Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder - PT Rifan Financindo

Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

PT Rifan Financindo – Harga emas bergerak ke selatan hari ini menyusul penguatan dolar AS. Kebangkitan indeks dolar dari level terendahnya dalam dua tahun menekan harga emas.

Selasa (8/9/2020) pada 09.00 WIB, harga emas dunia di pasar spot terkoreksi 0,15% ke level US$ 1.925,97/troy ons. Pada saat yang sama indeks dolar yang mengukur posisi greenback terhadap enam mata uang lain naik 0,48% ke 93,162.

Emas dan dolar AS bergerak berlawanan arah. Ketika dolar menguat terhadap mata uang lain, emas cenderung melemah. Maklum emas merupakan komoditas yang dibanderol dalam mata uang Negeri Paman Sam tersebut, sehingga penguatan dolar AS membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

 

“Dolar yang lebih tinggi membebani emas, sementara ketidakpastian jangka panjang masih bertahan di pasar menempatkan harga di bawah,” kata Carsten Menke, analis Julius Baer.

Menke mengatakan emas kemungkinan diperdagangkan sideways karena kekhawatiran resesi telah diperkirakan dan investor sekarang menunggu untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya terkait kebijakan bank sentral, mengutip Reuters.

Bank sentral global telah memangkas suku bunga untuk mengatasi krisis akibat virus corona. Hal tersebut membuat harga emas naik lebih dari 27% tahun ini karena suku bunga yang lebih rendah menurunkan biaya peluang untuk memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.

Investor sekarang fokus pada keputusan kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) yang akan diumumkan pada hari Kamis.

“Kami tidak akan terkejut melihat emas memantul dari ujung bawah koridor ini dan naik lebih tinggi selama beberapa minggu ke depan, tetapi penurunan di bawah US$ 1.900 tidak dapat dikesampingkan jika ada peluang ekspektasi data ekonomi yang lebih kuat dari AS,” Commerzbank kata analis Eugen Weinberg, melansir Reuters.

“Impor emas India bulan lalu bagus dan pergerakan harga baru-baru ini tidak begitu banyak dimulai dan didukung oleh permintaan fisik untuk batangan dan koin tetapi dana yang diperdagangkan di bursa,” tambah Weinberg.

Wallet Investor, memperkirakan harga emas bisa mencapai US$ 2.243/troy ons di akhir tahun depan. Itu artinya potensi upside emas dari posisi sekarang adalah 15,7%. Namun ingat! Meski fundamental emas dinilai masih kokoh, perkiraan harga ini tidak bisa dijadikan patokan utama mengambil keputusan dalam berinvestasi.

Bagi investor yang ingin membeli emas, sangat disarankan untuk melakukan studi komprehensif dan membeli pada momentum yang tepat. Bagaimanapun juga gerak volatil emas berpotensi berlanjut mengingat dolar juga masih fluktuatif dan harga sedang konsolidasi pasca tembus level tertinggi sepanjang sejarah.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)