

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Sumber : CNBC Indonesia

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Ramalan Harga Emas Minggu Ini: Masih Kurang Gairah, Gan…

Pegawai merapikan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Kamis (22/4/2021). Harga emas batangan yang dijual Pegadaian mengalami penurunan nyaris di semua jenis dan ukuran /satuan.  (CNBC Indonesia/Tri Susilo) - PT Rifan Financindo
Ilustrasi Emas Perhiasan (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

PT Rifan Financindo – Harga emas dunia melemah sepanjang minggu lalu. Kira-kira bagaimana prospek harga sang logam mulia? Apakah ada harapan bisa naik lagi?

Minggu lalu, harga emas dunia di pasar spot melemah 0,26% secara point-to-point. Dalam sebulan terakhir, harga terkoreksi 2,29%. Sementara sejak akhir 2020 (year-to-date), terjadi penurunan 7,74%.

Mengutip Refinitiv, sepertinya harga emas masih akan bergerak konsolidatif sepanjang pekan ini. Titik support diperkirakan di US$ 1.721/troy ons dan resistance US$ 1.776/troy ons.

 

Dolar Berjaya, Emas Sengsara

Prospek harga emas memang masih samar-samar. Penguatan harga komoditas ini akan tertahan oleh tren apresiasi nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat (AS).Dalam sebulan terakhir, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) naik 0,64%.

Harga emas dan dolar AS punya hubungan berbanding terbalik. Saat dolar AS perkasa, maka harga emas akan tertekan.

Ini karena emas adalah aset yang dibanderol dalam dolar AS. Kala dolar AS mengalami apresiasi, emas jadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Permintaan emas turun, harga pun mengikuti.

Penyokong keperkasaan dolar AS adalah dinamika arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve/The Fed. Dalam rapat pekan lalu, Komite Pembuat Kebijakan The Fed (Federal Open Market Committee/FOMC) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan ultra rendah 0-0,25%.Akan tetapi, ada indikasi bahwa The Fed bakal menaikkan Federal Funds Rate lebih cepat yaitu 2022 alias tahun depan. Bukan 2023 seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Berdasarkan dotplot terbaru, enam anggota FOMC menilai suku bunga acuan sudah bisa naik ke 0,25-0,5% pada 2022. Sementara tiga anggota lainnya lebih agresif lagi, bisa naik sampai 0,5-0,75%.

Dalam rapat FOMC edisi Juni 2021, jumlah anggot FOMC yang menginginkan Federal Funds Rate naik pada 2022 masih lebih sedikit dari itu. Ada lima anggota yang ingin suku bunga naik ke 0,25-0,5% pada 2022, dan hanya dua yang agresif dengan kenaikan 0,5-0,75%.

fed
Sumber: FOMC

Kenaikan suku bunga acuan akan ikut mendongrak imbalan investasi aset-aset berbasis dolar AS, terutama instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi. Benar saja, sepanjang minggu lalu, imbal hasil (yield) oblligasi pemerintah AS melonjak 14,02 basis poin (bps).

Emas adalah aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset). Saat suku bunga tinggi, berinvestasi di aset tanpa imbal hasil menjadi tidak menarik karena tidak menawarkan bunga.

“Jadi saat suku bunga naik, yield naik, itu yang menarik harga emas ke bawah,” ujar Daniel Ghali, Commodity Strategist di TD Securities, seperti dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

 

Sumber : CNBC Indonesia

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Mau Anjlok Sampai Seberapa Parah Kau, Emas?

Petugas menunjukkan emas batangan di sebuah gerai emas di Pegadaian, Jakarta. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) - PT Rifan Financindo
Ilustrasi Emas Batangan (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

PT Rifan Financindo – Harga emas dunia bergerak naik pada perdagangan pagi ini. Namun apakah bisa bertahan lama?

Pada Selasa (21/9/2021) pukul 05:47 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.764,21/troy ons. Naik 0,57% dibandingkan hari sebelumnya. Demikian dikutip dari data Trading Economics.

Akan tetapi, Analis Komoditas Reuters Wang Tao memperkirakan harga sang logam mulia masih akan melanjutkan tren bearish. Sebagai informasi, harga emas membukukan koreksi 1,63% secara mingguan dan 2,27% secara bulanan.

Dalam waktu dekat, Wang menilai harga emas akan menguji titik support di US$ 1.743/troy ons. Penembusan di titik ini akan membawa harga ‘longsor’ ke kisaran US$ 1.724-1.736/troy ons.

“Setelah harga menyentuh US$ 1.833,8/troy ons pada 3 September 2021, tren penurunan telah terbentuk. Memang akan ada rebound, tetapi sangat sebentar. Kalau pun rebound, mungkin terbatas hingga ke US$ 1.764/troy ons,” terang Wang dalam risetnya.

emas
Sumber: Reuters

 

Nasib Emas di Tangan The Fed

Faktor utama yang menekan harga emas adalah penguatan nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Pada pukul 05:55 WIB, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,03%. Dalam seminggu terakhir, indeks ini naik 0,65%.

Dua aset ini punya hubungan yang berbanding terbalik. Saat dolar AS perkasa, harga emas justru merana.

Ini karena emas adalah komoditas yang dibanderol dalam dolar AS. Ketika dolar AS terapresiasi, maka harga emas jadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Permintaan emas turun, harga pun mengikuti.

Penguatan dolar AS ditopang oleh penantian pasar terhadap rapat bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed). Ada ekspektasi Ketua Jerome ‘Jay’ Powell akan lebih tegas, lebih berani menyampaikan soal rencana pengetatan kebijakan (tapering off) seiring ekonomi Negeri Paman Sam yang mulai bangkit setelah ambruk dihantam pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19).

Tapering akan menyebabkan pasokan dolar AS berkurang, karena The Fed mengurangi suntikan likuiditas (quantitative easing) melalui pembelian surat berharga. Seperti barang, pasokan mata uang yang berkurang membuat ‘harga’ naik.

“Oleh karena itu, pasar sedang bearish terhadap emas. Beberapa titik support seperti US$ 1.780/troy ons dan US$ 1.750/troy ons sudah tertembus. Mungkin harga emas akan menguji titik support US$ 1.700/troy ons,” sebut Stephen Innes, Managing Partner di SPI Asset Management, seperti dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Kabar Terkini: Tren Kenaikan Harga Emas Berakhir!

FILE PHOTO: An employee shows gold bullions at Degussa shop in Singapore June 16, 2017. REUTERS/Edgar Su/File Photo - PT Rifan Financindo
Ilustrasi Emas Batangan (REUTERS/Edgar Su)

PT Rifan Financindo – Harga emas dunia bergerak turun pada perdagangan pagi ini. Harga sang logam mulia bertahan di bawah US$ 1.800/troy ons.

Pada Jumat (10/9/2021) pukul 05:54 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.794,17/troy ons. Turun tipis 0,03% dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Bagaimana prospek harga emas ke depan? Sayangnya, ada kabar yang kurang menggembirakan.

Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan harga emas masih akan menjalani koreksi. Dia menilai harga komoditas ini akan menguji titik support di US$ 1.773/troy ons yang jika tertembus bisa membuatnya turun lebih jauh ke US$ 1.739/troy ons.
emas
Sumber: Reuters

“Sepertinya tren kenaikan harga sudah berakhir, indikasinya adalah koreksi tajam setelah menyentuh US$ 1.833,8/troy ons pada 3 September 2021 lalu. Ada sinyal harga emas akan masuk tren bearish,” sebut Wang dalam risetnya.

Harapan kenaikan harga masih ada. Wang memperkirakan titik resistance harga emas ada di US$ 1.800/troy ons yang jika tertembus bisa lanjut ke US$ 1.828/troy ons.

Akan tetapi, lanjut Wang, sepertinya target harga emas bisa naik ke level US$ 1.800/troy ons masih terlalu muluk. Menurutnya, harga emas memang akan rebound saat melewati US$ 1.782/troy ons. Namun kenaikan harga kemungkinan akan terbatas, mentok di US$ 1.798/troy ons.

emas
Sumber: Reuters

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Sumber : CNBC Indonesia

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Waspada, Harga Emas Rawan Longsor!

Pegawai merapikan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Kamis (22/4/2021). Harga emas batangan yang dijual Pegadaian mengalami penurunan nyaris di semua jenis dan ukuran /satuan.  (CNBC Indonesia/Tri Susilo) - PT Rifan Financindo
Ilustrasi Emas Batangan (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

PT Rifan Financindo – Harga emas dunia bergerak naik sepanjang pekan lalu. Ke depan, bagaimana prospek harga sang logam mulia?

Sepanjang minggu kemarin, harga emas dunia di pasar spot naik 0,6% secara point-to-point. Harga komoditas in mulai nyaman di atas US$ 1.800/troy ons.

Pada Senin (6/9/2021), harga emas dunia masih naik. Pada pukul 06″01 WIB, harga di pasar spot tercatat US$ 1.827,96/troy ons. Naik 0,1% dibandingkan posisi akhir pekan lalu.

