A Thai shopkeeper talks to customer who sold gold necklace to the gold shop in Bangkok, Thailand, Thursday, April 16, 2020. With gold prices rising to a seven-year high, many Thais have been flocking to gold shops to trade in their necklaces, bracelets, rings and gold bars for cash, eager to earn profits during an economic downturn.(AP Photo/Sakchai Lalit) - Rifan Financindo

Foto: Harga Emas Meroket di Thailand. IAP/Sakchai Lalit)

Rifan Financindo – Harga logam mulia emas akhir-akhir ini cenderung bergerak flat. Kabar baik dan kabar buruk yang datang bersamaan membuat harga emas stagnan.

Jumat (19/6/2020), harga emas di pasar spot pukul 08.05 WIB dibanderol US$ 1.723,03/troy ons. Harga emas naik tipis sebesar 0,05% pagi ini.

Semalam data klaim pengangguran AS menunjukkan adanya penurunan. Sampai dengan pekan lalu, jumlah klaim pengangguran di Negeri Paman Sam mencapai 1,5 juta. Sementara pada pekan sebelumnya angka klaim pengangguran direvisi naik 1,56 juta.

Memang angka ini masih berada di bawah konsensus ekonom yang disurvei Reuters yang memperkirakan jumlah klaim pengangguran akan turun menjadi 1,3 juta minggu lalu. Meski penurunan tak terlalu banyak tetapi angka semalam menunjukkan bahwa klaim pengangguran terus mengalami penurunan dalam 11 minggu beruntun.

Bank sentral AS the Fed yang juga diberi mandat untuk mendukung penciptaan lapangan pekerjaan terus berupaya untuk menyelamatkan perekonomian Negeri Adidaya. the Fed tak hanya fokus pada Wall Street saja, tetapi kini juga mulai terjun langsung ke lapangan (main street).

Kebijakan terbaru the Fed adalah pembelian obligasi korporasi. Pekan ini, The Fed mengumumkan mengubah skema pembelian obligasi korporasi dengan memasukkan pendekatan indeksasi.

Artinya, The Fed akan membeli obligasi korporasi di pasar sekunder yang kemudian menciptakan portofolio baru yang berbasis indeks pasar. The Fed akan menyerap obligasi korporasi berdasarkan indeks yang terbangun dari aset dengan rating minimum tertentu, tenor tertentu, dan berbagai kriteria lainnya.

Langkah the Fed memang terbilang agresif untuk menyelamatkan ekonomi AS. Kendati begitu, the Fed memperkirakan butuh waktu yang tidak sebentar agar perekonomian AS kembali pulih seperti semula.

Sentimen lain yang juga tengah disorot pasar adalah ancaman gelombang kedua wabah. AS dan China melaporkan adanya lonjakan kasus baru beberapa hari terakhir. Namun semalam Beijing mengatakan bahwa lonjakan kasus yang terjadi di kota tersebut berhasil ditangani dengan baik.

Pasar memang sedang diliputi kabar gembira maupun buruk di waktu yang bersamaan. Ini menjadi pemicu mengapa harga emas tak banyak bergerak. Sudah tujuh hari emas diperdagangkan di rentang harga yang sempit, bahkan cenderung flat. Namun prospek emas untuk jangka panjang dinilai masih positif.

Selagi vaksin yang efektif belum ditemukan, maka ancaman gelombang kedua wabah adalah risiko yang nyata. Minat investor untuk membeli aset minim risiko (safe haven) seperti emas masih akan tetap terjaga.

Di sisi lain, tingkat suku bunga yang rendah, banjir stimulus fiskal dan moneter secara global akan menimbulkan risiko inflasi di kemudian hari. Prospek emas kian menarik mengingat logam mulia ini juga berperan sebagai aset lindung nilai (hedging) terhadap depresiasi mata uang.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)

Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan