Berkilau Lagi di Awal 2020, Harga Emas Siap ke US$ 1.600/oz? - PT Rifan Financindo

Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

PT Rifan Financindo – Harga emas dunia menguat di perdagangan pertama tahun 2020, Kamis (2/1/2020) setelah bersinar terang di tahun 2019. Sepanjang tahun lalu harga emas tercatat menguat 18,26%, mengakhiri 2019 di level US$ US$ 1.517,01/troy ons.

Bahkan di awal September lalu, logam mulia ini sempat melesat lebih dari 22% ke level US$ 1.577/troy ons, yang menjadi level tertinggi dalam lebih dari enam tahun terakhir.  Memasuki 2020, emas kembali berkilau, Kamis (2/1/2020) pukul 20:22 WIB  diperdagangkan di level US$ 1,524,96/troy ons, menguat 0,53% di pasar spot, melansir data Refinitiv.


Emas bahkan masih mampu menguat di saat kesepakatan dagang fase I Amerika Serikat (AS) dengan China tidak lama lagi akan diteken. Presiden AS, Donald Trump melalui akun Twitternya mengatakan kesepakatan itu akan diteken pada 15 Januari. Melalui akun Twitternya, Trump mengatakan kesepakatan dagang fase I akan diteken pada 15 Januari 2020.

“Saya akan menandatangani perjanjian Fase I yang sangat besar dan komprehensif dengan China pada 15 Januari. Seremoni akan dilakukan di Gedung Putih. Delegasi tingkat tinggi dari China akan datang. Selepas itu, saya akan datang ke Beijing dan memulai pembicaraan Fase II,” cuit Trump di Twitter.

Ketika perang dagang berakhir, pertumbuhan ekonomi global diharapkan bisa bangkit di tahun depan, dan aset-aset berisiko serta berimbal hasil tinggi akan menjadi target investasi, aset aman seperti emas yang juga tanpa imbal hasil menjadi tidak menarik lagi.

Emas kelihatannya akan tertekan dengan kondisi tersebut, tetapi justru memberikan kejutan. Perang dagang AS-China memang kemungkinan besar akan berakhir, dan pertumbuhan ekonomi global diharapkan akan bangkit. Tetapi benar atau tidaknya perekonomian akan bangkit tentunya memerlukan bukti dari data-data ekonomi yang akan dirilis nantinya.

Tanpa adanya ada bukti, bangkitnya pertumbuhan ekonomi masih sebatas ekspektasi. Oleh karena itu, emas masih cukup kuat bertahan di tengah euforia kesepakatan dagang fase I.

Di sisi lain, ekspektasi membaiknya pertumbuhan ekonomi global membuat mata uang utama serta emerging market menguat melawan dolar AS, yang merupakan banderol harga emas. Ketika dolar AS melemah, maka harga emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, dampaknya permintaan emas berpotensi meningkat.

Kesepakatan dagang fase I memberikan efek positif juga bagi emas. Pola pergerakan emas ini sebelumnya sudah diprediksi oleh analis Goldman Sachs, Mikhail Sprogis, yang memprediksi harga emas masih akan mencapai level US$ 1.600/troy ons.

Tanda-tanda emas masih bersinar dimata para pelaku pasar terlihat dari peningkatan kepemilikan aset di SPDR Gold Trust, ETF berbasis emas terbesar di dunia.

CNBC International mewartakan, pada Jumat (27/12/2019) kepemilikan di SPDR Gold Trust naik 0,1% ke menjadi 893,25 ton, dan menjadi yang tertinggi sejak 29 November. Sepekan sebelumnya, total kepemilikan aset juga mengalami kenaikan sebesar 0,3%.

Selain itu, data Commodity Futures Trading Commission’s (CFTC) menunjukkan volume net buy emas pada pekan lalu sebanyak 286.3000 kontrak, sama dengan pekan sebelumnya. Posisi net buy yang tidak mengalami penurunan di saat bursa saham AS terus mencetak rekor tertinggi memberikan gambaran investor masih percaya emas akan kembali bersinar.

Sejauh ini, selain Goldman Sachs, UBS Group AG dan Citigroup juga memprediksi harga emas akan mencapai US$ 1.600/troy ons di tahun 2020.

TIM RISET CNBC INDONESIA (pap/pap)