Namun sepertinya euforia kenaikan harga emas tidak akan bertahan lama. Soalnya, ada risiko harga bakal ‘longsor ‘ ke bawah US$ 1.800/troy ons.

Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan harga emas akan cenderung turun. Dia menilai target harga di kisaran US$ 1.788-1.797/troy ons cukup realistis.

emas
Sumber: Reuters

“Harga emas memang sedang mengalami proses konsolidasi. Namun proses ini sudah berlangsung terlalu lama, sehingga potensi harga naik menjadi samar-samar,” sebut Wang dalam risetnya.

Wang menambahkan, ada dua titik harga yang patut dicermati oleh investor yaitu titik support US$ 1.800/troy ons dan resistance di US$ 1.828/troy ons. Jika titik support tertembus, maka risiko koreksi hingga ke US$ 1.773/troy ons menjadi terbuka. Namun kalau titik resistance yang tertembus, maka bersiaplah harga emas bisa mencapai US$ 1.862/troy ons.

emas
Sumber: Reuters

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

‘Kutukan’ Harga Emas Sudah Patah!

Suasana pasar pusat perhiasan Cikini, Jakarta Pusat - PT Rifan Financindo
Ilustrasi Emas Perhiasan (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

PT Rifan Financindo – Harga emas dunia turun tipis pada perdagangan pagi hari ini. Ke depan, bagaimana nasib harga sang logam mulia?

Pada Selasa (31/8/2021) pukul 06:14 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.809,65/troy ons. Turun 0,03% dari posisi hari sebelumnya.

emas

Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan gejolak harga emas sepertinya tidak akan terlalu tinggi. Menurutnya, harga akan bergerak cenderung stabil di atas titik support US$ 1.808/troy ons dan kemudian mencoba menguji titik resistance US$ 1.826/troy ons.

“Harga emas sudah sepertinya sudah mematahkan tren penurunan. Harga akan bangkit ke kisaran US$ 1.808/troy ons dan mungkin bisa menuju ke US$ 1.856-1.904/troy ons,” sebut Wang dalam risetnya.

emas
Sumber: Reuters

Jika harga terkoreksi ke bawah US$ 1.808/troy ons, lanjut Wang, maka penurunannya tidak akan dalam. Mungkin hanya sampai ke US$ 1.797/troy ons.

“Melihat grafik pergerakan harian, sepertinya harga emas masih berada di fase konsolidasi. Proses ini membuat harga tidak banyak bergerak, flat, dan terdiri dari tiga gelombang. Saat ini kita berada di gelombang C, yang bisa membawa harga mendekati US$ 1.916/troy ons,” papar Wang.

emas
Sumber: Reuters

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Jangan Kaget Emas Terbang Pekan Ini! Begini Ramalan Para Ahli

FILE PHOTO: An employee sorts gold bars in the Austrian Gold and Silver Separating Plant 'Oegussa' in Vienna, Austria, December 15, 2017.  REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo - PT Rifan Financindo
Foto: REUTERS/Leonhard Foeger

PT Rifan Financindo – Harga emas dunia mampu mencatat penguatan 0,1% pada pekan lalu ke US$ 1.780,86/troy ons, padahal isu tapering sedang panas-panasnya.

Tapering merupakan musuh utama emas saat ini, pernah terjadi pada tahun 2013, emas ketika itu masuk dalam tren menurun hingga tahun 2015. Dari rekor tertinggi saat itu yang dicapai September 2011, emas dunia ambrol hingga 45%.

Tapering bahkan tidak sekedar isu tetapi keluar langsung dari bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed). Risalah rapat kebijakan moneter The Fed edisi Juli yang dirilis pekan lalu menunjukkan peluang tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) di tahun ini.

Inflasi di AS yang dikatakan sudah mencapai target dan pemulihan pasar tenaga kerja juga hampir sesuai ekspektasi, membuat mayoritas anggota dewan memilih tapering di tahun ini.

“Melihat ke depan, sebagian besar partisipan (Federal Open Market Committee/FOMC) mencatat bahwa selama pemulihan ekonomi secara luas sesuai dengan ekspektasi mereka, maka akan tepat untuk melakukan pengurangan nilai pembelian aset di tahun ini,” tulis risalah tersebut yang dirilis Kamis (19/8/2021) dini hari waktu Indonesia.

Oleh karena itu, emas yang mampu mencatat penguatan tipis pada pekan lalu bisa dikatakan bisa dikatakan membukukan kinerja yang apik.

