Gegara Jerome Powell, Sang Raksasa Emas Terbangun dari Tidur - Rifan Financindo

Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

Rifan Financindo – Sang raksasa (emas) sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan dari tidurnya. Harga logam mulia emas pada perdagangan pagi ini menguat setelah pidato ketua The Fed Jerome Powell di hadapan kongres Amerika Serikat (AS) tadi malam.

Kamis (14/5/2020) pada 08.00 WIB, harga emas dunia di pasar spot dibanderol US$ 1.717,4/troy ons. Jika dibandingkan dengan posisi penutupan kemarin maka hari ini harga emas menguat 0,11%. Kemarin harga bullion melesat 0,77%.

Di hadapan kongres AS, Jerome ‘Jay’ Powell mengatakan bahwa Paman Sam tampaknya membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk dapat kembali pulih. “Akan butuh waktu untuk kembali seperti sediakala. Pemulihan kemungkinan akan terjadi dalam tempo yang lebih lebih lambat dari perkiraan,” kata Powell dalam paparan di hadapan Kongres AS secara virtual.

“Ini membuat ekonomi akan mengalami periode produktivitas rendah dan pendapatan yang stagnan dalam waktu yang lebih lama. Dukungan fiskal mungkin membutuhkan biaya yang tidak murah, tetapi layak jika mampu membantu menghindari kerusakan ekonomi jangka panjang dan memperkuat peluang menuju pemulihan,” tambahnya.

Sebelumnya pelaku pasar melihat peluang bahwa bank sentral Paman Sam itu akan menyeret suku bunga ke wilayah negatif untuk menyelamatkan perekonomian seperti yang dilakukan bank sentral Eropa dan Jepang.

Saat ini Federal Funds Rate sudah mendekati 0%, tepatnya 0-0,25% atau median 0,125%. Data Bank of America Securities menyebutkan bahwa ada peluang 23% suku bunga acuan AS bisa di bawah 0% pada akhir tahun ini. Pekan lalu, peluangnya masih 10%.

Namun sinyal yang suram tersebut tak membuat The Fed lantas mempertimbangkan suku bunga negatif. Dalam paparannya Powell mengatakan bahwa The Fed akan menggunakan segala instrumen yang ada tetapi bukan suku bunga negatif.

“The Fed memiliki sejumlah opsi lain, jadi ada kemungkinan kita bisa melihat pelonggaran kuantitatif [QE] tambahan atau kebijakan berkelanjutan yang akan memungkinkan latar belakang positif untuk pasar emas,” kata analis Standard Chartered Bank Suki Cooper.

“Kami menduga suku bunga acuan secara global tetap rendah, dan negatif di beberapa negara. Hal ini menjadi latar belakang yang menguntungkan untuk emas.” tambahnya, sebagaimana diwartakan Reuters.

Akibat pandemi Covid-19 yang menginfeksi 4,31 juta orang secara global, banyak negara memilih menetapkan lockdown. Salah satunya adalah AS yang menetapkan karantina wilayah pada beberapa kota dan negara bagiannya.

Lockdown menimbulkan konsekuensi yang besar bagi perekonomian. Pada kuartal pertama tahun ini saja ekonomi AS mengalami kontraksi sebesar 4,8% (annualized). Paman Sam harus rela kehilangan 20,5 juta pekerjaan dan tingkat pengangguran meroket 14,7% pada April lalu.

Dengan adanya proyeksi yang suram tadi maka wajar saja jika pemerintah dan bank sentral masih akan menggelontorkan stimulus ke depan untuk terus menyelamatkan perekonomian agar kembali ke jalur yang benar (pemulihan).

Dalam kondisi banjir stimulus seperti sekarang ini, logam mulia emas cenderung diuntungkan karena dianggap sebagai aset lindung nilai (hedge) terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang.

“Bahkan ketika kita melihat adanya potensi likuidasi emas dan aset lain secara dalam 3-6 bulan ke depan, kami pikir harga emas masih akan melayang di kisaran $ 1.600 hingga pertengahan $ 1.700.” Citi Research mengatakan dalam sebuah catatan.

Di sisi lain risiko akan munculnya gelombang kedua wabah juga turut diwaspadai seiring dengan pembukaan kembali (reopening) ekonomi beberapa negara. Tensi hubungan yang meninggi poros Washington-Beijing juga masih menyisakan risiko yang berpotensi membuat harga emas naik lagi.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)

Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan