Bara Perang Dagang Masih Panas, Bursa Saham Asia Berguguran - Rifanfinancindo

Foto: Bursa Asia (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Rifanfinancindo Bursa saham utama kawasan Asia ditransaksikan di zona merah pada awal pekan ini. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei jatuh 1,95%, indeks Shanghai melemah 0,79%, indeks Hang Seng anjlok 1,98%, indeks Straits Times turun 1,64%, dan indeks Kospi terkoreksi 2,12%.

Kicauan Presiden AS Donald Trump di Twitter masih sukses dalam memantik aksi jual dengan intensitas yang besar di bursa saham Benua Kuning. Pada hari Kamis (1/8/2019), Trump mengumumkan bahwa AS akan mengenakan bea masuk baru senilai 10% bagi produk impor asal China senilai US$ 300 miliar yang hingga kini belum terdampak perang dagang. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada tanggal 1 September. Kacaunya lagi, Trump menyebut bahwa bea masuk baru tersebut bisa dinaikkan hingga menjadi di atas 25%.

“AS akan mulai, pada tanggal 1 September, mengenakan bea masuk tambahan dengan besaran yang kecil yakni 10% terhadap sisa produk impor asal China senilai US$ 300 miliar yang masuk ke negara kita,” cuit Trump melalui akun @realDonaldTrump.

Pengumuman dari Trump ini datang pasca dirinya melakukan rapat dengan Menteri keuangan AS Steven Mnuchin dan Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer terkait dengan hasil negosiasi di Shanghai pada pekan kemarin.

China pun akhirnya dibuat panas dan angkat bicara terkait dengan serangan terbaru dari Trump. Beijing menyebut bahwa pihaknya tak akan tinggal diam menghadapi “pemerasan” yang dilakukan AS, serta memperingatkan akan adanya serangan balasan.

“Jika AS benar mengeksekusi bea masuk tersebut maka China harus meluncurkan kebijakan balasan yang diperlukan guna melindungi kepentingan-kepentingan kami yang mendasar,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying, dilansir dari Reuters.

Ketika perang dagang AS-China tereskalasi, laju perekonomian keduanya, berukit perekonomian global, akan semakin tertekan.

Selain bara perang dagang AS-China yang masih panas, sentimen negatif bagi bursa saham Asia datang dari rilis data ekonomi yang mengecewakan. Pada pagi hari ini, Services PMI China versi Caixin periode Juli 2019 diumumkan di level 51,6, lebih rendah dari konsensus yang sebesar 52, seperti dilansir dari Trading Economics.

Kemudian di Hong Kong, Manufacturing PMI periode Juli 2019 diumumkan oleh Markit di level 43,8, turun jauh dibandingkan capaian bulan Juni yang sebesar 47,9, dilansir dari Trading Economics.

Jangan lupa juga, hingga kini aksi protes besar-besaran di Hong Kong masih juga terjadi. Aksi protes ini dilakukan untuk menuntut pemerintah Hong Kong melakukan reformasi, pasca sebelumnya pemerintahan Carrie Lam mengajukan rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi yang mendapatkan kecaman dari berbagai elemen masyarakat Hong Kong. (ank/ank)