Mentok di US$ 1.700, Harga Emas Kapan Naik Lagi? - PT Rifan

Foto: Harga Emas Meroket di Thailand. IAP/Sakchai Lalit)

PT Rifan  – Harga logam mulia emas dalam periode perdagangan 3 hari terakhir cenderung stagnan di US$ 1.700/troy ons. Sentimen campur aduk (mixed) menjadi faktor yang memberatkan harga emas untuk kembali melambung walau potensinya ada.

Rabu (6/5/2020), pukul 09.13 WIB harga emas dunia di pasar spot turun 0,21% dari posisi kemarin ke US$ 1.702,38/troy ons.

Di sepanjang pekan ini harga emas cenderung ditutup di sekitar level psikologis US$ 1.700/troy ons. Walaupun trennya harga emas cenderung tergelincir di awal perdagangan, tetapi ditutup kembali mendekati level psikologis tersebut di akhir perdagangan.

Sejatinya harga emas masih berpotensi untuk naik ke level psikologis selanjutnya di US$ 1.800. Potensi penguatan ini tak terlepas dari banjir stimulus fiskal pemerintah global maupun kelonggaran moneter yang diambil oleh bank sentral.

“Ada banjir stimulus di sekitar sistem, bank sentral akan menjadi sangat longgar, suku bunga akan menjadi nol selama bertahun-tahun dan pasar saham masih sangat fluktuatif. Jadi semua itu membuat emas semakin menarik dengan penurunan [ekonomi] global sudah di depan mata, “kata Edward Meir, analis di ED&F Man Capital Markets, sebagaimana diwartakan Reuters.

“Emas terus mengikuti level $ 1.700/troy ons … Pelonggaran kuantitatif dan stimulus fiskal yang belum pernah terjadi sebelumnya telah memberikan latar belakang positif untuk emas, tetapi pasar fisik masih sangat lemah,” kata analis Standard Chartered dalam sebuah catatan.

Bukan hanya masalah kelonggaran moneter yang diambil bank sentral dan stimulus fiskal saja yang membuat harga emas berpotensi untuk naik lagi, kembalinya perseteruan sengit antara Paman Sam dengan China juga masih menimbulkan ketidakpastian.

Donald Trump selaku presiden Negeri Adidaya terus menerus menyalahkan China atas keterbukaan dan penanganan wabah Covid-19 yang akhirnya memicunya menjadi pandemi global. Trump gusar karena pandemi ekonomi AS pun terkoyak.

Trump pun kembali memilih untuk memusuhi Beijing. Kali ini bukan hanya tarif saja yang siap dinaikkan, tetapi Negeri Hollywood itu juga bersiap untuk menghapus rantai pasok global dari China sebagai pemegang kendalinya.

Di sisi lain sentimen pelonggaran lockdown di berbagai negara di dunia juga jadi sentimen yang mengganjal emas untuk naik lebih tinggi. Italia dan Amerika Serikat (AS) merupakan contoh negara yang untuk sementara melonggarkan lockdown sejak hari Senin kemarin (4/5/2020).

Italia, sebagai salah satu negara yang paling terpukul di dunia akibat pandemi Covid-19, sudah memperbolehkan  sekitar 4,5 juta orang untuk kembali bekerja setelah hampir dua bulan berada di rumah. Aktivitas konstruksi dapat dilanjutkan dan kerabat dapat mulai berkumpul kembali.

Di AS, dengan total kasus infeksi dan kematian tertinggi di dunia, masing-masing hampir 1,2 juta dan 68.000, untuk beberapa negara bagian dan wilayah seperti Ohio mulai melonggarkan pembatasan terutama untuk aktivitas bisnis.

Di New York, negara bagian AS yang paling terpukul, Gubernur Andrew Cuomo menjabarkan pembukaan kembali bisnis secara bertahap, dimulai dengan industri seperti konstruksi, dan wilayah yang paling tidak terkena dampak.

Selain Italia dan AS ada juga Spanyol, Portugal, Belgia, Finlandia, Nigeria, India, Malaysia, Thailand, Israel dan Lebanon yang juga menjadi negara-negara yang membuka kembali berbagai pabrik, lokasi konstruksi, taman, salon penata rambut, dan perpustakaan.

Pelonggaran lockdown ini dipicu oleh peningkatan harian dalam kasus pandemi Covid-19 di seluruh dunia yang lebih rendah dari pertengahan Maret. Peningkatan harian dalam sepekan terakhir mencapai laju 2% -3%, turun dari sekitar 13% pada pertengahan Maret.

Turut menjadi pengganjal kenaikan harga emas lainnya adalah penguatan dolar AS. Maklum emas ditransaksikan dalam dolar AS, sehingga ketika dolar AS menguat maka harga emas menjadi lebih mahal. Penguatan dolar AS tercermin dari naiknya indeks dolar 0,11% hari ini.

Di balik sentimen yang campur aduk ini, analis masih memandang bullish untuk harga emas. Bank of America (BofA) memperkirakan harga emas bisa mencapai US$ 2.000/troy ons untuk periode 18 bulan ke depan.
TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)

Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan