PT Rifan Financindo

Ilustrasi Dolar AS (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

PT Rifan Financindo – Rekor baru tercipta di Amerika Serikat (AS), meski bukan sesuatu yang patut disyukuri. Gara-gara wabah virus corona, semakin banyak jumlah pengangguran di Negeri Paman Sam.

Pada pekan yang berakhir 21 Maret, jumlah klaim tunjangan pengangguran (unemployment benefits) mencapai 3,28 juta. Ini jauh melebihi konsensus pasar yang dihimpun Reuters yaitu 1 juta. Plus menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.

“Kenaikan klaim tunjangan pengangguran yang begitu tinggi bukannya tidak terduga, karena merupakan dampak dari penghentian aktivitas di sebagian wilayah AS untuk menanggulangi virus corona.

Hal ini sudah diantisipasi dalam paket stimulus yang disetujui Senat, di mana salah satu program yang akan diberikan adalah perluasan perlindungan, bantuan tunai US% 1.200 untuk warga dengan penghasilan maksimal US$ 75.000/tahun.

Lebih penting lagi, paket stimulus tersebut akan menyediakan bantuan bagi dunia usaha untuk mempertahankan karyawannya.

Jadi secepat mungkin kita akan dapat kembali ke kondisi ekonomi yang kuat seperti beberapa pekan lalu,” papar Eugene Scalia, Menteri Ketenagakerjaan AS, seperti dikutip dari keterangan tertulis.

Ya, virus corona memang membuat AS kacau-balau. Mengutip data satelit pemetaan ArcGis pada Jumat (27/3/2020) pukul 00:26 WIB, jumlah pasien corona di AS mencapai 75.233 orang, tertinggi ketiga di dunia setelah China dan Italia. Sementara korban meninggal akibat virus corona di AS adalah 1.070 orang.

Untuk mengurangi ruang gerak penyebaran virus corona, berbagai negara bagian menerapkan karantina wilayah (lockdown). Warga tidak boleh keluar rumah kecuali untuk urusan mendesak. Restoran tidak boleh melayani makan/minum di tempat, kantor dan pabrik ditutup sementara, warga dilarang berkumpul, pokoknya sudah seperti suasana perang di mana darurat militer (martial law) berlaku.

Tujuan dari kebijakan seperti ini adalah menekan risiko penularan virus dan menyelamatkan nyawa. Namun harga yang harus dibayar adalah perlambatan aktivitas ekonomi secara signifikan.

Pembatasan aktivitas masyarakat membuat penjualan mobil di AS anjlok. Data JD Power menyebutkan, penjualan mobil pada pekan yang berakhir 22 Maret turun 22% secara nasional.

Akibatnya, berbagai dealer mobil terpaksa merumahkan (furlough) sebagian karyawan. Misalnya Group 1 Automotive Inc yang merumahkan 3.000 karyawan selama 30 hari, yang bisa diperpanjang selama 30 hari lagi. Ini sebagai dampak penjualan yang diperkirakan turun 50-75% pada Maret.

So, tidak heran semakin banyak warga AS yang mengambil tunjangan pengangguran. Virus corona telah merenggut mata pencarian mereka. Coronavirus took their jobs

Powell Saja Sudah Ngomong Resesi…

Oleh karena itu, omongan soal risiko resesi di AS semakin kentara. Teranyar, yang mengatakan hal itu bukan orang sembarangan yaitu Jerome ‘Jay’ Powell, Ketua Bank Sentral AS alias The Federal Reserve/The Fed.

“AS mungkin akan mengalami resesi. Ini bukan perlambatan ekonomi biasa, tidak ada yang salah dengan fundamental ekonomi kita. Aktivitas ekonomi akan menurun signifikan sampai kuartal II, tetapi saya rasa banyak yang memperkirakan akan kembali pulih pada semester II.

“Apabila kita bisa melalui periode ini dan membuat penyebaran virus lebih terkendali, maka kita akan pulih lebih cepat. Jadi prioritas utama adalah mengendalikan penyebaran virus, dan kemudian baru melanjutkan aktivitas ekonomi,” jelas Powell dalam wawancara di Today Show yang ditayangkan NBC, sebagaimana dikutip dari Reuters.

The Fed cabang New York dan Cleveland secara berkala memproyeksi probabilitas resesi di Negeri Paman Sam. Pembacaan terbaru layak dikhawatirkan.

The Fed Cleveland memperkirakan kemungkinan resesi di AS pada Februari 2021 adalah 32,89%, naik dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 27,36%. Sementara The Fed New York meramal kans resesi pada Februari 2021 adalah 30,73%, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 25,2%.

Probabilitas resesi memang semakin tinggi. Survei Reuters yang melibatkan 40 ekonom pada 19 Maret menunjukkan peluang resesi di AS dalam 12 bulan ke depan mencapai 80%. Padahal survei serupa dua minggu sebelumnya hanya menghasilkan median 30%.

Reuters

“Kami malah meyakini AS saat ini sudah resesi. Meski kontraksi ekonomi sepertinya akan signifikan, tetapi sifatnya temporer. Kami memperkirakan ekonomi akan kembali tumbuh pada kuartal III-2020,” kata Michelle Meyer, Ekonom Bank of America Merrill Lynch, seperti dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA (aji)

Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan