President and Portfolio Manager of Paulson & Co. John Paulson speaks during the Sohn Investment Conference in New York, May 16, 2012. The Sohn Conference Foundation is dedicated to the treatment and cure of pediatric cancer and other childhood diseases. REUTERS/Eduardo Munoz (UNITED STATES - Tags: BUSINESS) - GM1E85H0I9201 - PT Rifan Financindo Berjangka

Foto: Presiden dan Manajer Portofolio Paulson & Co. John Paulson (REUTERS/Eduardo Munoz)

PT Rifan Financindo Berjangka – Investor legendaris, hedge fund, sekaligus triliuner dunia John Alfred Paulson, memperkirakan harga emas saat ini berada dalam tren naik alias bullish akibat tekanan tingkat inflasi yang tinggi.

Berbicara di Bloomberg TV, Paulson bahkan merekomendasikan membeli emas untuk saat ini. Paulson dikenal sebagai manajer hedge fund miliarder Amerika Serikat. Dia memimpin Paulson & Co., perusahaan manajemen investasi yang berbasis di New York yang dia dirikan pada 1994.

“Saat inflasi meningkat, investasi yang logis adalah emas,” kata Paulson, dikutip Selasa (30/8/2021).

Inflasi di AS saat ini memang sedang tinggi-tingginya. Sebab itu, Paulson mengatakan inflasi tersebut sebagai permulaan dan masih akan menanjak lagi. Negara-negara lain yang menerapkan kebijakan moneter ultra longgar juga berpotensi mengalami kenaikan inflasi.

Saat itu terjadi, maka emas akan diuntungkan. Paulson juga mengatakan pada tahun 1970-an, harga emas meroket akibat inflasi yang mencapai 2 digit.

Berdasarkan data Refinitiv di akhir 1969 harga emas berada di kisaran US$ 35/troy ons, kemudian sepanjang 1970 terus mengalami kenaikan hingga mencapai puncaknya pada 18 Januari 1980 di US$ 835/troy ons yang menjadi rekor tertinggi sepanjang masa selama 27 tahun.

Sepanjang tren kenaikan tersebut, harga emas dunia meroket nyaris 2.300%.

Harga emas dunia 1970-1980
Foto: Harga emas dunia 1970-1980
Harga emas dunia 1970-1980

Sementara itu dalam beberapa pekan terakhir, isu tapering (pengurangan pembelian aset oleh bank sentral AS, The Fed) sebelumnya membuat harga emas kesulitan untuk menguat.

Sebab itu, simposium Jackson Hole di AS pada Jumat pekan lalu (27/8) pun menjadi perhatian pelaku pasar, sebab ketua bank sentral AS (The Fed) Jerome Powell, diperkirakan akan memberikan detail kapan dan bagaimana tapering akan dilakukan.

Benar saja, Powell memberikan petunjuk. Tapering akan dilakukan sebelum akhir tahun ini. Tetapi, harga emas bukannya merosot malah meroket. Sebabnya, Powell menegaskan setelah tapering dilakukan, bukan berarti suku bunga akan dinaikkan.

“Waktu mengurangi pembelian aset tidak berarti menjadi pertanda waktu kenaikan suku bunga. Keduanya merupakan hal yang berbesar secara substansial,” kata Powell dalam pertemuan Jackson Hole, dikutip CNBC International.

Alhasil, meski tapering dilakukan di tahun ini, tetapi harga emas masih mampu menanjak, sebab suku bunga rendah 0,25% kemungkinan masih akan ditahan dalam waktu yang lama.

Selain QE (quantitative easing) lewat tapering, suku bunga rendah merupakan salah satu penopang kenaikan harga emas. The Fed sebelumnya memproyeksikan suku bunga baru akan dinaikkan pada tahun 2023.

Pada perdagangan Selasa kemarin (30/8), harga emas dunia naik lagi setelah terkoreksi di awal pekan ini. Pergerakan tersebut menjadi indikasi membaiknya sentimen terhadap emas sejak simposium Jackson Hole Jumat pekan lalu. Saat itu, harga emas melesat 1,37%.

Pada pukul 12:20 WIB, Selasa kemarin, harga emas dunia diperdagangkan di kisaran US$ 1.815,14/troy ons, menguat 0,27% di pasar spot. Senin, logam mulia ini turun 0,28%.

Adapun pada perdagangan Selasa malam pukul 21.43 WIB, harga emas dunia di pasar spot diperdagangkan di level US$ 1.812/troy ons.

emas
Foto: Refinitiv
emas

Sebelumnya banyak analis yang memprediksi harga emas akan mengalami penurunan tajam. Tetapi pascasimposium Jackson Hole di AS pekan lalu, “kutukan” tersebut berakhir.

Sebelumnya Wang Tao analis komoditas dari Reuters, juga menjadi salah satu yang memprediksi emas akan jeblok, menggunakan analisis teknikal.

Tetapi, Wang kini memperkirakan gejolak harga emas sepertinya tidak akan terlalu tinggi. Menurutnya, harga akan bergerak cenderung stabil di atas titik support (batas bawah) US$ 1.808/troy ons dan kemudian mencoba menguji titik resistance (batas atas) US$ 1.826/troy ons.

“Harga emas sudah sepertinya sudah mematahkan tren penurunan. Harga akan bangkit ke kisaran US$ 1.808/troy ons dan mungkin bisa menuju ke US$ 1.856-1.904/troy ons,” sebut Wang dalam risetnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA (tas/tas)

Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan