Vaksin Corona, Kabar Baik Umat Manusia, Buruk Bagi Emas Dunia - PT Rifan

Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

PT Rifan – Harga emas dunia melemah pada perdagangan berakhir melemah pada perdagangan Senin (18/5/2020) kemarin. Sentimen pelaku pasar yang membaik merespons kabar vaksin virus corona membuat aset-aset aman (safe haven) seperti emas menjadi kurang menarik.

Emas Senin kemarin melemah 0,51% ke US$ 1.732,06/troy ons, setelah sebelumnya menguat 1,35% ke US$ 1.764,55/troy ons. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 12 Oktober 2012.

Sementara pada perdagangan pagi ini, Selasa (19/5/2020) emas diperdagangkan menguat 0,41% di US$ 1.739,2/troy ons.

Kabar bagus dari vaksin virus corona yang diproduksi bioteknologi Moderna di AS. Moderna menyatakan hasil uji klinis pertama vaksin cukup positif. Pasalnya, imun atau antibodi dari 8 orang yang diujicobakan mampu menghasilkan antibodi virus corona.

Perusahaan memulai percobaan manusia fase 1 pertama pada Maret dengan 45 sukarelawan, dan telah disetujui untuk segera memulai fase 2, yang akan melakukan pengujian kepada 600 orang pada akhir Mei atau Juni. Jika semuanya berjalan dengan baik, vaksinnya dapat diproduksi pada awal Juli mendatang.

Kabar tersebut tentunya memberikan harapan virus corona bisa segera ditanggulangi dan kehidupan kembali normal, roda perekonomian kembali berputar kencang. Sentimen pelaku pasar pun membaik, dan emas turun dari level tertinggi nyaris 8 tahun terakhir.

Meski demikian, outlook jangka panjang bagi emas masih cukup bagus, mengingat kebijakan moneter dan fiskal yang diterapkan bank sentral dan pemerintah di berbagai negara saat ini. Pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang membawa perekonomian global ke jurang resesi membuat bank sentral di berbagai negara secara agresif melonggarkan kebijakan moneter semakin agresif di tahun ini.

Negeri Paman Sam menjadi yang paling agresif. Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) membabat habis suku bunganya hingga menjadi 0-0,25%, kemudian mengaktifkan kembali program pembelian aset atau yang dikenal dengan quantitative easing (QE) dengan nilai tanpa batas. Berapapun akan digelontorkan agar likuiditas di perekonomian AS tidak mengetat.

Itu baru The Fed, bank sentral lainnya juga menerapkan kebijakan yang sama, bank sentral Australia misalnya, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah menerapkan program QE.

Di tahun 2008 ketika terjadi krisis finansial global, The Fed dan bank sentral lainnya di Eropa menerapkan kebijakan yang sama, suku bunga rendah serta QE, dampaknya harga emas terus bergerak naik hingga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada tahun 2011.

Tidak hanya bank sentral, pemerintah di berbagai negara juga menggelontorkan stimulus fiskal. Pemerintah AS sudah menggelontorkan stimulus senilai US$ 2 triliun, terbesar sepanjang sejarah.

Stimulus moneter dan fiskal tersebut membuat pasar banjir likuiditas, kondisi tersebut sangat menguntungkan bagi emas.

Belum lagi jika melihat risiko terjadinya babak baru perang dagang Amerika Serikat dengan China akibat hubungan kedua negara yang sedang meruncing.
Penyebabnya konflik kedua negara yakni asal-usul virus corona yang dikatakan berasal dari laboratorium di China.

Dalam pernyataannya kepada media, Presiden AS Donald Trump tak segan menyebut kemungkinan memutus hubungan dengan China. Alasannya, karena China gagal menahan pandemi COVID-19.

“Mereka seharusnya tidak membiarkan ini terjadi,” kata Trump dikutip Reuters.

“Ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Kita bisa memutus seluruh hubungan (dengan China),” tegasnya.

Trump yang terus menyerang China memicu kecemasan akan kemungkinan terjadi babak baru perang dagang, bahkan yang lebih parah kemungkinan perang dunia III.

Reuters mengabarkan, China Institutes of Contemporary International Relations (CICIR) yang merupakan lembaga think tank dengan afiliasi ke Kementerian Pertahanan Negeri Tirai Bambu, membuat laporan bahwa Beijing berisiko diterpa sentimen kebencian dari berbagai negara. Skenario terburuknya, China harus bersiap dengan kemungkinan terjadinya konfrontasi bersenjata alias perang.

Sejauh ini pemerintah China belum memberikan konfirmasi mengenai laporan CICIR tersebut. “Saya tidak punya informasi yang relevan,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China kala dikonfirmasi oleh Reuters.

Jika sampai terjadi babak baru perang dagang, perekonomian global yang sudah merosot akibat pandemi Covid-19 tentunya akan semakin nyungsep, dan emas sebagai aset safe haven akan diuntungkan. Apalagi jika sampai terjadi perang militer, emas akan diborong oleh pelaku pasar.

Beberapa analis memprediksi harga emas akan mencapai US$ 1800/troy ons dalam waktu dekat.

“Untuk emas, Langkah selanjutnya ke US$ 1.800/troy ons, saat ini pertanyaannya hanya kapan” kata Han Tan, analis di FXTM, sebagaiamana dilansir Kitco.
Analis lain bahkan mengatakan emas akan mencapai level tersebut di pekan ini.

“Peluang emas ke US$ 1.800/troy ons di pekan ini terbuka, jika kembali terjadi outflow di pasar saham AS,” kata Philip Streible, kepala strategi pasar Blue Line Futures, yang dilansir Kitco. (pap/hps)

Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan