Harga Emas Sudah Naik 6% Lebih, Awas Jatuh!

FILE PHOTO: Gold bars are seen in this picture illustration taken at the Istanbul Gold Refinery in Istanbul March 12, 2013.  REUTERS/Murad Sezer/File Photo - PT Rifan
Ilustrasi Emas Batangan (REUTERS/Murad Sezer)

PT Rifan – Harga emas dunia bergerak naik di perdagangan pasar spot pagi ini. Harga sang logam mulia memang sedang dalam tren menanjak.

Pada Kamis (18/11/2021) pukul 07:52 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.870,14/troy ons. Naik 0,17% dari hari sebelumnya.

Kemarin, harga emas menutup hari di US$ 1.866,96/troy ons, naik 0,92%. Dalam sepekan terakhir, harga naik 1,11%. Selama sebulan ke belakang, kenaikan harganya mencapai 6,46%.

Hari ini, sepertinya harga emas masih bisa naik lagi. Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan target harga emas hari ini ada di US$ 1.877-1.886/troy ons.

Namun investor kudu waspada karena ada risiko menuju level support di kisaran US$ 1.859-1.849/troy ons. “Harga emas berisiko menuju titik support di US$ 1.849/troy ons. Jika tertembus, maka bisa jatuh lagi menuju US$ 1.831/troy ons,” sebut Wang dalam riset hariannya.

emasSumber: Reuters

Dalam beberapa hari ke depan, lanjut Wang, harga emas kemungkinan akan terperosok ke arah US$ 1.817-1.831/troy ons. Jika benar harga bergerak ke sana, maka titik resistance baru ada di US$ 1.859/troy ons yang jika tertembus bisa naik lagi ke US$ 1.869/troy ons.

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Sumber : CNBC Indonesia

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Habis Naik 7 Hari Beruntun, Gerak Emas Kok Rada Seret Ya…

Pegawai merapikan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Kamis (22/4/2021). Harga emas batangan yang dijual Pegadaian mengalami penurunan nyaris di semua jenis dan ukuran /satuan.  (CNBC Indonesia/Tri Susilo) - PT Rifan Financindo Berjangka
Ilustrasi Emas Batangan (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

PT Rifan Financindo Berjangka – Harga emas dunia bergerak mendatar pada perdagangan pagi hari ini. Setelah sempat reli, harga sang logam mulia berbalik merosot selama dua hari terakhir.

Pada Rabu (17/11/2021) pukul 07:11 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.850,31/troy ons. Naik tipis hampir flat di 0,02% dibandingkan hari sebelumnya.

Harga emas sempat naik selama tujuh hari perdagangan beruntun yaitu 4-12 November 2021. Selama tujuh hari tersebut, kenaikannya mencapai 5,34%.

Namun selepas itu, harga turun dua hari beruntun. Dalam dua hari itu, harga berkurang 0,76%.

Ke depan, bagaimanakah prospek harga emas? Bisa naik lagi atau malah merosot akibat aksi ambil untung (profit taking)?

Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan target harga emas hari ini ada di US$ 1.845/troy ons sehingga kemungkinan bakal melanjutkan koreksi. Namun masih ada kemungkinan harga bergerak menuju level resistance di kisaran US$ 1.870-1.883/troy ons.

“Harga emas akan mengalami konsolidasi dan bergerak di kisaran US$ 1.856-1.981/troy ons. Akan tetapi, penembusan di US$ 1.968/troy ons akan membawa harga naik ke US$ 1.993/troy ons,” sebut Wang dalam risetnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Bursa Asia Masih Pede di Zona Hijau, kecuali Singapura

The logo of China's Beijing Stock Exchange is seen by a stock chart in this illustration picture taken November 12, 2021. REUTERS/Florence Lo/Illustration - PT Rifan Financindo
Foto: REUTERS/FLORENCE LO

PT Rifan Financindo – Bursa saham Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Selasa (16/11/2021), menyusul pelemahan tipis bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (15/11/2021) waktu setempat.

Indeks Nikkei Jepang dibuka melemah 0,12%, Shanghai Composite China turun tipis 0,04%, dan KOSPI Korea Selatan terkoreksi 0,15%.

Sedangkan untuk indeks Straits Times Singapura sempat dibuka melemah 0,2%. Namun selang 30 menit setelah dibuka, indeks saham acuan Negeri Singa tersebut berbalik naik tipis 0,02%.

Sedangkan untuk indeks Hang Seng Hong Kong dibuka menguat 0,14% pada pagi hari ini.

Adapun di kawasan Australia, indeks S&P/ASX 200 Australia dibuka melemah 0,58% pada pagi hari ini.

Bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya setidaknya hingga 2024, menurut risalah dari pertemuan kebijakan moneter November yang dirilis pada hari ini.

“Mengingat data dan prakiraan terbaru, skenario sentral ekonomi terus konsisten dengan suku bunga tetap pada level saat ini hingga 2024,” demikian bunyi risalah tersebut.

Pergerakan bursa saham Asia-Pasifik pada hari ini cenderung mengikuti pergerakan bursa saham AS, Wall Street yang ditutup melemah tipis pada perdagangan Senin (15/11/2021) waktu AS, di mana naiknya kembali imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) memberikan efek negatif ke pasar saham Negeri Paman Sam.

Indeks Dow Jones ditutup turun tipis 0,04% ke level 36.087,45, S&P 500 cenderung stagnan di level 4.682,84, dan Nasdaq Composite melemah tipis 0,04% ke 15.853,85.

Yield Treasury AS tenor 10 tahun naik ke level 1,6%, sementara tenor 30 tahun ke atas level 2%. Ketika yield Treasury mengalami kenaikan, saham sektor teknologi cenderung mengalami penurunan.

“Pergerakan harga di pasar obligasi menjadi indikator bagaimana pasar melihat inflasi. Meski The Fed (bank sentral AS) tidak memberikan sinyal yang penuh bagaimana kebijakannya di masa yang akan datang, tetapi pelaku pasar tetap memprediksi suku bunga akan dinaikkan dalam waktu dekat,” kata Charlie Ripley, ahli strategi investasi senior di Alliamz Investment Management, sebagaimana diwartakan CNBC International, Senin (15/11/2021).

Seperti diketahui Departemen Tenaga Kerja AS pada Rabu (10/11/2021) pekan lalu melaporkan inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) bulan Oktober melesat 6,2% secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi kenaikan terbesar sejak Desember 1990.

Sementara inflasi CPI inti yang tidak memasukkan sektor makanan dan energi dalam perhitungan tumbuh 4,6%, lebih tinggi dari ekspektasi 4% dan tertinggi sejak Agustus 1991.

Tingginya inflasi tersebut membuat sentimen konsumen merosot ke level terendah dalam satu dekade terakhir.

University of Michigan (UoM) melaporkan sentimen konsumen di bulan November jeblok ke 66,8, dari bulan sebelumnya 71,7. Selain menjadi yang terendah sejak November 2011, indeks sentimen konsumen di bulan November juga jauh di bawah estimasi Dow Jones yang justru memprediksi kenaikan menjadi 72,5.

“Sentimen konsumen menurun di awal November ke level terendah dalam satu dekade akibat kenaikan inflasi, dan banyak konsumen melihat tidak ada kebijakan yang efektif dibuat saat ini untuk mengurangi kerusakan akibat melonjaknya inflasi,” kata Richard Curtin, kepala ekonom survei dari UoM, sebagaimana dilansir CNBC International, Jumat (12/11/2021).

“Saat ini dilaporkan kenaikan harga rumah, kendaraan, dan barang tahan lama lebih banyak terjadi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dalam lebih dari setengah abad yang lalu,” tambahnya.

Jebloknya sentimen konsumen tersebut membuat laporan earning perusahaan ritel AS semakin menjadi perhatian di pekan ini. Jika laporan earning tersebut bagus, artinya konsumsi warga AS masih cukup tinggi, dan menjadi pertanda baik bagi perekonomian, begitu juga sebaliknya.

TIM RISET CNBC INDONESIA (chd/chd)

Sumber : CNBC Indonesia

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Bursa Mayoritas Hijau, Bisa Jadi Semangat Baru

Men look at stock quotation boards outside a brokerage in Tokyo, Japan, December 5, 2018.  REUTERS/Issei Kato - Rifan Financindo
Foto: Pria melihat papan kutipan saham di luar broker di Tokyo, Jepang, 5 Desember 2018. REUTERS / Issei Kato

Rifan Financindo – Bursa Asia dibuka menguat pada perdagangan Senin (15/11/2021), jelang rilis sejumlah data ekonomi China pada periode Oktober 2021 hari ini.

Indeks Nikkei Jepang dibuka melesat 0,6%, Hang Seng Hong Kong menguat 0,34%, Shanghai Composite China tumbuh 0,11%, Straits Times Singapura naik tipis 0,05%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,66%.

Dari Jepang, data perkiraan awal pertumbuhan ekonomi Negeri Sakura pada kuartal III-2021 disetahunkan dilaporkan kontraksi menjadi -3%, lebih buruk daripada perkiraan pasar dalam survei Reuters yang memperkirakan berkontraksi menjadi 0,8%.

Hal ini karena ekonomi Jepang yang terus berjuang karena ekspor turun dan belanja konsumen masih melambat di tengah pandemi virus corona (Covid-19) yang masih melanda Negeri Sakura tersebut.

Hasilnya, lebih buruk dibandingkan dengan perkiraan rata-rata penurunan tahunan di angka 0,56%, dalam survei terhadap 37 ekonom oleh Pusat Penelitian Ekonomi Jepang.

Sementara konsumsi swasta turun 1,1% dari kuartal sebelumnya. Jasa layanan seperti makanan turun 0,1%, barang semi-tahan lama seperti pakaian turun 5,0%, dan barang tahan lama seperti peralatan turun 13,1%. Investasi swasta tidak termasuk aset residensial turun 3,8%.

Pada kuartal III-2021, Jepang memberlakukan keadaan darurat di Tokyo, Osaka dan daerah lainnya.

Meskipun Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo diadakan dari Juli hingga awal September, tetapi beberapa fasilitas umum tetap beroperasi terbatas, seperti jam operasional restoran yang lebih pendek, penutupan fasilitas komersial besar, dan tindakan pencegahan lainnya menghentikan perjalanan dan makan malam.

Sementara itu, China akan merilis sejumlah data ekonominya periode Oktober hari ini, termasuk data produksi industrial dan penjualan ritel, pada pukul 10:00 pagi waktu setempat atau pukul 09:00 WIB.

Pergerakan bursa Asia pada hari ini cenderung mengikuti pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street pada perdagangan Jumat (12/11/2021) akhir pekan lalu, meski data menunjukkan sentimen konsumen di AS turun ke level terendah dalam satu dekade terakhir.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup menguat 0,5% ke level 36.100,31, S&P 500 melesat 0,72% ke posisi 4.682,84, dan Nasdaq memimpin dengan melonjak 1% menjadi 15.860,96.

University of Michigan (UoM) melaporkan sentimen konsumen di bulan November jeblok ke 66,8, dari bulan sebelumnya 71,7. Selain menjadi yang terendah sejak November 2011, indeks sentimen konsumen di bulan November juga jauh di bawah estimasi Dow Jones yang justru memprediksi kenaikan menjadi 72,5.

Tingginya inflasi di AS dikatakan menjadi pemicu jebloknya sentimen konsumen.

“Sentimen konsumen menurun di awal November ke level terendah dalam satu dekade akibat kenaikan inflasi, dan banyak konsumen melihat tidak ada kebijakan yang efektif dibuat saat ini untuk mengurangi kerusakan akibat melonjaknya inflasi,” kata Richard Curtin, kepala ekonom survei dari UoM, sebagaimana dilansir CNBC International.

