Recovery atau Resesi? Harga Emas Dipersimpangan Jalan - Rifan Financindo

Foto: Emas Batangan ditampilkan di Hatton Garden Metals, London pada 21 July 2015 (REUTERS/Neil Hall/File Photo)

Rifan Financindo – Usai naik banyak pada perdagangan kemarin, harga emas terkoreksi pada perdagangan pagi ini, Jumat (8/5/2020). Walau tergelincir nyatanya harga logam mulia emas masih betah bertengger di level US$ 1.700/troy ons.

Pada 08.00 WIB, harga emas dunia di pasar spot per ons-nya dibanderol US$ 1.713,98. Harga pagi ini lebih rendah 0,23% dibanding harga emas kemarin yang ditutup di US$ 1.717,69 untuk ukuran 1 troy ons. Kemarin harga logam mulia ini melesat 2% dalam sehari.

Salah satu faktor yang membuat harga emas betah di harga sekarang adalah rilis data pengangguran AS. Berdasarkan data Departemen Ketenagakerjaan AS, jumlah orang yang mengajukan klaim pengangguran di AS mencapai 3,2 juta. Sehingga dalam sebulan terakhir angka pengangguran di AS sudah mencapai 33,3 juta orang. Angka yang fantastis memang.

Hal ini mengindikasikan bahwa ekonomi Negeri Adidaya benar-benar luluh lantak akibat merebaknya wabah Covid-19. Hingga hari ini, Paman Sam masih menjadi negara episentrum wabah Covid-19 dengan jumlah infeksi mencapai angka 1,26 juta kasus dan lebih dari 75 ribu orang terenggut nyawanya.

Investor juga tengah menanti data penciptaan lapangan kerja AS yang akan dirilis nanti malam pukul 19.30 WIB. Berdasarkan survei yang dilakukan Reuters kepada para ekonom, angka hilangnya pekerjaan AS pada April 2020 diperkirakan mencapai 22 juta. Angka ini jauh lebih banyak dari krisis keuangan 2008 silam yang hanya mencapai 800.000 saja.

Dengan potensi masih terus berlanjutnya gelombang tsunami PHK di AS, pelaku pasar memperkirakan bank sentral dan pemerintah akan terus menggelontorkan stimulus, sehingga hal ini menjadi kabar baik untuk harga emas.

Di sisi lain, emas yang merupakan aset minim risiko (safe haven) menjadi banyak dilirik di tengah kondisi perekonomian global yang sedang diterpa badai. Akibatnya harga emas jadi melambung seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

“Anda melihat angka pengangguran [AS] yang tinggi dan mungkin ini memberikan Anda sinyal untuk mencari aset-aset yang aman” kata Michael Matousek, kepala trader di Global Investors AS, melansir Reuters.

Harga emas juga ogah untuk merosot lebih dalam lantaran radar investor masih menangkap adanya kemungkinan meletusnya perang dagang antara Washington dengan Beijing mengingat Trump masih terus menyalahkan China atas pandemi yang sekarang terjadi dan terus berupaya menjatuhkan China.

Namun disisi lain, kebijakan pelonggaran lockdown membuat sebagian investor mulai optimistis wabah corona (covid-19) mulai bisa di atasi. Ini menumbuhkan harapan, periode terparah dari pandemi corona mulai berlalu. Jalan untuk menuju pemulihan ekonomi mulai terlihat.
TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/hps)