President Joe Biden recovers after stumbling while boarding Air Force One at Andrews Air Force Base, Md., Friday, March 19, 2021. Biden is en route to Georgia. (AP Photo/Patrick Semansky) - PT Rifan Financindo

Foto: AP/Patrick Semansky

PT Rifan Financindo – Emas mengalami nasib terburuknya dalam lebih dari 4 tahun terakhir di kuartal pertama. Harga si logam kuning itu di arena pasar spot melemah 10% sepanjang 3 bulan pertama tahun ini.

Memasuki awal kuartal kedua harga emas cenderung berada di level US$ 1.730/troy ons atau naik setelah ambles ke US$ 1.685/troy ons. Pada perdagangan ketiga bulan April ini harga emas cenderung stagnan.

Senin (5/4/2021), harga emas di pasar spot dibanderol di US$ 1.728,65/troy ons atau tidak jauh berbeda dengan posisi penutupan akhir pekan lalu.

Pekan ini sentimen terhadap emas cenderung terpecah. Analis Wall Street cenderung bullish sementara investor main street cenderung bearish. Hal ini terlihat dari hasil survei yang dilakukan oleh Kitco.

Sebanyak 11 dari 15 analis Wall Street atau 73% dari responden yang disurvei memperkirakan harga emas bakal naik. Berbeda dengan Wall Street, investor main street malah bearish, karena mayoritas responden sebanyak 44% meramal harga emas bakal turun.

Yield obligasi pemerintah AS dan greenback masih harus terus dipantau. Kombinasi keduanya bisa membuat pasar saham serta harga emas mengalami koreksi. Di sisi lain prospek perekonomian Paman Sam yang lebih cerah berpeluang menaikkan dolar AS.

Sepekan lalu indeks yang mengukur posisi greenback terhadap enam mata uang lain tersebut mengalami kenaikan 0,28%.

Kenaikan greenback juga disebabkan karena data ketenagakerjaan yang ciamik. Data Jumat menunjukkan angka penciptaan lapangan kerja AS non-pertanian melonjak 916.000. Ini merupakan kenaikan terbesar sejak Agustus lalu.

Data untuk Februari direvisi naik dan menunjukkan 468.000 lapangan pekerjaan baru, bukan dari 379.000 yang dilaporkan sebelumnya. Data ketenagakerjaan yang apik menjadi sentimen positif untuk dolar AS.

Tak hanya data ketenagakerjaan saja, rencana Presiden AS Joe Biden untuk membangun infrastruktur senilai US$ 2 triliun juga dinilai akan meningkatkan output perekonomian Paman Sam sebesar 0,5 sampai 1 poin persentase pada 2022.

Kendati masih terkendala di level legislatif, tetapi outlook perekonomian yang lebih baik bisa mendorong penguatan dolar dan berakhir akan menekan emas yang memiliki korelasi negatif dengan greenback.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)