“Saat ini dilaporkan kenaikan harga rumah, kendaraan, dan barang tahan lama lebih banyak terjadi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dalam lebih dari setengah abad yang lalu,” tambahnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA (chd/chd)

Sumber : CNBC Indonesia

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Ada yang Bilang Harga Emas Bakal ke US$ 1.900/Oz! Menarik…

[Tak Hanya Logam Mulia, Perhiasan Saat Ini Banyak Diburu Warga Untuk Investasi.(CNBC Indonesia) - PT Rifan
Foto: [Tak Hanya Logam Mulia, Perhiasan Saat Ini Banyak Diburu Warga Untuk Investasi.(CNBC Indonesia)
PT Rifan – Harga emas dunia bergerak turun pada perdagangan pagi ini. Mungkin investor hanya gatal mencairkan cuan, karena harga sang logam mulia sudah naik selama berhari-hari.

Pada Jumat (12/11/2021) pukul 07:37 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.859,3/troy ons. Turun 0,12% dari hari sebelumnya.

Koreksi pagi ini terjadi setelah harga emas menjalani reli panjang. Sebelumnya, harga emas sudah naik selama enam hari beruntun. Dalam enam hari tersebut, kenaikan harga mencapai 5,19%.

Lonjakan harga emas terjadi akibat kekhawatiran investor terhadap percepatan laju inflasi global. Di Amerika Serikat (AS), misalnya, laju inflasi pada Oktober 2021 mencapai 6.2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Ini adalah rekor tercepat sejak Oktober 1990.

Dalam situasi inflasi tinggi, berinvestasi di emas menjadi menguntungkan karena sifat alamiahnya sebagai lindung nilai (hedge) terhadap inflasi. Menyimpan emas akan membantu menopang daya beli ketika inflasi tinggi, karena dalam jangka panjang harga emas pasti naik. Pasokan emas terbatas, hanya segini saja yang dikasih sama Tuhan, makanya harga pasti bakal naik.

“Sekali lagi, data inflasi begitu ‘panas’. Emas adalah pelindung inflasi yang terbaik, sehingga kami meyakini data inflasi akan menjadi modal reli harga emas pada pekan dan bulan-bulan mendatang,” tegas David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, seperti dikutip dari Reuters.

“Data inflasi kemungkinan akan menjadi dorongan bagi harga emas untuk menuju ke level US$ 1.900/troy ons,” tambah Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di RJO Futures, juga dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Tak Gentar Gertakan Dolar, Emas Tetap Cetar!

Toko Emas Cikini Gold Center, Cikini, Jakarta Pusat (21/6/2019). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) - PT Rifan Financindo
Foto: Toko Emas Bintang di Cikini Gold Center, Cikini, Jakarta Pusat (21/6/2019). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

PT Rifan Financindo – Harga emas dunia melanjutkan tren positif pada perdagangan pagi ini. Percepatan laju inflasi di Amerika Serikat (AS) tidak membuat sang logam mulia gentar.

Pada Kamis (11/11/2021) pukul 07:34 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.849,84/troy ons. Naik tipis 0,01% dari hari sebelumnya.

Kemarin, harga emas menutup hari di posisi US$ 1.849,57/troy ons, naik 0,99%. Ini membuat harga emas naik selama lima hari beruntun. Dalam lima hari tersebut, kenaikan harga mencapai 4,52%.

Malam tadi waktu Indonesia, US Bureau of Labor Statistics mengumumkan data inflasi di Negeri Paman Sam. Pada Oktober 2021, terjadi inflasi 6,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Ini adalah yang tertinggi sejak November 1990.

Data ini langsung membuat mata uang dolar AS bergairah. Pada pukul 07:40 WIB, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang dunia) melesat 0,97% ke 94,87.

Ini karena investor semakin yakin bahwa tekanan inflasi yang semakin terasa akan membuat bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) bakal mulai menaikkan suku bunga acuan tahun depan, setelah pengurangan pembelian aset (tapering) selesai. iming-iming bunga tinggi akan membuat aset-aset berbasis dolar AS menjadi menarik sehingga menjadi primadona di pasar.

Emas Juga Jadi ‘Pelindung’ dari Inflasi

Nah, harga emas dan dolar punya hubungan berbanding terbalik. Saat dolar AS berjaya, semestinya emas merana.

Ini karena emas adalah aset yang dibanderol dalam dolar AS. Ketika dolar AS terapresiasi, emas jadi lebih mahal buat investor yang memegang mata uang lain. Permintaan emas turun, harga pun mengikuti.

Akan tetapi, sepertinya emas tidak takut dengan gertakan dolar AS. Kembali lagi, penyebabnya adalah inflasi.

Dalam situasi inflasi tinggi, berinvestasi di emas menjadi menguntungkan karena sifat alamiahnya sebagai lindung nilai (hedge) terhadap inflasi. Menyimpan emas akan membantu menopang daya beli ketika inflasi tinggi, karena dalam jangka panjang harga emas pasti naik. Pasokan emas terbatas, hanya segini saja yang dikasih sama Tuhan, makanya harga pasti bakal naik.

“Sekali lagi, data inflasi begitu ‘panas’. Emas adalah pelindung inflasi yang terbaik, sehingga kami meyakini data inflasi akan menjadi modal reli harga emas pada pekan dan bulan-bulan mendatang,” tegas David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, seperti dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Pelan-pelan, Harga Emas Sudah Hampir Mentok!

Karyawan gerai emas  memperbaiki perhiasan warna emas (chrome) berupa cincin di Cikini Gold Center, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/20). harga emas Antam juga berhasil naik Rp 25.000 menjadi Rp 964.120/gram untuk emas kepingan 100 gram yang lumrah dijadikan acuan. Sedangkan untuk kepingan 1 gram berada di Rp 1.022.000/gram berhasil menembus level 1 juta per gram. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) - Rifan Financindo
Foto: Pengrajin Perhiasan Emas (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Rifan Financindo – Harga emas dunia turun tipis pada perdagangan pagi ini. Koreksi itu sepertinya disebabkan hasrat investor untuk mencairkan cuan.

Pada Rabu (10/11/2021) pukul 07:21 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.830,29/troy ons. Turun 0,06% dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Kemarin, harga emas ditutup di US$ 1.831,48/troy ons, naik 0,4%. Kenaikan ini menggenapi tren penguatan harga sang logam mulia menjadi empat hari beruntun. Selama empat hari tersebut, harga naik 3,5%.

 Oleh karena itu, sangat wajar kalau investor ingin merealisasikan keuntungan yang sudah didapat. Soalnya, jarang-jarang emas bisa begini pada 2021. Sejak akhir 2020 (year-to-date), harga emas masih membukukan koreksi 3,57% secara point-to-point.

\

Data Inflasi AS Tentukan Nasib Emas

Dalam waktu dekat, sentimen yang akan mempengaruhi harga emas adalah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) malam ini waktu Indonesia. Konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan laju inflasi Negeri Paman Sam pada Oktober 2021 adalah 5,8% year-on-year (yoy). Ini akan menjadi inflasi di atas 5% selama lima bulan beruntun.

Percepatan laju inflasi akan membuat bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) makin yakin untuk menaikkan suku bunga acuan tahun depan. Kenaikan suku bunga acuan akan menjadi ‘obat kuat’ bagi dolar AS dan mimpi buruk buat emas.

Harga emas dan dolar AS punya hubungan berbanding terbalik. Saat dolar AS perkasa, maka emas justru merana.

Ini karena emas adalah aset yang dibanderol dalam dolar AS. Begitu mata uang Negeri Adidaya menguat, maka emas menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Permintaan emas turun, harga pun mengikuti.

“Saat harga mendekati kisaran US$ 1.830-1.835/troy ons, sepertinya investor bakal mulai khawatir. Soalnya, harga emas tidak berhasil menembus di atas itu pada Juli dan Agustus lalu,” kata Phillip Streible, Chief Market Strategist di Blue Lines Futures yang berbasis di Chicago (AS), seperti dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Sumber : CNBC Indonesia

Dolar Kurang ‘Jamu Kuat’, Saatnya Borong Emas!

Toko Emas Cikini Gold Center, Cikini, Jakarta Pusat (21/6/2019). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) - PT Rifan
Foto: Toko Emas Cikini Gold Center, Cikini, Jakarta Pusat (21/6/2019). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

PT Rifan – Harga emas dunia turun tipis pada perdagangan pagi ini. Sepertinya investor mengambil untung dengan menjual kontrak emas, yang harganya memang naik akhir-akhir ini.

Pada Selasa (9/11/2021) pukul 05:19 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.823,7/troy ons. Turun tipis 0,05% dari hari sebelumnya.

Kemarin, harga emas ditutup di US$ 1.824,55/troy ons, naik 0,43% dari posisi akhir pekan lalu. Ini membuat harga sang logam mulia naik selama tiga hari perdagangan beruntun. Selama tiga hari tersebut, harga naik 3,11%.

Oleh karena itu, wajar saja investor ingin mencairkan cuan tersebut. Aksi ambil untung (profit taking) ini membuat harga terkoreksi.

Harga Emas Masih Bisa Naik Lagi

Namun sepertinya ruang kebangkitan harga emas terbuka lebar. Sebab, nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat (AS) masih tertekan. Pada pukul 05:26 WIB, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) melemah 0,29%.

Harga emas dan dolar AS punya hubungan bernabding terbalik. Saat dolar AS lesu, maka emas justru melaju. Demikian pula sebaliknya.

Ini karena emas adalah aset yang dibanderol dalam dolar AS. Begitu mata uang Negeri Paman Sam melemah, maka emas enjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain. Permintaan emas naik, harga pun terungkit.

Kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang masih akomodatif membuat dolar AS kekurangan ‘jamu kuat’. Pekan lalu, ketua Jerome ‘Jay’ Powell mengumumkan The Fed akan mulai mengurangi pembelian aset (tapering off) pada bulan ini. Pengurangan itu sebesar US$ 15 miliar, pesis seperti ekspektasi pasar.

Namun suku bunga acuan tetap bertahan rendah di dekat 0%. Powell menegaskan bahwa sekarang belum saatnya bicara kenaikan suku bunga acuan. Tidak hanya di AS, bank sentral Inggris (BoE) juga menahan suku bunga acuan, saat pasar memperkirakan terjadi kenaikan 15 basis poin (bps).

Jim Wyckoff, Analis Senior Kitco Metals, menyatakan kebijakan moneter global yang masih cenderung akomodatif membuat arus modal masih mengarah ke emas. Sebab, di tengah tekanan inflasi yang semakin tinggi, emas bisa menjadi instrumen lindung nilai (hedging) dari gerusan inflasi.

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji/aji)

Sumber : CNBC Indonesia

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Gawat! Gara-gara Ekspor China Anjlok, Bursa Asia Ga Kompak

Passersby are reflected on an electronic board showing the exchange rates between the Japanese yen and the U.S. dollar, the yen against the euro, the yen against the Australian dollar, Dow Jones Industrial Average and other market indices outside a brokerage in Tokyo, Japan, August 6, 2019.   REUTERS/Issei Kato - PT Rifan Financindo
Foto: Bursa Tokyo (REUTERS/Issei Kato)

PT Rifan Financindo – Bursa Asia dibuka cenderung beragam pada perdagangan Senin (8/11/2021), karena investor merespons beragam dari data ekspor China periode Oktober yang dirilis pada akhir pekan lalu.

Indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,23%, Shanghai Composite China naik tipis 0,01%, dan Straits Times Singapura bertambah 0,4%.

Sementara untuk indeks Hang Seng Hong Kong dibuka melemah 0,56% dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,43%.

Pada Minggu (7/11/2021), pemerintah China melaporkan data ekspor pada periode Oktober 2021 sebesar 27,1% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih lambat dari September lalu sebesar 28,1%.

Meskipun melambat, namun angka ekspor China pada Oktober masih lebih baik dari prediksi analis dalam survei Reuters yang memperkirakan ekspor Negeri Panda melambat menjadi 24.5%.

Di lain sisi, pelaku pasar Asia juga akan kembali memantau perkembangan krisis likuiditas perusahaan properti China yang masih berlanjut hingga kini, di mana setelah Evergrande, Fantasia Holdings, Sinic Holdings, dan Modernland, kini giliran Kaisa Holdings yang juga terkena kasus yang sama, yakni gagal bayar (default) obligasi korporasinya.

Otoritas Bursa setempat memutuskan untuk menghentikan perdagangan saham Kaisa Holdings pada Jumat (5/11/2021) pekan lalu akibat gagal bayarnya kupon obligasi ke investor lokal.

Berdasarkan catatan Reuters, Kaisa memiliki utang sebesar US$ 3,2 miliar yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan mendatang.

Sementara itu dalam waktu dekat Kaisa memiliki utang senilai US$ 400 juta yang jatuh tempo pada 7 Desember nanti. Ditambah lagi Kaisa juga memiliki kewajiban untuk membayar kupon senilai US$ 59 juta pada pekan depan tepatnya pada 11 November 2021.

Sementara itu dari Amerika Serikat (AS), bursa saham Wall Street kembali ditutup menghijau pada perdagangan Jumat akhir pekan lalu, menyusul data pekerjaan yang kuat dan pengumuman Pfizer soal terapi Covid-19 terbaru.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup menguat 0,56% ke level 36.327,95, S&P 500 bertambah 0,37% ke 4.697,53, dan Nasdaq Composite naik 0,2% ke 15.971,59.

Jumat pekan lalu, Data slip gaji karyawan swasta (di luar sektor pertanian) tercatat 531.000 atau naik 450.000 sepanjang Oktober. Ekonomi AS pada September mempekerjakan 194.000 tenaga kerja baru, atau jauh di bawah proyeksi analis yang sebelumnya memprediksi angka 500.000.

Di lain sisi, pengesahan rancangan undang-undang (RUU) infrastruktur bipartisan senilai US$ 1 triliun oleh Kongres AS yang telah lama tertunda juga turut mendorong semangat investor global pada hari ini.

DPR AS mendukung RUU tersebut dengan setidaknya 218 setuju pada Jumat malam, memuluskan salah satu prioritas utama bagi pemerintahan Presiden AS Joe Biden.

Senat awalnya meloloskan RUU tersebut pada bulan Agustus setelah anggota parlemen menolak segala upaya untuk mengubah ketentuan terkait kripto.

RUU tersebut akan memberikan dana sebesar US$ 550 miliar atau setara dengan Rp 7.865 triliun (kurs Rp 14.300/US$) untuk investasi federal baru dalam infrastruktur Amerika selama 5 tahun, menyentuh segala aspek mulai dari jembatan dan jalan hingga sistem broadband, air, dan energi.

Sementara itu kabar positif juga datang dari perusahaan produsen obat-obat dan vaksin Covid-19, Pfizer yang mengumumkan bahwa uji klinis pilnya untuk mengobati Covid-19 menunjukkan pengurangan 89% risiko rawat inap atau kematian pasien dewasa yang berisiko tinggi.

Mengutip Briefing.com. pengobatan Pfizer diklaim berbeda dari perawatan saat ini yang membutuhkan infus dan harus dilengkapi fasilitas kesehatan.

“Berita seperti ini… membantu investor dari sudut pandang psikologis, menanamkan kepercayaan pada prospek berpotensi segera meninggalkan pandemi,” kata Briefing.com, dikutip AFP, Sabtu (6/11/2021) lalu.

TIM RISET CNBC INDONESIA (chd/chd)

Sumber : CNBC Indonesia

Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Bursa Asia Dibuka Mixed, Hang Seng Ambles, STI Menghijau!

