FILE PHOTO: Gold bullion is displayed at Hatton Garden Metals precious metal dealers in London, Britain July 21, 2015. REUTERS/Neil Hall/File Photo - RIfan Financindo

Foto: Emas Batangan ditampilkan di Hatton Garden Metals, London pada 21 July 2015 (REUTERS/Neil Hall/File Photo)

Rifan Financindo – Harga emas dunia mengalami koreksi pada perdagangan hari ini Kamis (23/7/2020) setelah semalam melesat signifikan. Tampaknya investor tergoda untuk mengambil keuntungan dari reli harga bullion akhir-akhir ini.

Pada 09.25 WIB harga emas di pasar spot turun 0,29% ke US$ 1.866,27/troy ons. Kemarin harga bullion mencatat rekor tertinggi barunya dengan ditutup di US$ 1.871,75/troy ons.

Harga emas boleh saja terkoreksi saat ini. Namun prospeknya tetap cerah. Permintaan terhadap aset safe haven, aspek teknikal dari harga, pelemahan indeks dolar, kenaikan harga minyak serta kenaikan permintaan dari konsumen di India dan China jadi bahan bakar pendongkrak harga emas.

Sejak akhir Juni, indeks dolar yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang lain terus mengalami pelemahan dan kini semakin mendekati level terendah di tahun ini yang pernah tercatat pada 9 Maret 2020 di 94,895.

Pelemahan dolar sebagai mata uang yang digunakan untuk transaksi emas membuat harga emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga membuat minat terhadap emas naik, apalagi di tengah situasi yang tidak kondusif seperti sekarang.

Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) belum usai, Washington-Beijing kembali tegang. Kemarin, Amerika Serikat (AS) memberikan waktu kepada China selama 72 jam untuk menutup konsulatnya di Houston. Keputusan AS tersebut tak terlepas dari tuduhan Negeri Paman Sam yang menganggap China melakukan tindakan spionase.

“AS harus mencabut keputusannya yang salah,” katanya. “Cina pasti akan bereaksi dengan tindakan tegas.” Pemimpin Partai Komunis di Beijing dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk menutup konsulat AS di kota pusat Wuhan sebagai aksi balasan.

Selain risiko ketidakpastian yang tinggi dari eskalasi ketegangan hubungan AS-China, kebijakan bank sentral AS & Eropa yang membuat neracanya menggembung hingga US$ 14 triliun menjadi faktor lain yang membuat harga emas mampu terbang.

Melalui program pembelian aset-aset keuangan seperti surat utang pemerintah, efek beragun aset KPR hingga obligasi korporasi, the Fed dan ECB telah memicu reli pasar saham dan harga aset berisiko menjadi kemahalan (overvalued).

Investor mulai mencari suaka untuk berlindung (hedge) dari kemungkinan kembali terkoreksinya harga saham yang sekarang sedang tinggi-tingginya.

“Saham bisa dibilang overvalued dan ini juga mendukung harga emas sebagai lindung nilai terhadap kelemahan pasar saham, baik jangka pendek atau malaise jangka panjang,” kata Rhona O’Connel analis dari StoneX.

“Setelah pasar demam pada kuartal pertama, kondisinya jauh lebih tenang di kuartal kedua dan emas telah mengalami kenaikan yang stabil dan bertahap serta meletakkan dasar untuk kenaikan lebih lanjut. Saat kita memasuki bulan Juli, harga tertinggi 2012 telah ditembus dan memberikan dorongan terakhir untuk mendapatkan US$ 1.800; US$ 1.900 sudah pasti terlihat sebelum akhir tahun, jika tidak lebih tinggi, “tulis O’Connell.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)

Sumber : CBNC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan