AS-China Sudah Damai tapi Masih Banyak Hal yang Samar

AS-China Sudah Damai tapi Masih Banyak Hal yang Samar - PT Rifan Financindo Berjangka
Foto: Infografis/Perang Dagang AS-China/Edward Ricardo

PT Rifan Financindo Berjangka – Kesepakatan perdagangan fase pertama antara Amerika Serikat (AS) dan China telah terealisasi, Sabtu pekan lalu.

Hal itu terungkap melalui cuitan Presiden AS Donald Trump di Twitter pribadinya. Menjelang tengah malam, tepatnya pada 10.25 WIB, 14 Desember kemarin, Trump mencuit bahwa kesepakatan besar untuk fase pertama sudah tercapai dengan China.

“Mereka setuju terhadap banyak perubahan struktural dan pembelian produk pertanian, produk energi dan manufaktur yang masif, serta masih banyak lagi,” tulis presiden kontroversial itu.

Lebih lanjut, Trump mengatakan China akan membeli US$ 50 miliar produk pertanian AS dengan segera. Sementara itu, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer mengatakan kepada wartawan bahwa China akan membeli setidaknya US$ 16 miliar lebih banyak produk pertanian setiap tahunnya selama dua tahun ke depan. Sehingga, pada tahun 2020 sampai 2021 jumlah total pembelian bisa mendekati US$ 50 miliar.

Namun ternyata, beberapa pihak, termasuk pemerintah China mempertanyakan kepastian dari pernyataan AS itu. Salah satunya adalah Ting Lu, Kepala Ekonom China di Nomura, dan timnya. Mereka mengatakan jumlah pembelian China yang disebutkan AS itu terlalu besar dan sulit dipenuhi.

“Skala pembelian itu tampaknya tidak masuk akal dan para pejabat China enggan menyebutkan target spesifik selama konferensi pers mereka,” kata mereka dalam sebuah catatan yang dirilis.

Selain itu, tuntutan utama lainnya dari AS dalam perang dagang mereka yaitu mengurangi defisit perdagangan, nampaknya semakin sulit terpenuhi. Ini dikarenakan perang dagang kedua ekonomi terbesar di dunia itu telah menyebabkan nilai perdagangan kedua negara menurun akibat tarif yang mereka terapkan.

Pada tahun 2018, China menempati urutan kelima sebagai tujuan teratas untuk ekspor pertanian AS, yaitu mencakup sebesar US$ 9,2 miliar. “Jumlah itu menandakan China turun dari posisi kedua setahun sebelumnya, menurut data Layanan Pertanian Asing di Departemen Pertanian AS (USDA),” sebagaimana dikutip CNBC International.

Kekhawatiran lainnya, tarif yang AS tunda penerapannya pada barang-barang China masih membayangi. Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa AS akan mempertahankan tarif 25% atas sekitar US$ 250 miliar impor China, bersama dengan bea masuk 7,5% atas sekitar US$ 120 miliar impor negeri tirai bambu.

Lebih lanjut, kedua belah pihak juga masih perlu menandatangani teks perjanjian, yang menurut pejabat China masih membutuhkan tinjauan hukum dan terjemahan.

Sebelumnya, Lighthizer mengatakan kedua negara berharap dapat menandatangani kesepakatan di Washington pada awal Januari. Dia juga menekankan AS tidak akan memberlakukan tarif baru selama China bernegosiasi dengan itikad baik.
 (sef/sef)

Sumber : CNBC
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.