A man walks past an electronic stock board showing Japan's Nikkei 225 index at a securities firm in Tokyo Wednesday, Dec. 11, 2019. (AP Photo/Eugene Hoshiko) - PT Rifan
Foto: Bursa Jepang (Nikkei). (AP Photo/Eugene Hoshiko)

PT Rifan – Bursa Asia dibuka cenderung beragam pada perdagangan Jumat (5/11/2021), di tengah masih positifnya dua indeks saham di bursa Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/11/2021) waktu setempat.

Hanya indeks Straits Times Singapura dan KOSPI Korea Selatan yang dibuka di zona hijau pada perdagangan hari ini. Indeks saham Negeri Singa dibuka menguat 0,34% dan indeks saham Negeri Ginseng dibuka naik 0,1%.

Sementara sisanya dibuka di zona merah pada hari ini. Indeks Nikkei Jepang dibuka melemah 0,29%, Hang Seng Hong Kong ambles 1,08%, dan Shanghai Composite China terkoreksi 0,23%.

Cenderung beragamnya pergerakan pasar saham Asia pada pada hari ini terjadi di tengah kembali positifnya dua indeks saham di bursa AS, Wall Street pada penutupan pasar dini hari tadi waktu Indonesia.

Dua indeks tersebut yakni indeks S&P 500 yang menguat 0,42% ke level 4.680,13 dan Nasdaq Composite yang melesat 0,81% ke 15.940,31. S&P 500 dan Nasdaq pun kembali membukukan rekor tertingginya sepanjang sejarah.

Tetapi untuk indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup turun tipis 0,09% ke level 36.124,23 pada penutupan pasar dini hari tadi waktu Indonesia.

DJIA turun karena terseret saham-saham perbankan yang melemah. Harga saham JPMorgan Chase & Co turun 1,31% sementara Goldman Sachs terpangkas 2,35%.

Saham-saham perbankan di AS merespons negatif arah kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang mengarah ke hawkish. Kemarin, Ketua The Fed, Jerome Powell memutuskan untuk mulai mengurangi pembelian surat berharga atau tapering off senilai US$ 15 miliar.

Sejak tahun lalu, The Fed memborong surat berharga di pasar senilai US$ 120 miliar setiap bulannya untuk merangsang perekonomian Negeri Paman Sam yang terpuruk akibat serangan pandemi virus corona (Covid-19).

Kini perekonomian AS mulai pulih, tekanan inflasi kian terasa karena peningkatan permintaan. The Fed pun memutuskan sudah saatnya mengurangi dosis stimulus.

Apabila pembelian surat berharga oleh The Fed berkurang US$ 15 miliar setiap bulannya, maka program ini akan selesai dalam delapan bulan. Setelah itu kemungkinan The Fed akan mulai menaikkan suku bunga acuan. Artinya, bukan tidak mungkin kenaikan Federal Funds Rate akan terjadi pada semester II-2022.

Kenaikan suku bunga acuan akan ikut menaikkan biaya dana perbankan. Laba akan tergerus, dan menjadi sentimen negatif bagi emiten di sektor ini.

Di lain sisi, kebangkitan ekonomi Negeri Adidaya semakin nyata dari data ketenagakerjaan terbaru. Pada pekan yang berakhir 30 Oktober 2021, jumlah klaim tunjangan pengangguran tercatat 269.000. Turun dibandingkan pekan sebelumnya yang sebanyak 283.000 dan lebih rendah ketimbang konsensus pasar yang dihimpun Reuters dengan perkiraan 275.000.

Klaim tunjangan pengangguran menyentuh titik terendah sejak Maret 2020. Ini berarti pasar tenaga kerja AS mulai pulih seperti masa sebelum pandemi.

Sementara itu pada hari ini, US Bureau of Labor Statistics akan merilis data penciptaan lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll/NFP) sekitar pukul 08:30 waktu AS atau pukul 19:30 WIB.

Konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan perekonomian AS menciptakan 450.000 lapangan kerja non-pertanian pada Oktober 2021. Jauh lebih banyak dibandingkan bulan sebelumnya yang sebanyak 194.000.

TIM RISET CNBC INDONESIA (chd/chd)