Gold bars are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder - PT Rifan Financindo Berjangka

Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

PT Rifan Financindo Berjangka – Harga logam mulia emas pada perdagangan pagi, Selasa (21/7/2020) masih melanjutkan penguatannya pada perdagangan kemarin dan mencetak rekor tertinggi terbaru.

Pada 08.40 WIB, harga emas dunia di pasar spot dibanderol US$ 1.816/troy ons atau naik US$ 1 dibanding posisi penutupan kemarin. Semalam harga emas ditutup di US$ 1.815/troy ons atau menguat 0,36% sekaligus menandai level tertingginya sejak September 2011.

Meskipun data uji klinis vaksin anti-Covid-19 AstraZeneca menunjukkan hasil yang positif dan membuat harga saham menguat, bukan berarti tak ada risiko yang masih dikalkulasi oleh para investor dan pelaku pasar.

Terus bertambahnya kasus Covid-19 di berbagai penjuru dunia sampai saat ini masih jadi pemicu utama minat terhadap logam mulia ini tinggi. Data kompilasi John Hopkins University CSSE menunjukkan sudah lebih dari 14,6 juta orang di dunia telah terinfeksi virus corona. Lebih dari 609 ribu orang terenggut nyawanya.

Kenaikan kasus yang terjadi membuat prospek pemulihan ekonomi menjadi suram. Emas sebagai aset safe haven mendapat berkah dari fenomena ini. Pada pekan lalu, Kitco melakukan survei terhadap 16 analis Wall Street.

Hasilnya, harga emas diperkirakan masih mampu naik di minggu ini oleh 11 orang (69%). Sebanyak 6% berpandangan bahwa harga emas berpotensi terkoreksi sementara sisanya 25% memperkirakan harga emas bergerak sideways.

Survei serupa yang dilakukan secara online kepada 1.642 responden juga menunjukkan hasil yang tak jauh berbeda. Sebanyak 60% responden beranggapan harga emas masih bisa naik pekan ini, 21% netral dan 19% memproyeksi harga emas bakal lebih rendah.

Berdasarkan para analis, salah satu faktor yang akan memicu harga emas untuk naik lebih tinggi dalam kurun waktu dekat ini adalah pelemahan dolar AS.

Ahli strategi senior LaSalle Futures Group mengatakan bahwa kemungkinan adanya stimulus baru dari pemerintah AS untuk menyelamatkan perekonomian dari kejatuhan akibat pandemi akan menjadi pemberat dolar AS dan mendukung harga emas.

“Saya pikir Anda harus lebih bullish pada emas karena terjadi reli di pasar dari uang murah yang dilepaskan ke ekonomi, “katanya

Banyaknya uang yang diinjeksikan ke perekonomian oleh bank sentral disertai dengan masifnya stimulus fiskal menjadi ancaman di masa depan. Risiko akan inflasi yang tinggi membuat emas sebagai aset lindung nilai (hedging) menjadi semakin menarik di mata investor.

“Emas mendapatkan popularitas secara eksponensial sekarang, hanya karena semua aspek seperti inflasi: kurva imbal hasil [obligasi pemerintah], pencetakan uang, kekhawatiran tentang ekonomi dan Covid-19,” kata Michael Matousek, kepala pedagang di Global Investors AS.

“Ketika kamu melihat sesuatu (terjadi) di pasar bull, kamu ingin membeli pullbacks. … kamu memiliki banyak orang yang menargetkan level US$ 1.825; jika menembus di atas, itu bisa naik lebih tinggi.” tambahnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)

Sumber : CBNC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan