Jelang Formalisasi Damai Dagang, Bursa Saham Asia Terkoreksi - PT Rifan Financindo

Foto: Bursa Tokyo (REUTERS/Issei Kato)

PT Rifan Financindo Bursa saham utama kawasan Asia mengawali perdagangan ketiga di pekan ini, Rabu (15/1/2020), di zona merah.

Pada pembukaan perdagangan, indeks Nikkei turun 0,42%, indeks Shanghai terkoreksi 0,12%, indeks Straits Times melemah 0,12%, dan indeks Kospi jatuh 0,41%.

Pelaku pasar saham Benua Kuning kini menantikan formalisasi kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China. Melansir CNBC International, AS dan China dijadwalkan untuk menandatangani kesepakatan dagang tahap satu pada hari Rabu (15/1/2020) di AS.

Melansir Reuters, sebanyak lebih dari 200 undangan telah disebar untuk seremoni penandatanganan kesepakatan dagang tahap satu. Seremoni penandatanganan kesepakatan dagang akan digelar di Washington, tepatnya di Gedung Putih.

Menurut Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, komitmen China terkait kesepakatan dagang tahap satu tidaklah berubah dalam proses penerjemahan teks kesepakatan dagang yang panjang.

“Itu (komitmen dari China) tidaklah berubah dalam proses penerjemahan,” kata Mnuchin dalam acara “Sunday Morning Futures with Maria Bartiromo”, seperti dilansir dari Reuters.

“Kami telah melalui proses penerjemahan yang saya rasa kita sebut sebagai permasalahan teknis.”

Menurut Mnuchin, teks kesepakatan dagang kedua negara akan dirilis pada pekan ini, tepatnya pada hari penandatanganan.

“Dan orang-orang dapat melihatnya. Ini adalah kesepakatan yang sangat menyeluruh,” sebut Mnuchin.

Menjelang formalisasi damai dagang antar kedua negara, justru ada perkembangan yang kurang mengenakan. Melansir Bloomberg, bea masuk yang dibebankan AS terhadap produk impor asal China kemungkinan akan tetap diberlakukan hingga pemilihan presiden di AS selesai dilakukan. Pemberitaan dari Bloomberg tersebut mengutip orang-orang yang mengetahui jalannya negosiasi dagang antar kedua negara.

Lebih lanjut, upaya untuk mengurangi bea masuk terhadap produk impor asal China akan bergantung kepada kepatuhan China terkait dengan komitmen yang mereka sepakati dalam kesepakatan dagang tahap satu.

Sebagai catatan, pemangkasan bea masuk untuk produk impor asal China senilai US$ 120 miliar (dari 15% menjadi 7,5%) tetap akan dieksekusi pasca kesepakatan dagang tahap satu diteken.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/ank)