Slip Sedikit, Harga Emas Diyakini Bakal di Atas Rp 2 juta/gr - Rifan Financindo

Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

Rifan Financindo – Harga emas kembali melesat dan menyentuh rekor tertingginya, tetapi harus rela terkoreksi pada perdagangan pagi ini. Akhir-akhir ini banyak yang memprediksi harga emas akan terus cetak rekor tertinggi baru.

Pertanyaannya kemudia, ada apa sebenarnya sehingga banyak yang memprediksi harga emas dunia bisa melesat lagi?

Pada Jumat (24/4/2020) logam mulia emas di pasar spot dihargai US$ 1.723,27/troy ons. Sehari sebelumnya harga emas ditutup di level US$ 1.731,33/troy ons. Artinya harga emas tergelincir 0,47%. Ada indikasi profit taking mengingat harga emas baru saja menyentuh level tertinggi barunya. Walau tergelincir harga bullion masih berada di level tertingginya dalam 7,5 tahun.

Harga emas diramal oleh Bank of America (BofA) bisa menyentuh level US$ 3.000 per ons troy dalam periode 12-18 bulan ke depan.

Bahkan ada yang meramal lebih gila lagi. Ole Hansen, Kepala Ahli Strategi Komoditas di Saxo Bank, memprediksi dalam jangka panjang emas akan di atas US$ 4.000/troy ons atau sekitar Rp 2 juta/gram (kurs: Rp 15.500/US$).

Semua memang sedang melihat outlook bullish pada harga emas. Dalam sebuah laporan yang berjudul “The Fed Can’t Print Gold”, BofA menjelaskan alasan dibalik outlook bullish-nya terhadap logam mulia emas di tahun ini.

“Karena output perekonomian terkontraksi tajam, pengeluaran fiskal melonjak, dan neraca bank sentral berlipat ganda, mata uang fiat bisa berada di bawah tekanan,” kondisi ini akan memicu investor untuk beralih ke emas sehingga permintaannya naik dan harga melambung tinggi.

Kalau dicermati, kondisi yang saat ini terjadi memang mendukung harga emas untuk merangkak naik ke level yang lebih tinggi. Emas sebagai aset safe haven akan banyak diburu ketika kondisi ekonomi diterjang badai seperti sekarang ini ketika ada pandemi COVID-19 yang merebak di seluruh penjuru dunia.

Kurang lebih dua pekan lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) merilis sebuah laporan yang memperkirakan dampak dari pandemi COVID-19 akan menyeret perekonomian global ke dalam resesi yang dalam. IMF memprediksi output perekonomian global akan mengalami kontraksi sebesar 3% di tahun ini. Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath bahkan mengatakan resesi yang dialami tahun ini akan lebih besar dari resesi pada 2008 silam.

Harga emas juga mendapat dukungan dari berbagai stimulus fiskal jor-joran yang dilakukan oleh pemerintah di berbagai negara untuk meredam dampak COVID-19. Stimulus ini pada akhirnya akan memicu pelebaran defisit anggaran dari berbagai negara di penjuru dunia.

Langkah bank sentral di negara-negara maju yang memangkas suku bunga acuan hingga mendekati nol persen memang berpotensi memicu terjadinya inflasi. Ketika inflasi terjadi maka terjadi penurunan nilai dari aset atau uang yang dipegang.

Emas yang diyakini sebagai aset lindung nilai (hedge) akan laris manis diboyong oleh pembelinya. Selain itu program pembelian aset finansial (QE) oleh bank sentral yang nilainya gila-gilaan akan membuat neraca otoritas moneter menjadi berlipat ganda.

Pembelian aset finansial berupa surat utang pemerintah hingga obligasi korporasi oleh bank sentral akan membuat yield instrumen investasi berbasis utang tersebut turun dan membuat emas semakin di lirik.

Itulah mengapa BofA mematok target harga bullion setinggi itu. BofA memperkirakan rata-rata harga emas di tahun ini mencapai US$ 1.695 per ons dan US$ 2.063 per ons pada 2021.

Namun BofA juga menjelaskan ada beberapa faktor lain yang berpotensi menghambat kenaikan harga emas seperti keperkasaan dolar AS, volatilitas di pasar keuangan yang cenderung mereda dan permintaan perhiasan di India serta China yang melemah.
TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)

Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan