Gold bars are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder - PT Rifan Financindo

Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

PT Rifan Financindo – Pekan lalu harga emas dunia ditutup di level psikologis US$ 1.900/troy ons. Di awal pekan ini hari Senin (27/7/2020) harga logam mulia masih melanjutkan kenaikannya.

Pada 08.40 WIB, harga emas di pasar spot naik 0,87% ke US$ 1.917,7/troy ons. Kini harga emas dunia hanya terpaut kurang dari US$ 3 dari level tertingginya di sepanjang sejarah di US$ 1.920 pada 2011 silam.

Dengan reli tak terbendung selama tujuh pekan berturut-turut ini, harga emas berpotensi besar untuk mencetak rekor tertinggi barunya. Selanjutnya emas berpotensi menyentuh level US$ 2.000/troy ons dan akan menjadi harga tertinggi emas di sepanjang sejarah.

 

Survei yang dilakukan oleh Kitco terhadap para pelaku pasar baik di Wall Street maupun Main Street masih meyakini harga emas bisa bullish untuk pekan ini. Dari 14 analis Wall Street yang disurvei 11 orang (79%) memperkirakan harga emas masih naik. Dua orang analis (14%) memperkirakan terjadi penurunan dan satu analis netral (7%).

Sebanyak 1.870 responden terlibat dalam survei yang dilakukan Kitco terhadap Main Street. Dari jumlah tersebut, 1.334 responden, atau 72%, memperkirakan harga emas naik minggu ini. Sebanyak 317 lainnya atau 17% mengatakan akan lebih rendah, dan ada 219 responden atau 12% netral.

Melihat momentum pasar saat ini, Eugen Weinberg selaku kepala riset pasar di Commerzbank, mengatakan bahwa dia tidak akan terkejut jika harga emas naik ke level US$ 2.000/troy ons pada akhir minggu ini.

Dia mengatakan rekor baru harga emas hanya masalah waktu saja. Meskipun emas terlihat sudah sedikit mencapai level jenuh beli (overbought), Weinberg mengatakan bahwa pasar masih didukung oleh fundamental yang kuat.

“Aku tidak akan menyebut emas sebagai bubble dulu,” katanya. “Masih ada triliunan obligasi dengan hasil nominal negatif dan ini akan terus mendukung emas.” katanya.

Afshin Nabavi, kepala perdagangan dengan MKS (Swiss) SA, juga mengatakan hal yang sama seperti Weinberg. Dia menambahkan bahwa seiring dengan ketidakpastian yang berlanjut serta meningkatnya ketegangan antara AS dan China akan terus mendukung emas sebagai aset safe-haven.

“Semuanya berantakan, jadi investor ingin menyimpan beberapa emas untuk perlindungan,” katanya.

Namun, tidak semua analis bullish pada emas. Everett Millman, pakar logam mulia Gainesville Coins, memperingatkan para investor bahwa reli emas bisa jadi terlalu jauh, terlalu cepat. Dia menambahkan bahwa level saat ini dapat menarik aksi ambil untung.

“Saya pikir karena kita mencapai tertinggi baru-baru ini pasar akan koreksi pasar,” katanya. “Sayangnya karena reli telah begitu kuat dan begitu cepatnya maka ada potensi emas bisa serendah US$ 1.800 atau di bawahnya. Kami belum punya waktu untuk melakukan konsolidasi.”

Daniel Pavilonis, broker komoditas senior dengan RJO Futures, mengatakan bahwa sementara beberapa konsolidasi pada level saat ini akan sehat untuk emas, ia mengatakan bahwa pasar tidak dapat mengabaikan momentum.

Pelemahan dolar AS yang terus terjadi merupakan faktor pemicunya. Hal ini terlihat dari indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang lainnya kini berada di posisi terendah hampir dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

“Kami telah mencetak begitu banyak uang dan ada begitu banyak risiko di atas meja sehingga sulit untuk melihat bagaimana dolar AS rally dari level saat ini,” katanya.

Suku bunga rendah, suku bunga riil yang bahkan sudah masuk teritori negatif, banyaknya uang yang disuntikkan ke ekonomi baik oleh bank sentral dan pemerintah pusat hingga ketidakpastian seputar pandemi hingga tensi geopolitik yang tereskalasi antara Washington-Beijing memang menjadi faktor fundamental pendorong harga emas naik lebih tinggi

TIM RISET CNBC INDONESIA(twg/twg)

Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan