Santai! Emas Melemah, tapi Pasang Kuda-kuda untuk Melesat - PT Rifan Financindo

Foto: Emas Batangan ditampilkan di Hatton Garden Metals, London pada 21 July 2015 (REUTERS/Neil Hall/File Photo)

PT Rifan Financindo Mengawali pekan ini, logam mulia emas diperdagangkan dengan harga yang lebih rendah dibanding harga penutupan pekan lalu. Namun prospek emas dinilai masih bullish, dan berpotensi untuk kembali menguat.

Senin (27/4/2020), harga emas global di pasar spot dibanderol US$ 1.722,19/troy ons atau turun 0,3%. Walau turun harga emas masih bertengger di rentang level tertingginya dalam tujuh tahun.

Apabila dicermati lebih lanjut, penurunan harga emas cenderung diikuti dengan penguatan harga menuju rekor tertinggi baru setelahnya. Hal ini mengindikasikan bahwa emas masih menjadi instrumen investasi yang sangat menarik.

Ketika harga turun, momen ini dimanfaatkan investor dan trader untuk membeli emas sehingga memicu penguatan harga. Banyak yang memandang harga emas akan bullish. Saat ini level psikologis US$ 1.700 per ons sudah tertembus.

Melihat pola pergerakan harga emas, level US$ 1.800 bukan tak mungkin akan segera tercapai. Pekan lalu Bank of America (BofA) bahkan memiliki outlook lebih bullish untuk harga emas. Untuk 18 bulan ke depan, BofA memandang harga emas bisa mencapai US$ 3.000 per ons.

Faktor pemicu mengapa emas berpotensi untuk semakin menguat adalah stimulus fiskal dan moneter yang digelontorkan oleh pemerintah dan bank sentral saat ini.

“Kami telah melihat QE dan stimulus fiskal yang belum pernah terjadi sebelumnya secara global terus menurunkan suku bunga. Kami melihat sedikit pemulihan di pasar energi, yang mulai melihat inflasi sedikit pulih, yang membawa suku bunga riil lebih rendah. Itulah yang utama tesis investasi untuk emas, “kata Ryan McKay seorang strategi komoditas di TD Sekuritas dalam sebuah catatan.

“Kami akan terus berdagang emas, apalagi setelah aksi jual baru-baru ini kami lakukan pada hari Jumat. Saya pikir kami akan lebih tinggi minggu depan. Penggerak utama benar-benar tidak berubah,” tambahnya.

Pekan ini semua mata akan kembali menyorot perekonomian Negeri Paman Sam. Pada Rabu pekan ini AS akan merilis dua angka keramat. Pertama pertumbuhan ekonomi pada kuartal I dan suku bunga acuan bank sentral, The Fed.

Ekonomi AS diramal mengalami kontraksi pada kuartal pertama tahun ini sebesar 4%. Namun The Fed dinilai akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level sekarang dengan target 0-0,25%. Hanya saja The Fed akan terus memberikan pinjaman layaknya bank dan memompa uang ke perekonomian melalui QE.

Kondisi ekonomi yang masih dipenuhi prospek suram membuat investor menyelamatkan diri dan memburu emas. Walau AS berencana untuk membuka kembali perekonomiannya. Namun kepala CDC Robert Redfield sudah mewanti-wanti bahwa gelombang kedua wabah siap menghampiri AS dan dampaknya akan jauh lebih berat.

Faktor ini lah yang membuat aset safe haven ini mejadi digemari. Tergelincirnya harga emas hanya dijadikan momentum investor untuk masuk dan membeli emas sehingga mendorong harga emas menguat lagi bahkan lebih tinggi dari rekor sebelumnya. Bisa dibilang saat ini emas sedang ‘merendah untuk meroket’

 TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)