Virus Corona Dikabarkan Ada Obatnya, Emas Malah Melemah - PT Rifan

Foto: Dok Freepik

PT Rifan – Harga emas yang sempat menguat di awal perdagangan Rabu (5/2/2020), tetapi setelah adanya kabar obat untuk virus corona, logam mulia ini berbalik melemah.

Harga emas sebelumnya sempat menguat 0,63% ke US$ 1.562/troy ons di pasar spot, melansir data Refinitiv. Namun, tiba-tiba berbalik melemah 0,35% ke level US$ 1.546,9/troy ons setelah Reuters melaporkan TV di China mengabarkan tim peneliti di Universitas Zhenjiang telah menemukan obat yang efektif untuk menyembuhkan virus corona.

Selain China, CNBC International yang mengutip Sky News melaporkan ilmuan di Imperial College London telah membuat terobosan signifikan dalam pembuatan vaksin virus corona.

Kabar tersebut sontak membuat pelaku pasar gembira, dan masuk kembali ke aset-aset berisiko. Bursa saham Eropa menghijau, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,81%, CAC 40 Prancis dan DAX 30 masing-masing Jerman melesat lebih dari 1%.

Bursa berjangka AS juga menghijau, indeks Dow Jones Futures naik 0,8%, yang mengindikasikan Wall Street juga akan melesat naik begitu perdagangan dibuka nanti.

Meski demikian penurunan harga emas sedikit tertahan dan berada US$ 1.552,02/troy ons pada pukul 20:50 WIB setelah Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menurunkan euforia pelaku pasar. WHO mengatakan “belum diketahui” ada pengobatan yang dapat menyembuhkan virus corona.

Bukan hanya hari ini emas mengalami tekanan, dalam dua hari terkahir aset yang menyandang status safe haven ini melemah 2,38%. Sebabnya, kebijakan bank sentral China (People’s Bank of China/PBoC) serta data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang bagus membuat emas tertekan.

CNBC International melaporkan, Senin lalu PBoC menurunkan suku bunga reverse repo tenor 7 hari menjadi 2,4%, sementara tenor 14 hari diturunkan menjadi 2,55% guna meredam gejolak finansial yang terjadi akibat virus corona. Selain itu dalam 2 hari terakhir PBoC menyuntikkan likuiditas senilai 1,7 triliun yuan (US$ 242,74 miliar) melalui operasi pasar terbuka.

Kebijakan PBoC tersebut membuat selera terhadap risiko (risk appetite) pelaku pasar membaik, akibatnya daya tarik aset aman (safe haven) menjadi menurun, emas pun jeblok.

Sementara itu, data dari AS menunjukkan aktivitas manufaktur berekspansi untuk pertama kalinya setelah mengalami kontraksi lima bulan beruntun

Institute for Supply Management (ISM) melaporkan purchasing managers’ index (ISM) bulan Januari naik menjadi 50,9 dari bulan sebelumnya 47,2. PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di atas 50 berarti ekspansi, sementara di bawah berarti kontraksi.

Rilis data tersebut terbilang mengejutkan mengingat polling Reuters memprediksi kenaikan hanya ke 48,5 atau masih berkontraksi. Ekspansi sektor manufaktur tentunya menjadi kabar bagus bagi ekonomi AS memasuki tahun 2020, yang tentunya mengecilkan peluang suku bunga di AS kembali dipangkas, dan dolar AS menjadi perkasa.

Peluang dipangkasnya suku bunga yang mengecil, serta dolar yang perkasa menjadi kombinasi yang memberatkan bagi emas dunia.

Emas dunia merupakan aset tanpa imbal hasil juga dibanderol dengan dolar AS. Penurunan suku bunga di AS memberikan keuntungan bagi investornya karena menurunkan opportunity cost atau biaya yang ditanggung karena memilih investasi emas, dibandingkan investasi lainnya, misalnya obligasi AS.

Selain itu, penurunan suku bunga oleh The Fed juga membuat dolar AS tertekan. Di kala dolar AS melemah, maka harga emas akan menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga permintaannya berpotensi meningkat. Sebaliknya jika suku bunga tidak dipangkas, dolar AS berpotensi menguat dan permintaan emas berisiko menurun. Intinya harga emas cenderung tertekan jika dolar AS menguat.

TIM RISET CNBC INDONESIA  (pap/pap)

Sumber : CNBC
Baca Juga :