Penguatan berlanjut lagi pada perdagangan Senin (23/8/2021) kemarin, bahkan melesat 1,37% US$ 1.805,19/troy ons.

idr

Kabar baiknya lagi, emas dunia di pekan ini dikatakan memiliki peluang untuk menguat tajam oleh kepala strategi komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen.

Melansir Kitco, Hansen mengatakan emas memiliki peluang menguat tajam di pekan ini jika ketua The Fed, Jerome Powell saat pertemuan Jackson Hole menunjukkan sikap yang lebih hati-hati dalam membuat rencana tapering di tahun ini.

Pertemuan Jackson Hole seharusnya berlangsung selama 3 hari mulai Kamis (26/8/2021), tetapi akibat lonjakan kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19), pertemuan tersebut akhirnya dilakukan secara daring pada hari Jumat. Sehingga ekspektasi tapering di tahun ini sedikit meredup, dan pelaku pasar menanti sinyal dari Powell pada pertemuan Jackson Hole nanti.

Oleh karena itu, pelaku pasar melihat The Fed bisa mempertimbangkan lagi melakukan tapering di tahun ini, sebab Amerika Serikat sedang mengalami lonjakan kasus Covid-19 yang berisiko menghambat laju pemulihan ekonomi AS.

Sementara itu bank investasi Goldman Sachs juga memprediksi emas dunia akan menguat di sisa tahun ini.

Dalam riset terbarunya, Goldman Sachs melihat harga emas akan mencapai US$ 2.000/troy ons di akhir tahun ini, sebabnya permintaan emas yang mulai pulih.

Aksi beli emas oleh Palantir memberikan gambaran mengenai pulihnya permintaan emas. Perusahaan analisis piranti lunak ini membeli emas batangan senilai US$ 50 juta di bulan Agustus.

“Selama Agustus 2021, perusahaan membeli emas batangan senilai US$ 50,7 juta. Emas tersebut berada di fasilitas penyimpanan pihak ketiga, dan perusahaan bisa mengambil emas tersebut kapan saja dengan pemberitahuan,” kata Palantir dalam laporan earnings yang dirilis 12 Agustus lalu.

Senada dengan Goldman Sachs, Bloomberg Intellegence juga memprediksi emas dunia akan ke US$ 2.000/troy ons di tahun ini.

Analis dari Bloomberg Intelligence, juga mengungkapkan jebloknya harga di awal pekan lalu merupakan suatu kemerosotan dari tren bullish (kenaikan dalam jangka panjang).

“Peningkatan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat dan ketergantungan terhadap quantitative easing (QE) membuat kami tetap mempertahankan proyeksi kenaikan harga emas, terutama setelah penurunan tajam dari level puncak di 2020,” kata Mike McGlone, analis komoditas di Bloomberg Intelligence.

McGlone juga melihat di sisa tahun ini emas lebih mungkin akan mendekati US$ 2.000/troy ons, ketimbang tertahan di bawah US$ 1.700/troy ons.

“Katalis yang bisa membawa emas ke US$ 2.000/troy ons adalah sedikit koreksi pasar saham dan berlanjutnya penurunan yield Treasury. Kami melihat emas lebih mungkin mendekati resisten US$ 2.000 ketimbang di bawah US$ 1.700 di semester II tahun ini,” katanya.

TIM RISET CNBC INDONESIA (pap/pap)

Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Tak Ada Lagi Ramalan Ngeri, Harga Emas Siap Naik!

Ilustrasi Perhiasan. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) - PT Rifan Financindo
Ilustrasi Emas Perhiasan (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

PT Rifan Financindo – Harga emas dunia turun tipis pada perdagangan pagi ini. Namun ke depan, harga sang logam mulia kemungkinan bisa naik.

Pada Rabu (18/8/2021) pukul 06:51 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.785,17/troy ons. Turun 0,04% dari posisi hari sebelumnya.

emas

Akan tetapi, sepertinya prospek harga emas lumayan cerah. Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan harga emas bisa naik ke kisaran US$ 1.801-1.811/troy ons.

“Titik support berada di US$ 1.775/troy ons. Penembusan di titik ini akan membawa harga terkoreksi lebih jauh ke kisaran US$ 1.743-1.759/troy ons,” sebut Wang.

emas
Sumber: Reuters

Namun, lanjut Wang, saat harga terkoreksi hingga ke US$ 1.765/troy ons, maka jalan untuk rebound ke US$ 1.823/troy ons bakal terbuka. Investor boleh memasang target harga di rentang US$ 1.800-1.823/troy ons.

“Seluruh perkiraan ini menunjukkan kenaikan harga dari apa yang terjadi sekarang,” tambah Wang.

emas
Sumber: Reuters

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)