Bongkahan emas. - Bloomberg - PT Rifan Financindo

Bongkahan emas. – Bloomberg

PT Rifan Financindo – Harga emas kembali mengalami penguatan seiring dengan memanasnya hubungan Amerika Serikat dan China.

Pada perdagangan Selasa (19 Mei 2020) pukul 05.50 WIB, harga emas spot naik 0,18 persen menuju US$2.005,99 per troy ounce, sedangkan emas Comex kontrak Desember 2020 naik 0,03 persen ke US$2.013,8 per troy ounce.

Dalam waktu yang sama, indeks dolar AS koreksi 0,62 persen menuju 92,271.

Mengutip Bloomberg, Administrasi Trump mengumumkan pembatasan lebih lanjut pada Huawei Technologies Co yang bertujuan untuk memotong aksesnya ke chip yang tersedia secara komersial.

Langkah tersebut adalah menjadi babak baru dalam meningkatnya ketegangan antara Washington dan Beijing atas segala hal mulai dari pandemi hingga cengkeraman ketat China atas Hong Kong.

Emas telah melonjak tahun ini karena meningkatnya permintaan tempat berlindung dan karena investor bertaruh bank sentral dan pemerintah akan mempertahankan dukungan untuk ekonomi yang dilanda virus corona.

Bullion mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada 7 Agustus 2020, sebelum membukukan penurunan mingguan pertamanya dalam lebih dari dua bulan, diterpa kenaikan imbal hasil riil.

“Emas telah menghadapi harga dalam kekhawatiran perdagangan, tetapi beberapa masalah yang meningkat baru-baru ini antara AS dan China menjadi sentimen pendorongan,” kata Christopher Louney, ahli strategi komoditas di RBC Capital Markets LLC.

Tim Analis Monex Investindo Futures mengatakan bahwa harga emas berpotensi melanjutkan penguatan seiring dengan pasar yang dibayangi sentimen tekanan hubungan AS dan China terkait perusahaan telekomunikasi, Huawei Technologies Co.

Untuk diketahui, Departemen Perdagangan AS mengumumkan pembatasan lebih lanjut terhadap Huawei yang bertujuan untuk memotong aksesnya ke chip yang tersedia di pasar secara komersial.

Langkah tersebut sebagai upaya balas dendam terbaru seiring dengan meningkatnya ketegangan antara AS dan China atas segala hal mulai dari pandemi Covid-19 hingga cengkeraman ketat China atas Hong Kong. (fuu/haf)