Ada Ancaman WW III, Harga Emas Dunia Siap Mengamuk - PT Rifan Financindo

Foto: Emas Batangan ditampilkan di Hatton Garden Metals, London pada 21 July 2015 (REUTERS/Neil Hall/File Photo)

PT Rifan Financindo – Sang raksasa emas sepertinya benar-benar sudah mulai terbangun dari tidurnya dan bersiap mengamuk. Pada perdagangan pagi ini harga emas masih melanjutkan penguatan. Panemi corona (Covid-19) yang bisa berujung pada Perang Dunia III serta banjir stimulus fiskal sekaligus moneter menjadi tenaga untuk emas kian perkasa.

Jumat (15/5/2020) harga emas dunia di pasar spot melanjutkan relinya. Kemarin harga bullion melesat 0,81%. Pagi ini pukul 09.00 WIB harga emas lanjut menguat 0,14% ke US$ 1.731,65/troy ons.


Pasar kembali digegerkan oleh reaksi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengungkapkan kekecewaannya terhadap China. Taipan properti asal Paman Sam itu menuding China telah gagal menangani wabah Covid-19 sehingga menyebabkan lebih dari 200 negara dan teritori di dunia terjangkit.

“Kami punya banyak informasi, dan itu tidak bagus. Apakah (virus corona) datang dari laboratorium atau dari kelelawar, pokoknya berasal dari China. Mereka semestinya bisa menghentikan itu dari sumbernya,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox Business Network, seperti dikutip dari Reuters.

Kekecewaan Trump bisa berujung pada suatu hal yang buruk. Trump mungkin saja melancarkan aksi balas dendam ekonomi. Maklum akibat pandemi Covid-19 ekonomi Negeri Adidaya jadi luluh lantak. Pada kuartal pertama ekonomi AS mengalami kontraksi 4,8% (annualized). Menjadi kontraksi terdalam sejak krisis keuangan 2008 dan yang pertama sejak 2014 silam.

AS kini memang menjadi episentrum wabah dengan total orang yang positif Covid-19 mencapai lebih dari 1,3 juta. Lockdown di berbagai negara bagian AS membuat perputaran ekonomi Paman Sam seret dan hampir terhenti. Angka pengangguran melonjak tinggi.

Terakhir data Departemen Ketenagakerjaan AS menunjukkan ada 2,9 juta klaim tunjangan pengangguran untuk pekan yang berakhir pada 9 Mei 2020. Anga ini memang turun dari periode pekan sebelumnya yang mencapai 3,17 juta. Namun jika ditarik ke belakang, maka sejak pertengahan Maret sudah ada klaim tunjangan pengangguran sebanyak 36,5 juta.

Hal ini menjadi sebuah kenyataan pahit yang harus diterima AS. Trump yang gusar jadi tak berselera untuk melanjutkan negosiasi dagang dengan partnernya Negeri Tirai Bambu. Kesepakatan dagang fase I yang diteken pada 15 Januari lalu terancam tak dilanjutkan.

Saking geramnya Presiden AS ke-45 itu bahkan beredar kabar AS tengah mempersiapkan sebuah Undang Undang yang bertujuan untuk menjegal China. China harus bertanggungjawab atas semua kekacauan yang terjadi hari ini. Seorang anggota Senat AS mengungkapkan, pemerintah sedang mematangkan Rancangan Undang-undang Pertanggungjawaban Covid-19 (Covid-19 Accountability Act).

Dalam UU tersebut, China disebut harus bertanggung jawab penuh dan siap menjalani penyelidikan yang dipimpin oleh AS, sekutunya, dan WHO. China juga bisa didesak untuk menutup pasar tradisional yang menyebabkan risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia menjadi sangat tinggi.

UU itu juga mengatur sanksi bagi China. Misalnya pembekuan aset warga negara dan perusahaan China di AS, larangan masuk dan pencabutan visa, larangan individu dan perusahaan China untuk mendapatkan kredit, sampai melarang perusahaan China untuk mencatatkan saham di bursa AS.

“Saya sangat kecewa terhadap China, mereka seharusnya tidak pernah membiarkan ini terjadi. Kami sudah membuat kesepakatan (dagang) yang luar biasa, tetapi sekarang rasanya sudah berbeda. Tinta belum kering, dan wabah ini datang. Rasanya tidak lagi sama,” keluh Trump.

Reuters mengabarkan, China Institutes of Contemporary International Relations (CICIR) yang merupakan lembaga think tank dengan afiliasi ke Kementerian Pertahanan Negeri Tirai Bambu, membuat laporan bahwa Beijing berisiko diterpa sentimen kebencian dari berbagai negara. Skenario terburuknya, China harus bersiap dengan kemungkinan terjadinya konfrontasi bersenjata alias perang.

Sejauh ini pemerintah China belum memberikan konfirmasi mengenai laporan CICIR tersebut. “Saya tidak punya informasi yang relevan,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China kala dikonfirmasi oleh Reuters.

Apabila hubungan China dengan AS (dan negara-negara lainnya) terus memburuk, maka risiko perang memang sulit untuk dikesampingkan. Tak disangka bahwa pandemi Covid-19 bisa memantik terjadinya Perang Dunia III.

Adanya ancaman ini membuat investor agak menghindari bermain dengan risiko. Investor pilih aset-aset yang cenderung aman (safe haven). Logam mulia emas menjadi salah satu pilihannya. Permintaan yang tinggi terhadap emas membuat harganya terkerek naik seperti sekarang ini.

“Tampaknya beberapa investor berbalik bearish pada ekuitas, hubungan AS-Cina terus memburuk dan Anda memiliki data yang sangat suram datang dari AS dan semua yang mendukung (permintaan) safe haven,” kata Edward Moya, pasar senior analyst di broker OANDA.

“Harga emas telah melonjak selama beberapa minggu terakhir tetapi tampaknya sekarang Anda memiliki latar belakang ekonomi makro yang akan mendukung harga tinggi dalam waktu dekat.” tambahnya, mengutip Reuters.

Selain itu paparan ketua bank sentral AS, Jerome Powell yang mengatakan bahwa perekonomian AS butuh waktu lebih lama dari perkiraan untuk pulih juga menjadi sentimen lain yang membuat harga emas terbang.

Dengan angka pengangguran yang tinggi dan inflasi yang rendah (deflasi), The Fed akan melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan perekonomiannya dengan berbagai tools moneter yang ada. The Fed masih akan terus memompa uang ke perekonomian. Strategi quantitative easing besar-besaran masih akan terus berlanjut.

Di sisi lain Pemerintahan Donald Trump juga terbuka terhadap adanya tambahan stimulus fiskal. Kayleigh McEnany, Juru Bicara Gedung Putih, mengungkapkan pemerintahan Trump siap menambah stimulus fiskal untuk memerangi dampak negatif dari wabah virus corona. “Bapak Presiden sedang mempertimbangkannya. Beliau terbuka untuk itu,” kata McEnany, seperti dikutip dari Reuters.

Dengan potensi banjir stimulus yang kemungkinan masih akan datang di masa-masa mendatang, emas juga mendapat untung. Jadi wajar saja kalau semua kondisi yang terjadi saat ini telah membuat raksasa emas bangkit dari tidurnya. Bahkan siap mengamuk.
TIM RISET CNBC INDONESIA
(twg/twg)

Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan