Usai Tertinggi 7 Tahun, Siap-siap Emas Tembus Rekor Lagi

PT Rifan Financindo
Foto: Karyawan menunjukkan emas batangan yang dijual di Butik Emas, Sarinah, Jakarta Pusat, Senin (17/9/2018). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

PT Rifan Financindo – Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu kemarin (19/2/2020) setelah sempat menembus ke atas US$ 1.600/troy ons pada Selasa pekan ini. Harga logam mulia ini juga mencapai level penutupan tertinggi sejak Maret 2013 atau tertinggi dalam 7 tahun.

Pada pukul 14:03 WIB Rabu kemarin, harga emas diperdagangkan di level US$ 1.603,77/troy ons, menguat 0,13% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Penguatan harga emas dipicu “produk turunan” dari wabah virus Corona yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan menjangkiti lebih dari 75.000 orang di berbagai negara.

Dari sisi makro, “produk turunan” virus corona yakni risiko terjadinya resesi, sementara dari sisi mikro penurunan pendapatan perusahaan. Setidaknya ada tiga negara yang berisiko mengalami resesi, yakni Singapura, Jerman, dan Jepang. Ketiganya memiliki hubungan erat dengan China.

Pemerintah Singapura di awal pekan ini memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Mengutip Reuters, Singapura memprediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2020 ada di kisaran -0,5%-1,5%. Padahal sebelumnya, pemerintah memproyeksikan, pertumbuhan di kisaran 0,5%-2,5%.

Setelah Singapura, Jerman juga sudah waspada. Pertumbuhan ekonomi Negeri Panser di kuartal IV-2019 stagnan alias tidak tumbuh dari kuartal sebelumnya. Pada tahun lalu, Jerman sudah nyaris mengalami resesi akibat perang dagang AS dengan China.

Selanjutnya Jepang, negara dengan nilai ekonomi terbesar ketiga di dunia, yang sudah dekat dengan resesi.

Perekonomian Jepang berkontraksi tajam di kuartal IV-2019, bahkan menjadi yang terdalam sejak 6 tahun terakhir. Data dari Cabinet Office menunjukkan produk domestic bruto (PBD) kuartal IV-2019 berkontraksi 1,6% quarter-on-quarter(QoQ), menjadi yang terdalam sejak kuartal II-2014.

Sementara itu raksasa teknologi asal AS, Apple Inc. menyatakan pendapatan di kuartal II tahun fiskal 2020 akan lebih rendah dari prediksi sebelumnya akibat wabah Covid-19, yang menyebabkan gangguan suplai serta penurunan penjualan di China. Apple sebelumnya memberikan prediksi penjualan bersih akan mencapai US$ 63 miliar sampai US$ 67 miliar.

Apple Inc. merupakan perusahaan dengan kapitalisasi pasar lebih dari US$ 1,3 triliun. Sebagai perbandingan nilai perekonomian Indonesia di tahun 2018 sebesar US$ 1,042 triliun, masih di bawah kapitalisasi pasar Apple.

Di tahun yang sama, nilai ekonomi AS sebagai yang terbesar di dunia sebesar US$ 20,5 triliun, itu artinya kapitalisasi pasar perusahaan pembuat iPhone ini sekitar 6,3% dari nilai ekonomi AS.

Tidak hanya itu melansir Investopedia yang melihat data World Bank, hanya ada 14 negara yang nilai ekonominya lebih besar dari Apple.

Maka ketika Apple mengumumkan kemungkinan penurunan pendapatan akan memberikan dampak buruk ke sentimen pelaku pasar. Apalagi banyak perusahaan yang bermitra dengan Apple di berbagai negara, sehingga bursa saham global akan terguncang.

Akibatnya pelaku pasar mengalihkan investasinya ke aset aman (safe haven) seperti emas. Harga logam mulai ini melesat naik 1,32% ke US$ 1,601,66/troy ons, pada perdagangan Selasa lalu dan masih berlanjut hingga memasuki perdagangan sesi Eropa Rabu kemarin.

Dalam kesempatan sebelumnya, Ross Norman mantan CEO Sharps Pixely, salah satu broker emas terbesar di London, memprediksi harga emas dunia bisa mencapai rekor tertinggi sepanjang masa US$ 2.080/troy ons di tahun ini, dengan level terendah di US$ 1.520/troy ons. Rata-rata harga emas di tahun ini diramal di level US$ 1.755/troy ons.

TIM RISET CNBC INDONESIA (tas/tas)

Sumber : CNBC
Baca Juga :

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.