Buat Lesu, Corona Sukses Buat Minyak Anjlok Lebih dari 4% - Rifan Financindo

Foto: Ilustrasi: Minyak mengalir keluar dari semburan dari sumur 1859 asli Edwin Drake yang meluncurkan industri perminyakan modern di Museum dan Taman Drake Well di Titusville, Pennsylvania AS, 5 Oktober 2017. REUTERS / Brendan McDermid / File Foto

Rifan Financindo Dalam sepekan terakhir harga minyak mentah anjlok. Virus corona yang makin tak terkendali membuat pelaku pasar mencemaskan dampak negatifnya ke perekonomian.

Seminggu ini, pasar masih dihebohkan dengan kasus virus corona yang jumlahnya terus bertambah. Harga-harga komoditas anjlok, tak terkecuali harga minyak mentah. Harga minyak mentah kontrak futures ditutup melemah pada periode perdagangan Jumat (31/1/2020).

Kalau dilihat secara mingguan, harga minyak melorot lebih dari 4%. Minyak Brent ambles 4,2% (wow) sementara minyak acuan AS yakni WTI anjlok lebih dalam hingga 4,8%. Pada hari perdagangan terakhir, harga minyak Brent ditutup di US$ 58,15/barel dan minyak WTI di US$ 51,56/barel.


Virus corona memang sudah pada fase mengkhawatirkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mendeklarasikan situasi darurat global merespons penyebaran virus corona yang semakin meluas.

Mengacu pada data dashboard John Hopkins CSSE yang di-update hari ini, saat ini sudah ada 27 negara yang positif terjangkit virus ini. Sudah ada 14.514 kasus yang dilaporkan. Jumlah korban meninggal mencapai 304 orang. Sementara jumlah orang yang dikabarkan sembuh ada 342.

Kejadian ini telah menyita perhatian seluruh dunia. Akibat epidemi ini rantai pasok jadi terganggu dan sektor transportasi terkontraksi. Akibatnya mulai banyak ekonom yang meramal ekonomi China dalam bahaya.

Bank investasi global Goldman Sachs memperkirakan wabah ini dapat memukul perekonomian Negeri Panda hingga 0,4 persen poin pada 2020. Penurunan ekonomi China juga akan dirasakan oleh Paman Sam.

Reuters melaporkan, Goldman Sachs menyebut ekonomi AS juga akan kena imbasnya dan berpotensi turun 0,4 persen poin pada kuartal pertama tahun ini. Namun ekonomi AS berhasil kembali pulih dan dampaknya ke perekonomian AS dalam satu tahun 2020 tak terlalu signifikan.

Wabah virus corona juga berpotensi memangkas kebutuhan minyak China hingga 250.000 barel per hari (bpd).

“Dapat dipastikan (wabah) virus corona akan menurunkan pertumbuhan ekonomi China dan permintaan terhadap komoditas pada kuartal ini” kata analis Capital Economics dalam sebuah catatan.

Saat ini organisasi negara pengekspor minyak dan koleganya yang tergabung dalam OPEC+ tengah mempertimbangkan kemungkinan untuk memperpanjang periode pemangkasan produksi minyak hingga lebih dari Maret.

OPEC+ juga terbuka terhadap opsi untuk memangkas produksi minyaknya lebih dalam jika memang kondisi yang terjadi di China berpengaruh signifikan terhadap permintaan minyak.

Dalam pertemuan terakhir OPEC+ yang diselenggarakan di Vienna awal Desember lalu, organisasi sepakat untuk memangkas produksi minyak 1,7 juta bpd untuk menjaga stabilitas pasar.
TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)

Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan