Rifan Financindo

Foto : CNBC Indonesia

Rifan Financindo – Alarm resesi kini muncul di dunia, terutama di sejumlah negara besar dunia. Corona (COVID-19) bukan hanya membatasi gerak manusia tapi juga membuat terbatasanya gerak ekonomi.

Resesi juga bahkan dipercaya sudah terjadi di AS. Setidaknya 45 ekonom, yang disurvei Asosiasi Nasional untuk Ekonomi Bisnis (National Bureau of Economic Research/ NABE), percaya ekonomi AS sudah berada dalam resesi.

“Para ekonom memperkirakan akan ada resesi yang tajam dan sementara untuk paruh pertama 2020 akibat pandemi virus corona (COVID-19) sangat membatasi aktivitas ekonomi,” kata lembaga itu, sebagaimana dilaporkan Reuters, Senin (13/4/2020).

Menurut NABE, pertumbuhan ekonomi kemungkinan akan turun 2,4% pada kuartal pertama dan akan menurun lagi 26,5% pada kuartal kedua.Memang banyak yang mendefinisikan resesi sebagai kontraksi pertumbuhan ekonomi dua kuartal berturut-turut. Namun NABE mendefinisikan lain.

Di mana resesi sebagai penurunan tajam keseluruhan aktivitas ekonomi yang berlangsung lebih dari beberapa bulan. Beberapa tanda resesi bisa dilihat dari pasar keuangan maupun indikator lain seperti data ekonomi di Negeri Paman Sam.

Tanda pertama datang dari pasar saham AS. Biasanya saat resesi terjadi pasar saham AS mengalami tekanan jual yang masif dan anjlok signifikan.

Hal yang sama pun terjadi saat wabah corona merebak. Indeks S&P 500 sudah anjlok lebih dari 20% dari level tertingginya kemarin.

Tanda kedua datang dari inversi kurva imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor panjang dan tenor pendek. Seharusnya obligasi pemerintah bertenor panjang memiliki imbal hasil yang lebih tinggi.

Namun karena adanya kecemasan dalam jangka pendek, maka surat utang pemerintah bertenor pendek mengalami tekanan jual yang masif sehingga imbal hasilnya naik signifikan. Ini juga terjadi di AS kini.

Tanda ketiga datang dari data perekonomian. Pada bulan Maret 2020, angka Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur AS berada di 48,5.

Angka pembacaan di bawah 50 mengindikasikan sektor tersebut mengalami kontraksi. Dengan angka tersebut artinya sektor manufaktur AS mengalami kontraksi di bulan Maret.

Resesi juga diidentikkan dengan banyaknya pengangguran. Dan, corona telah menciptakan gelombang tsunami PHK menghampiri para karyawan di AS.

Terakhir adalah upaya The Fed, bank sentral AS, menyelamatkan perekonomian. The Fed membabat habis suku bunga acuan (Federal Fund Rate) ke target 0-0,25%, terendah sejak krisis 2008

Sebelumnya, Prancis melalui Menteri Keuangan Bruno Le Maire, negara ini sudah mengakui adanya ancaman resesi di depan mata.

“Angka pertumbuhan [ekonomi] terburuk sejak 1945 adalah -2,2% pada 2009, setelah krisis keuangan 2008,” ujarnya dikutip dari AFP pekan kemarin.

“Kita mungkin akan sangat jauh melampaui standar -2,2% tahun ini.”

Ekonomi Prancis memang diprediksi akan berkontraksi di 2020 ini. Sebelum corona menyerang ekonomi sempat diramal di sekitar 1,3-1,5%.

Warning IMF
Selain itu, Dana Moneter internasional (IMF) juga kerap mengingatkan bahwa ada krisis ekonomi, yang lebih buruk dari krisis yang pernah terjadi sebelumnya.Peringatan ini disampaikan dengan mempertimbangkan kerusakan yang telah ditimbulkan pandemi corona (COVID-19) sejauh ini.

“Dunia harus bersiap untuk kejatuhan ekonomi terburuk sejak Great Depression,” kata Kepala IMF Kristalina Georgieva, sebagaimana dikutip AFP pekan kemarin.

Great Depression sendiri adalah krisis ekonomi yang muncul di AS, yang terjadi berkepanjangan selama satu dekade dari 1929 hingga 1939.

Georgieva mengatakan pertumbuhan global akan berubah menjadi negatif tajam pada tahun 2020 ini. Di mana 170 dari 180 anggota IMF akan mengalami penurunan pendapatan perkapita.

Bahkan dalam skenario terbaik, IMF melihat pemulihan parsial (sebagian) dunia baru akan terjadi 2021.

Itu pun dengan asumsi bahwa virus ini memudar di 2020, dan membuat bisnis berjalan normal di tengah penguncian wilayah (lockdown) yang dilakukan banyak negara untuk menahan penyebaran.

“(Tapi) itu bisa menjadi lebih buruk,” katanya lagi. “Ada ketidakpastian yang luar biasa di sekitar prospek dan durasi pandemi.”

“Prospek suram berlaku untuk ekonomi maju dan berkembang. Krisis ini tidak mengenal batas. Semua orang sakit.”

“Proses penyembuhan tergantung tindakan tegas yang diambil sekarang,” ujar Georgieva lagi. I

IMF sebelumya telah menggelontorkan dana hingga US$ 1 triliun untuk 90 negara anggota yang membutuhkan pembiayaan darurat.

Ini bukan pertama kalinya orang nomor satu di IMF tersebut bicara kehawatiran akan situasi global. Sebelumnya, di akhir Maret, ia pun pernah berujar soal resesi.

“Kami menyatakan bahwa dunia sekarang dalam resesi,” katanya saat itu.

Sebelumnya, dalam laporan bertajuk “Global Macro Outlook 2020-21″, lembaga pemeringkat Moodys pernah menggarisbawahi bahwa corona bakal menyebabkan guncangan ekonomi global, yang belum pernah terjadi sebelumnya, khususnya ke negara-negara G-20.

G-20 sendiri adalah gabungan 19 negara dan bank sentral, dengan Uni Eropa. Termasuk negara G-20 adalah Argentina, Australia, Brazil, Kanada, China, Prancis, Jerman, India.

Adapun di sejumlah negara Eropa, Moody’s menuliskan ada potensi kontraksi secara kumulatif pada kuartal I-2020 dan kuartal II-2020. “Jerman sebesar 5,4%, Italia 4,5%, AS 4,3%, Inggris 3,9% dan Prancis 3,5%. (sef/sef)