FILE PHOTO: An employee sorts gold bars in the Austrian Gold and Silver Separating Plant 'Oegussa' in Vienna, Austria, December 15, 2017.  REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo - PT Rifan Financindo Berjangka

Foto: REUTERS/Leonhard Foeger

PT Rifan Financindo Berjangka – Dalam tiga hari perdagangan terakhir, harga emas cenderung terkoreksi tipis saja. Faktor yang membuat harga emas susah bangkit masih sama, dolar yang mulai menunjukkan keperkasaannya lagi.

Rabu (9/9/2020), harga emas dunia di pasar spot terkoreksi. Pada 08.20 WIB, harga emas terpangkas 0,31% ke US$ 1.924,9/troy ons. Sejak Senin pekan ini, harga emas mulai tak sevolatil sebelumnya.

 

Semalam harga emas sempat naik dan ditutup di US$ 1.930/troy ons ketika pasar saham AS dan harga minyak ambruk. Dini hari tadi Wall Street terbenam di zona merah. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup anjlok 2,25%. Sedangkan S&P 500 dan Nasdaq Composite ambrol masing-masing 2,78% dan 4,11%.

Di saat yang sama harga minyak Brent anjlok 5,3% dan WTI ambrol 7,6% dalam sehari ke bawah US$ 40/barel akibat diskon harga minyak Aramco serta prospek permintaan yang memudar pasca lewat musim puncak mengemudi di AS yang ditandai dengan hari buruh kemarin.

Sebagai aset safe haven dan hedging, kinerja buruk instrumen investasi atau kelas aset lain seharusnya memantik aksi beli emas oleh para investor dan akan berujung pada kenaikan harga emas.

Namun kebangkitan dolar AS dari level terendahnya dua tahun menekan balik harga emas. Indeks dolar yang mengukur posisi greenback terhadap enam mata uang lain masih terus menguat. Pagi ini indeks dolar naik 0,11% ke 93,544 dan mencapai level tertinggi sejak Juli.

Emas merupakan komoditas yang dibanderol dalam dolar AS, sehingga penguatan greenback akan membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi para pemegang mata uang lainnya. Hal ini berimbas pada penurunan minat terhadap emas yang berujung pada tertekannya harga.

Penguatan dolar AS tak terlepas dari pasar yang mengantisipasi sikap bank sentral Eropa yang dinilai akan lebih dovish lagi.

“ECB mungkin akan mulai khawatir dengan penguatan mata uang euro akhir-akhir ini, dan bisa jadi akan mengubah proyeksi inflasi. Kami berpandangan dolar AS bisa menguat sepanjang pekan ini karena potensi kebijakan ECB yang lebih dovish,” kata Kim Mundy, Currency Analyst di Commonwealth Bank of Australia, seperti dikutip dari Reuters.

Jika penguatan dolar AS masih terus berlanjut, maka pergerakan harga logam kuning juga kemungkinan besar masih akan tertekan mengingat reli sembilan pekan beruntun harga emas sejak awal Juni hingga awal Agustus dipicu oleh pelemahan dolar AS.

Meskipun volatil dan terkoreksi. Prospek emas ke depan dinilai masih positif. Kebijakan bank sentral yang tetap ultra-longgar membuat fundamental emas kokoh. Hanya saja penguatan emas yang terlalu cepat sampai menyentuh level tertinggi dalam sejarah membuat harga logam kuning itu sedang konsolidasi saat ini.

“Semua bank sentral berada di perahu yang sama. Mereka harus terus mencetak uang, terus melonggarkan kebijakan, untuk melawan kemerosotan yang kita hadapi” dan itu akan membuat emas tetap didukung, kata Edward Meir, seorang analis di ED&F Man Capital Pasar.

Harga bullion telah melesat lebih dari 27% sepanjang tahun ini, setelah bank sentral secara global membanjiri pasar dengan stimulus luar biasa untuk mengimbangi kerusakan ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi virus corona,

Kebijakan yang berpotensi membuat inflasi tinggi di masa depan itu menguntungkan emas karena dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang.

“Emas telah terjebak dalam kisaran perdagangan yang sangat ketat. Jika kita bisa menembus lebih dari US$ 1.960, itu mungkin akan memantik harga emas untuk menjadi bullish,” kata Streible, mengutip Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)

Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan