Resesi AS Jadi Ancaman, Harga Emas Masih Kuat Naik - Rifanfinancindo

Foto: Ist

Rifanfinancindo – Koreksi harga emas global di pasar spot rupanya hanya terjadi sehari saja. Pada perdagangan Kamis (15/8/19) siang ini harga emas kembali menguat.

Setelah cukup lama bergerak di kisaran US$ 1.500, kemarin siang emas akhirnya melesat diperdagangkan di kisaran US$ 1.521,12/troy ons berdasarkan data investing.com.

Melihat grafik harian, emas yang disimbolkan XAU/USD masih bergerak di atas rerata pergerakan (Moving Average/MA) MA 8 hari (garis biru), dan MA 21 hari (garis merah), dan atas MA 125 hari (garis hijau).

Indikator rerata pergerakan konvergen divergen (MACD) di wilayah positif dan bergerak naik, histogram juga di area positif namun bergerak menurun. Indikator ini masih memberikan gambaran peluang penguatan emas dalam jangka menengah.

Pada time frame 1 jam, emas bergerak di atas MA 8, dan MA 125 namun bawah MA 21. Indikator stochastic bergerak naik dan memasuki wilayah jenuh beli (overbought).

Indikator terakhir tersebut membuka peluang koreksi harga emas, khususnya selama tertahan di bawah resisten (tahanan atas) US$ 1.524.

Support (tahanan bawah) berada di kisaran US$ 1.515 akan menjadi penahan penurunan pertama harga emas. Jika support ditembus, logam mulia berpotensi terkoreksi ke level US$ 1.508.

Sebaliknya, jika resisten US$ 1.524 berhasil ditembus, emas berpeluang besar naik ke level US$ 1.530.

Harga emas sempat terkoreksi setelah Presiden AS Donald Trump menunda kenaikan bea impor produk China. Namun kabar tersebut seakan sirna dan ditutupi isu resesi di negeri Paman Sam.

Inversi yield obligasi AS menjadi penyebab menguatnya kembali isu resesi. Inversi merupakan keadaan di mana yield atau imbal hasil obligasi tenor pendek lebih tinggi daripada tenor panjang. Dalam situasi normal, yield obligasi tenor pendek seharusnya lebih rendah.

Inversi menunjukkan bahwa risiko dalam jangka pendek lebih tinggi ketimbang jangka panjang. Oleh karena itu, inversi kerap dikaitkan dengan pertanda resesi.

Inversi terjadi pada yield obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 2 tahun dengan tenor 10 tahun. Ini adalah inversi pertama untuk dua tenor tersebut sejak Juni 2007, atau beberapa bulan sebelum meletusnya krisis keuangan global.

Akibat inversi tersebut aset-aset berisiko menjadi rontok, dan aset aman atau safe haven seperti emas menguat tajam. Bursa saham AS berguguran pada perdagangan Rabu kemarin, dan diikuti dengan bursa saham Asia pada perdagangan hari ini.

Data dari Credit Suisse menunjukkan sejak tahun 1978 terjadi lima kali inversi yield Treasury tenor 2 tahun dan 10 tahun dan semuanya merupakan awal terjadinya resesi. Rata-rata resesi akan terjadi 22 bulan setelah inversi tersebut muncul, sebagaimana dikutip CNBC International.

Pasca munculnya inversi tersebut, pelaku pasar semakin yakin bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) agresif dalam memangkas suku bunga di tahun ini. Berdasarkan piranti FedWatch milik CME Group menunjukkan probabilitas suku bunga 1,25%-1,5% sebesar 41,6%.

Probabilitas tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan dengan probabilitas suku bunga yang lainnya. Jika melihat suku bunga di AS saat ini 2%-2,25%, hal ini berarti The Fed diprediksi akan memangkas suku bunga sebanyak tiga kali lagi, jika pemangkasan dilakukan masing-masing 25 basis poin (bps).

Pemangkasan 25 bps akan dilakukan pada bulan depan dengan probabilitas sebesar 69,6%, dan juga ada probabilitas sebesar 30,4% suku bunga akan dipangkas 50 bps, berdasarkan data dari piranti FedWatch.

Emas merupakan aset tanpa imbal hasil, juga aset lindung nilai terhadap inflasi sehingga penurunan suku bunga oleh The Fed akan menguntungkan bagi emas karena opportunity cost yang berkurang.

Bank sentral melonggarkan kebijakan moneter guna menambah likuiditas di pasar. Harapannya saat likuiditas bertambah, roda perekonomian bergerak lebih kencang, rata-rata upah meningkat, belanja konsumen naik, dan pada akhirnya inflasi terkerek naik.

Nah, ketika ada ekspektasi percepatan laju inflasi, emas akan kembali diuntungkan akibat atribut yang dimiliki sebagai aset lindung nilai terhadap kenaikan harga-harga. Jumlahnya yang terbatas membuat emas menjadi instrumen lindung inflasi yang sempurna.

Berdasarkan background tersebut, outlook kenaikan harga emas kembali menguat setelah mengalami aksi jual masif dua hari lalu. Apakah ini tanda-tanda “semesta memberkati” kenaikan harga emas?

Seputar perang dagang, tim perunding China menyatakan akan membuka peluang kompromi dengan pemerintah AS terkait dengan isu perdagangan. Ini bisa menjadi sentimen baru bagi harga emas.

Hua Chunying, juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan Negeri Tirai Bambu itu berharap pemerintah AS akan “melanjutkan pembicaraan dengan Beijing yang sudah separuh jalan dan mengimplementasikan konsensus yang dicapai kedua belah pihak di Osaka, Jepang”. (sef/sef)

Sumber : CNBC

Rifanfinancindo
PT Rifan Financindo
Rifanfinancindo