FILE PHOTO: Gold bullions are displayed at GoldSilver Central's office in Singapore June 19, 2017. Picture taken June 19, 2017.  REUTERS/Edgar Su/File Photo - PT Rifan Financindo Berjangka

Foto: REUTERS/Edgar Su

PT Rifan Financindo Berjangka – Gerak emas masih cenderung terbatas. Si logam kuning itu masih sulit tembus level psikologis US$ 1.750/troy ons dan terombang-ambing di sekitar US$ 1.730/troy ons.

Pagi ini, Selasa (6/4/2021) harga emas di pasar spot mengalami kenaikan. Hanya saja kenaikannya tak terlalu mencolok. Emas berada di US$ 1.732/troy ons atau menguat 0,21% dibanding posisi penutupan kemarin.

Momentum pelemahan dolar AS serta penurunan yield obligasi pemerintah Paman Sam mendorong harga emas untuk naik. Indeks dolar kini sudah berada di level 92,6 setelah sebelumnya tembus level 93.

Sementara itu yield surat utang pemerintah Paman Sam yang tadinya sempat tembus 1,75% kini melandai dan turun ke bawah 1,7%. Penurunan kedua aset keuangan ini membuat biaya peluang memegang emas yang tak berimbal hasil menjadi turun.

Setidaknya untuk satu bulan ke depan dolar AS diperkirakan bakal naik. Reuters mengadakan polling terhadap ahli strategi valuta asing (valas), dari 56 yang disurvei sebanyak 48 orang atau 85% memperkirakan dolar AS masih akan kuat setidaknya 1 bulan lagi.

Dari 48 orang tersebut, sebanyak 11 orang memprediksi penguatan dolar AS akan berlangsung dalam 3 hingga 6 bulan ke depan, sementara 16 orang mengatakan akan berlangsung lebih dari 6 bulan lagi.

Kenaikan dolar berpeluang kembali menekan emas. Apalagi naiknya dolar dikaitkan dengan prospek perekonomian Paman Sam yang lebih cerah. Emas yang merupakan aset minim risiko bisa semakin tak menarik di mata investor.

Kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang dibarengi dengan berbagai stimulus turut mendongkrak ekspektasi inflasi serta pertumbuhan ekonomi. Risk appetite investor bisa semakin membuncah dan berburu aset-aset berisiko.

Namun di tengah prospek yang positif dan ekspektasi inflasi tinggi, The Fed selaku bank sentral AS kemungkinan tidak akan tergesa-gesa melakukan pengetatan moneter lewat tapering atau menaikkan suku bunga acuan.

Inilah yang membuat banyak orang mencari alternatif aset lain untuk lindung nilai (hedging). Salah satunya dengan membeli Bitcoin. Aset digital ini semakin populer di kalangan investor institusi.

Laporan JP Morgan menunjukkan bahwa sejak bulan kesepuluh tahun lalu terjadi outflow dari aset emas senilai US$ 20 miliar dan ada inflow ke aset berbasis Bitcoin senilai US$ 7 miliar. Ini menunjukkan bahwa investor mulai meninggalkan emas dan lari ke Bitcoin.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)

Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan